Ada Fenomena Inverted Yield Curve, Purbaya Tegaskan RI Tak Resesi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan fenomena inverted yield curve yang terjadi saat ini bukanlah tanda bahwa Indonesia sedang mengalami resesi ekonomi.
Inverted yield curve adalah kondisi kondisi ketika imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) jangka pendek lebih tinggi dibandingkan imbal hasil tenor jangka panjang.
Purbaya mengatakan, kondisi tersebut terjadi saat ini karena adanya intervensi kebijakan Bank Indonesia (BI) yang secara sengaja dengan menaikkan suku bunga instrumen jangka pendek. Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menarik aliran modal asing masuk.
“Yield curve kita di sini enggak selalu sama dengan di buku-buku teori, bahwa kalau inverted berarti suku bunga jangka panjang akan turun, bank sentral akan turunkan bunga karena ekonominya resesi. Itu kalau dibiarkan market based,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA, Jumat (5/6).
Pada kondisi saat ini, menurut dia, imbal hasil jangka pendek memang didorong naik oleh BI melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sedangkan yield tenor panjang lebih banyak dibentuk oleh mekanisme pasar.
“Yang jangka pendek kan dinaikkan BI sengaja lewat SRBI, akhirnya inverted. Tapi bukan menggambarkan itu akan resesi karena enggak pure market condition yang menjalankan itu,” katanya.
Di banyak negara, kondisi inverted yield curve sering dianggap sebagai sinyal perlambatan ekonomi atau bahkan resesi karena pasar memperkirakan bank sentral akan menurunkan suku bunga di masa depan untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Namun, Purbaya menilai kondisi di Indonesia berbeda karena dipengaruhi kebijakan moneter aktif dari BI untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah. Ia meminta investor dan pelaku pasar tidak hanya melihat teori secara tekstual tanpa memahami faktor di balik pergerakan kurva imbal hasil.
“Inverted tidak selalu menggambarkan kalau kurvanya dimainkan bukan market based. Jadi itu yang harus dimengerti oleh para investor,” katanya.
Menurut Purbaya, fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih kuat dan belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang mengarah ke resesi.
“Fondasinya ekonomi kita bagus dan tidak membutuhkan suku bunga yang rendah sekali gara-gara kita memasuki masa resesi. Kita masih ekspansi bahkan ekspansinya mengalami akselerasi,” ujarnya.