Jusuf Kalla: Mal Ramai Bukan Jaminan Daya Beli Masyarakat Masih Kuat

ANTARA FOTO/Rakha Raditya Yahya/hma/bar
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla.
Editor: Agustiyanti
9/6/2026, 18.06 WIB

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kall menilai kondisi pelemahan daya beli masyarakat tidak bisa sakadar diukur dari ramainya pusat perbelanjaan atau mal. Indikator ekonomi riil harus dilihat lebih dalam, termasuk aktivitas di pasar tradisional hingga pola konsumsi masyarakat.

JK mengatakan, banyak pihak yang selama ini keliru memahami istilah “pasar” sebatas pasar modal atau bursa saham. Padahal, menurut dia, pasar fisik seperti Pasar Senen, Tanah Abang, hingga pasar sentral di Makassar justru lebih mencerminkan kondisi daya beli masyarakat secara nyata. 

“Orang selalu hanya berpikir pasar modal. Padahal, pasar itu juga pasar fisik, seperti Pasar Senen, Tanah Abang, atau pasar sentral di Makassar,” ujar JK dalam seminar publik kebijakan ekonomi dan manajemen krisis, Selasa (9/6).

Ia menegaskan bahwa ramainya mal juga belum tentu menjadi tanda ekonomi masyarakat dalam kondisi baik. Masyarakat datang ke mal bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk makan, berjalan-jalan, hingga mencari tempat yang sejuk dan nyaman.

“Kalau mau lihat apakah daya beli turun, lihat berapa banyak orang di mal yang membawa tas belanja. Saya lihat justru yang paling ramai itu lantai kuliner,” katanya.

Selain itu, menurut JK, pasar modal lebih dipengaruhi faktor kepercayaan investor terhadap prospek keuntungan perusahaan di masa depan. Ketika pelaku pasar memperkirakan keuntungan sektor tertentu akan menurun, maka saham perusahaan akan ikut tertekan. 

“Kalau pasar modal itu soal kepercayaan. Orang percaya nanti untung atau tidak. Sekarang orang berpikir ekonomi akan turun, maka saham-saham perbankan atau tambang ikut turun,” jelasnya.

Sementara itu, pasar riil atau pasar fisik sangat bergantung pada kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurut JK, indikasi melemahnya ekonomi juga bisa terlihat dari meningkatnya angka kriminalitas yang dipicu pengangguran dan sulitnya masyarakat memperoleh pekerjaan 

“Kalau lihat di TV kenapa banyak kriminalitas, begal, pencurian? Itu berarti banyak pengangguran, banyak orang tidak punya pekerjaan,” ujarnya.

JK menilai kondisi tersebut harus segera dicari jalan keluarnya agar tidak memicu persoalan sosial yang lebih besar. Ia juga menekankan pentingnya peran universitas dalam mencerdaskan masyarakat sekaligus memberikan masukan kepada pemerintah untuk menghadapi tantangan ekonomi.

“Universitas harus mencerdaskan bangsa dan memberikan pemikiran kepada masyarakat maupun pemerintah agar masalah-masalah seperti ini bisa diatasi,” kata JK.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah