Bank Dunia Proyeksi Ekonomi RI Melambat Tahun Ini, di Bawah Target Purbaya
Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi 5% pada tahun ini dibandingkan tahun lalu yang mencapai 5,11%. Proyeksi ini dibawah target pemerintah sebesar 5,2% dan jauh dari target Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mendekati 6%.
“Pertumbuhan PDB diproyeksikan akan melambat menjadi 5% pada tahun 2026, seiring dengan tekanan eksternal yang membebani investasi dan ekspor, sebelum kemudian naik menjadi 5,2 persen pada tahun 2027–2028,” dikutip dari laporan Bank Dunia, Jumat (12/6).
Dalam laporannya, Bank Dunia menyebut kinerja kuartal pertama 2026 memang lebih kuat dari perkiraan serta tingginya konsentrasi belanja pemerintah pada awal tahun. Namun, kondisi tersebut belum mencerminkan perbaikan lingkungan eksternal maupun penurunan risiko ekonomi global secara signifikan.
Dari sisi permintaan domestik, konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap tumbuh sekitar 5% berkat dukungan stimulus fiskal. Sedangkan konsumsi pemerintah diproyeksikan meningkat lebih tinggi hingga 8,7%.
“Konsumsi swasta diperkirakan akan terus bertumbuh sekitar 5%, didukung oleh stimulus fiskal.” demikian penjelasan Bank Dunia.
Di sisi lain, Bank Dunia mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap belanja pemerintah sebagai penopang utama pertumbuhan jangka pendek memiliki risiko tersendiri karena ruang fiskal yang semakin terbatas dan meningkatnya beban subsidi.
Bank Dunia juga memperkirakan konflik geopolitik masih akan berlanjut sepanjang 2026 meskipun tetap terkendali. Situasi ini berpotensi mengganggu pasar energi dan rantai pasok global sehingga harga minyak mentah Brent diperkirakan bertahan di kisaran US$ 94 per barel, atau sekitar US$ 24 lebih tinggi dibanding asumsi yang digunakan dalam APBN 2026.
“Akan tetapi, ketergantungan terhadap konsumsi publik sebagai penyangga pertumbuhan jangka pendek juga disertai risiko, mengingat ruang fiskal yang terbatas dan beban subsidi yang meningkat di tengah peraturan fiskal yang berlaku,” tulis Bank Dunia.
Selain itu, kondisi moneter global diprediksi tetap ketat dengan tingkat imbal hasil obligasi yang tinggi serta premi risiko yang sensitif terhadap berbagai guncangan baru. Permintaan global juga diperkirakan melambat pada 2026 sebelum berangsur pulih pada 2027-2028.
Bank Dunia menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah sangat bergantung pada keberhasilan implementasi reformasi struktural. Pemulihan ekonomi pada 2027-2028 diperkirakan akan didukung oleh meredanya gangguan pasar komoditas, penguatan pertumbuhan kredit swasta, percepatan realisasi investasi Danantara, serta berbagai reformasi melalui pembentukan Satgas Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP).
Dalam laporannya, Bank Dunia menyebut potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah berada pada kisaran 4,2 persen. Pertumbuhan yang lebih tinggi saat ini masih banyak ditopang oleh stimulus dari sisi permintaan seperti insentif fiskal dan belanja pemerintah.
Bank dunia menilai tanpa reformasi yang mampu meningkatkan produktivitas, pertumbuhan yang didorong oleh stimulus dinilai sulit dipertahankan secara berkelanjutan.
Bank Dunia juga menyoroti sejumlah risiko yang dapat menekan prospek ekonomi Indonesia. Gangguan berkepanjangan terhadap pasokan minyak dan jalur pengiriman global dapat memicu kenaikan harga energi dan pupuk, memperbesar beban subsidi pemerintah, meningkatkan tagihan impor, serta menurunkan permintaan ekspor. Dalam skenario tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi turun sekitar 0,2 hingga 0,3 poin persentase pada 2027-2028.
Di tingkat domestik, reformasi struktural yang tidak berjalan optimal berisiko memperburuk kondisi pasar tenaga kerja, menghambat penciptaan lapangan kerja berkualitas bagi kelas menengah, serta menekan konsumsi rumah tangga.
Sebaliknya, prospek pertumbuhan dapat membaik apabila pemulihan pasokan minyak dan arus pengiriman global berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Harga minyak yang lebih rendah, membaiknya neraca perdagangan, dan meningkatnya kepercayaan investor berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 0,2-0,4 poin persentase pada 2026.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Bank Dunia merekomendasikan pemerintah memperkuat stabilitas makroekonomi, memperluas ruang fiskal, meningkatkan kualitas regulasi bagi dunia usaha, serta mendorong investasi swasta. Reformasi subsidi bahan bakar minyak, peningkatan kualitas investasi publik, dan pembenahan sektor logistik menjadi beberapa agenda prioritas yang dinilai dapat memperkuat daya saing ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
Bank Dunia juga menyoroti pentingnya peningkatan penerimaan negara. Pada 2025, rasio pajak Indonesia tercatat hanya 9,3% terhadap PDB, sedangkan defisit APBN meningkat menjadi 2,9% PDB. Karena itu, reformasi perpajakan dan perbaikan kualitas belanja negara dinilai menjadi kunci untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
“Pemulihan ruang fiskal dan peningkatan kualitas belanja negara akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan,” tulis Bank Dunia.