Rupiah Ditutup Melemah, Sempat Tembus Rp 18.000 per Dolar AS

Katadata/Fauza Syahputra
ilustrasi.
Editor: Agustiyanti
6/7/2026, 16.34 WIB

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 32 poin di level 17.995 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini, Senin (6/7). Kurs rupiah bahkan sempat menembus 18.000 per dolar AS siang ini tertekan sentimen dari dalam dan luar negeri. 

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah berada di 18.009 per dolar AS, melemah 46 poin atau 0,26% pukul 14.12 WIB. 

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membebani pergerakan pasar keuangan.

Dari sisi eksternal, tensi geopolitik kembali meningkat setelah Rusia melancarkan serangan rudal dan drone ke ibu kota Ukraina, Kyiv, menjelang pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Turki yang rencananya akan dihadiri Presiden Amerika Serikat Donald Trump. 

Ketidakpastian juga masih menyelimuti kawasan Timur Tengah. Meskipun pasokan minyak dunia mulai pulih, pasar masih mencermati situasi di Selat Hormuz setelah muncul pernyataan yang saling bertolak belakang dari Amerika Serikat dan Iran mengenai keamanan jalur pelayaran strategis tersebut.

Presiden AS Donald Trump menyatakan, Iran telah menyetujui hampir seluruh persyaratan yang dibutuhkan terkait jalur pelayaran tersebut. Namun, pejabat Iran menegaskan Teheran tidak akan melepaskan pengaruhnya atas Selat Hormuz maupun menerima syarat yang berkaitan dengan akses pelayaran.

Perbedaan sikap tersebut membuat ketidakpastian tetap tinggi dan membatasi penurunan harga minyak mentah, meskipun Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan produsen Teluk lainnya terus memulihkan ekspor minyak melalui jalur tersebut.

Dari Amerika Serikat, data tenaga kerja nonfarm payroll (NFP) Juni yang lebih lemah dari perkiraan memunculkan pertanyaan mengenai ruang Bank Sentral AS (Federal Reserve) untuk kembali menaikkan suku bunga. 

“Fokus minggu ini adalah pada risalah rapat Federal Reserve bulan Juni akan dirilis minggu ini, meskipun masih belum jelas seberapa banyak wawasan yang akan diberikannya, mengingat Ketua Fed baru Kevin Warsh menyerukan perombakan komunikasi bank sentral dengan publik,” kata Ibrahim.

Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari laporan terbaru Fitch Ratings yang menyoroti rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia, mulai dari pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa hingga derasnya arus modal keluar.

Menurut Ibrahim, perhatian utama Fitch bukan hanya pada indikator ekonomi tersebut, tetapi juga terhadap melemahnya kepercayaan investor akibat memburuknya tata kelola ekonomi. Lembaga pemeringkat itu memperingatkan tekanan yang berkepanjangan dapat meningkatkan biaya pinjaman pemerintah sekaligus memperbesar risiko terhadap penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia. 

Pada Maret 2026, Fitch masih mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB, tetapi merevisi prospeknya menjadi negatif.

Tekanan terhadap rupiah juga diperparah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Mei 2026 mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar, sekaligus mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan guna menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah stabilisasi dilakukan melalui intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, bank sentral juga memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi maupun pelaku pasar guna memastikan mekanisme pasar tetap berjalan dengan baik serta menjaga stabilitas sistem keuangan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah