KSSK Pede Ekonomi RI Berpeluang Tumbuh 6% Tahun Ini Meski AS-Iran Memanas

ANTARA FOTO/Fauzan/foc.
Ilustrasi.
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
3/8/2026, 17.29 WIB

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran 5,6% hingga 6% sepanjang 2026. Regulator tetap optimistis di tengah ketidakpastian global yang meningkat akibat eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, perekonomian domestik masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan eksternal. Konsumsi rumah tangga, investasi, hingga belanja pemerintah menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.

“Ke depan, sinergi kebijakan antara lembaga anggota KSSK akan terus diperkuat guna menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan," kata Purbaya dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala KSSK III 2026, di Jakarta, Senin (3/8).

Purbaya menjelaskan, tekanan eksternal kembali meningkat memasuki kuartal II 2026 seiring memanasnya konflik geopolitik yang memicu gangguan pasokan energi, kenaikan harga minyak dan komoditas strategis, serta meningkatkan risiko terhadap perdagangan dan rantai pasok global.

Ketua KSSK ini mengatakan, kondisi tersebut juga mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter di sejumlah negara maju. Di Amerika Serikat, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve meningkat seiring naiknya risiko inflasi dan ketidakpastian kebijakan perdagangan maupun fiskal.

“Kondisi tersebut mendorong volatilitas pasar keuangan global dan kembali memicu perilaku flight to safety, tercermin dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, serta tekanan terhadap arus modal di negara berkembang,” kata Purbaya.

Purbaya mengatakan, risiko global kembali meningkat setelah konflik AS-Iran kembali memanas memasuki Juli 2026. Padahal, situasi di Selat Hormuz sempat membaik menyusul kesepakatan sementara (interim deal) kedua negara pada pertengahan Juni.

Optimistis KSSK berbanding terbalik dibandingkan proyeksi terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) dalam pembaruan World Economic Outlook Juli 2026. IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3% pada 2026 dari sebelumnya 3,1% dalam proyeksi April.

Meski demikian, pemerintah menilai ekonomi Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat. KSSK memperkirakan konsumsi rumah tangga tetap terjaga berkat berbagai program perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja, serta stimulus selama periode libur sekolah.

Selain itu, investasi diperkirakan tetap tumbuh didorong proyek hilirisasi bernilai tambah tinggi dan pembangunan infrastruktur. Konsumsi pemerintah juga diperkirakan meningkat sejalan dengan percepatan belanja program prioritas, pembayaran gaji ke-13 aparatur negara, serta penyaluran bantuan sosial.

Purbaya mengatakan, koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas di sektor keuangan. Hal itu tercermin dari pertumbuhan uang primer yang mencapai 15,4% pada Juli 2026 dan membaiknya fungsi intermediasi perbankan.

Di sektor riil, aktivitas manufaktur juga disebut mulai menunjukkan perbaikan. Setelah sempat melambat pada akhir triwulan II, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia kembali berada di zona ekspansif pada level 50,2 pada Juli 2026.

“KSSK akan terus mencermati dan melakukan forward-looking assessment terhadap perkembangan ekonomi dan sektor keuangan di tengah ketidakpastian global yang meningkat, sekaligus melakukan langkah mitigasi secara terkoordinasi,” kata Purbaya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman