Harga Brent Turun ke US$ 78 per Barel di Tengah Sinyal Kemajuan Terbukanya Selat
Harga minyak dunia kembali turun di tengah meningkatnya optimisme adanya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dapat tercapai. Pasokan minyak yang selama ini tertahan di Teluk Persia diharapkan dapat kembali mengalir.
Harga minyak Brent turun 0,6% menjadi US$ 78,92 per barel pada pukul 08.12 waktu Singapura. Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,7% menjadi US$ 75,24 per barel.
Harga minyak telah merosot selama dua pekan terakhir setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda serangan baru terhadap Iran. Keputusan ini diambil guna memberikan lebih banyak waktu bagi proses perundingan.
Namun, sekalipun kesepakatan jangka pendek untuk menormalkan pelayaran komersial di Selat Hormuz tercapai, hal itu belum tentu mampu mengakhiri perang secara tuntas. Kesepakatan ini juga belum tentu menjawab kekhawatiran Trump terhadap program nuklir Iran.
Di sisi laun, Qatar menyatakan sebuah proposal sementara telah disusun perkembangan kesepakatan damai. AS maupun Iran sama-sama memberi sinyal adanya kemajuan dalam pembicaraan untuk membuka kembali Selat Hormuz tersebut.
Direktur Divisi Energy Futures di Mizuho Securities USA LLC Robert Yawger mengatakan di tengah situasi yang mulai mereda, terlihat peluang untuk mencapai kesepakatan.
"Kendati demikian, saya masih memperkirakan pada akhirnya akan tercapai kesepakatan kurang ideal, yang memungkinkan AS mengklaim semacam kemenangan. Tetapi tetap menyisakan banyak persoalan yang belum terselesaikan, termasuk terkait kesepakatan nuklir," kata Yawger dikutip dari Bloomberg, Rabu (5/8).
Gencatan senjata sebelumnya antara AS dan Iran hanya bertahan kurang dari satu bulan sebelum runtuh akibat sengketa terkait Selat Hormuz. Kondisi tersebut memicu lonjakan volatilitas harga Brent sekitar US$ 32 per barel sepanjang bulan lalu ketika konflik kembali memanas dan meluas hingga Laut Merah. Upaya jeda konflik pada akhir Juli untuk memberi ruang bagi diplomasi juga akhirnya gagal dipertahankan.
Trump membahas upaya meredakan ketegangan AS-Iran dengan Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, melalui sambungan telepon. Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi adanya percakapan tersebut, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Sebagai sinyal potensi kemajuan, Iran dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk mengizinkan negara-negara Eropa membersihkan ranjau di Selat Hormuz. Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan diskusi antara Teheran dan Oman berlangsung positif dan berfokus pada pembentukan jalur pelayaran yang aman di selat tersebut.
Di sisi lain, Arab Saudi menggelar pembicaraan dengan kelompok Houthi di Yaman melalui mediasi Oman guna mencegah konflik meluas. Negara anggota OPEC itu juga disebut tetap menyiapkan opsi militer apabila negosiasi tidak membuahkan hasil.
Sementara itu, persediaan minyak mentah AS meningkat 2,7 juta barel pada pekan lalu. Stok minyak di Cushing, Oklahoma yang merupakan pusat pengiriman WTI bertambah 2,4 juta barel.
Jika data tersebut dikonfirmasi oleh laporan resmi yang akan dirilis Rabu waktu setempat, kenaikan itu akan menjadi yang terbesar sejak Maret dan mendorong persediaan kembali melampaui 20 juta barel, level yang secara luas dianggap sebagai batas minimum operasional.