Pejabat The Fed Sebut Suku Bunga Perlu Naik, Singgung Target Inflasi 2%
Perbedaan pandangan di internal Federal Reserve (The Fed) mengenai arah kebijakan suku bunga semakin mengemuka. Presiden Federal Reserve Bank Kansas City Jeff Schmid menilai, bank sentral Amerika Serikat masih perlu memperketat kebijakan moneter untuk mengembalikan inflasi ke target 2%.
Mengutip Bloomberg, Schmid mengatakan, kondisi permintaan domestik dan investasi di AS masih cukup kuat sehingga kebijakan moneter saat ini belum dapat dikatakan bersifat restriktif.
"Dengan kuatnya permintaan dan investasi, saya tidak melihat sikap kebijakan moneter saat ini sebagai sesuatu yang restriktif. Karena itu, saya percaya bahwa untuk menurunkan inflasi ke target 2% The Fed diperlukan kebijakan yang lebih ketat," kata Schmid dalam pidatonya di Omaha, Selasa (4/8) waktu setempat.
Pernyataan tersebut mempertegas perbedaan pandangan di kalangan pejabat The Fed mengenai langkah yang perlu diambil untuk mengendalikan inflasi.
Amerika Serikat menghadapi tekanan kenaikan harga akibat dampak perang Iran dan lonjakan investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Meski begitu, para pejabat The Fed saat ini masih berbeda pandangan mengenai seberapa jauh kebijakan moneter perlu diperketat untuk mengendalikan inflasi, yang telah berada di atas target bank sentral selama lebih dari lima tahun.
Pada rapat kebijakan pekan lalu, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, keputusan itu tidak diambil secara bulat. Tiga pejabat bank sentral menyatakan perbedaan pendapat (dissent) dengan mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin karena khawatir penundaan pengetatan justru akan memaksa The Fed mengambil langkah yang lebih agresif di masa mendatang.
Meski tidak memiliki hak suara dalam penetapan suku bunga tahun ini, Schmid mengingatkan bahwa tekanan inflasi akibat gangguan pasokan tidak bisa dianggap hanya bersifat sementara. Menurutnya, lonjakan inflasi cenderung bertahan lebih lama apabila terjadi bersamaan dengan permintaan yang tetap kuat.
"Saya tidak nyaman jika harus menganggap lonjakan inflasi hanya bersifat sementara. Seberapa lama lonjakan inflasi akan bertahan sangat bergantung pada bagaimana The Fed bereaksi atau diperkirakan akan bereaksi," ujarnya.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank Philadelphia Anna Paulson menyatakan akan tetap bersikap terbuka terhadap arah kebijakan suku bunga ke depan. Menurut dia, keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi dalam beberapa waktu mendatang.