Pemerintah Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 2026 Capai Target APBN 5,4%

Katadata/Fauza Syahputra
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan paparan pada Konferensi Pers Stimulus Pertumbuhan Ekonomi Semester II Tahun 2026 di Jakarta, Senin (22/6/2026). Pemerintah menyiapkan anggaran stimulus ekonomi semester II 2026 sebesar Rp26,34 triliun yang mencakup transportasi Rp2,04 triliun, program magang dan vokasi Rp6,26 triliun, serta bantuan pangan Rp18,04 triliun.
5/8/2026, 20.55 WIB

Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 dapat mencapai target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 5,4 persen. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan, keyakinan itu didasari oleh capaian pertumbuhan ekonomi semester I yang dinilai tetap kuat pada di tengah tekanan ekonomi global.

Airlangga menyebut dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 yang mencapai 5,29 persen tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global, mulai dari konflik geopolitik, perang dagang, hingga disrupsi teknologi.

“Semester dua tentu kita menargetkan tahun ini kan sesuai dengan APBN 5,4. Jadi tentu kita harus menjaga momentum pertumbuhan di atas 5,” kata Airlangga dalam konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu (5/8).

Ia menjelaskan, pemerintah akan mengandalkan beberapa mesin pertumbuhan pada semester II, yakni investasi, belanja pemerintah, daya beli masyarakat, serta kinerja ekspor dan impor.

“Di semester dua ini kami mengharapkan dari segi investasi sebagai penggerak, kemudian dari belanja pemerintah dan juga daya beli masyarakat serta dari impor dan ekspor,” katanya.

Airlangga menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II sebesar 5,29 persen merupakan hasil yang baik mengingat tidak adanya faktor musiman seperti hari raya Idulfitri yang tahun ini jatuh pada triwulan I. Selain itu, Indonesia juga masih menghadapi ketidakpastian global akibat konflik di Ukraina, ketegangan di Selat Hormuz, perang dagang, dan disrupsi teknologi.

Di tengah kondisi tersebut, kata dia, Indonesia masih mampu mempertahankan tren pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen selama tujuh tahun terakhir. Airlangga mengatakan, capaian pertumbuhan semester I sebesar 5,45 persen juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan ASEAN.

Selain pertumbuhan ekonomi yang terjaga, pemerintah juga mencatat sejumlah indikator makro yang menunjukkan perbaikan. Tingkat inflasi turun menjadi 2,88 persen, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur kembali berada di level ekspansif sebesar 50,2, sementara Indeks Keyakinan Konsumen tercatat di level 117,8.

Dari sisi investasi, realisasi penanaman modal pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen. Nilai tersebut telah mencapai hampir separuh dari target investasi tahun ini sebesar Rp2.041,3 triliun.

Airlangga mengatakan, investasi juga menjadi faktor utama dalam penciptaan lapangan kerja. Sepanjang semester I 2026, investasi menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja langsung atau meningkat 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Pemerintah optimistis momentum pertumbuhan dapat terus dijaga hingga tahun 2026 dan tentunya pemerintah terus waspada terhadap gejolak yang muncul di geopolitik sambil memperkuat fondasi perekonomian nasional,” kata Airlangga.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman