Lebih dari Separuh Orang Miskin RI Ada di Pulau Jawa, Jawa Timur Terbanyak

Muhammad Zaenuddin|Katadata
Ilustrasi.
Editor: Agustiyanti
7/8/2026, 11.40 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 22,93 juta orang pada Maret 2026. Dari total tersebut, lebih dari separuh atau 12,02 juta orang berada di Pulau Jawa, menjadikannya wilayah dengan jumlah penduduk miskin terbesar di Indonesia.

Berdasarkan data BPS, Jawa Timur masih menjadi provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak, yakni 3,71 juta orang. Posisi berikutnya ditempati Jawa Barat dengan 3,44 juta orang, disusul Jawa Tengah sebanyak 3,29 juta orang.

Meskipun Pulau Maluku dan Papua memiliki tingkat kemiskinan tertinggi secara persentase, yakni 18,06%, BPS mencatat jumlah penduduk miskin masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sebaliknya, Pulau Kalimantan menjadi wilayah dengan jumlah penduduk miskin paling sedikit, yakni sekitar 870 ribu orang, dengan tingkat kemiskinan 4,94%. 

Berikut 10 provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Indonesia per Maret 2026: 

PeringkatProvinsiJumlah penduduk miskin
1Jawa Timur3,71 juta orang
2Jawa Barat3,44 juta orang
3Jawa Tengah3,29 juta orang
4Sumatera Utara1,11 juta orang
5Nusa Tenggara Timur1,04 juta orang
6Lampung831,89 ribu orang
7Aceh713,78 ribu orang
8Sulawesi Selatan669,63 ribu orang
9Nusa Tenggara Barat628,50 ribu orang
10Papua565,98 ribu orang

Di luar 10 besar tersebut, provinsi dengan jumlah penduduk miskin relatif tinggi, antara lain Sumatera Selatan sebanyak 869,97 ribu orang, Riau 470,80 ribu orang, Banten 746,73 ribu orang, dan DI Yogyakarta 408,87 ribu orang.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud sebelumnya menyampaikan, jumlah penduduk miskin nasional pada Maret 2026 turun menjadi 22,93 juta orang, berkurang 430 ribu orang dibandingkan September 2025. Tingkat kemiskinan juga turun menjadi 8,07%.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah