Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi di Indonesia pada Mei 2026. Meski tingkat pengangguran nasional menurun, lulusan SMK masih menghadapi tantangan paling besar untuk terserap ke pasar kerja.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud menyampaikan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,65%, turun dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 4,68%.
“Pada Mei 2026 terdapat sebanyak 7,22 juta penganggur atau setara dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65%. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan Februari 2026 sebesar 4,68% atau turun sekitar 0,03 persen poin,” kata Edy dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu (5/8).
Berdasarkan data BPS, lulusan SMK menjadi jenjang pendidikan dengan TPT tertinggi dibandingkan lulusan jenjang pendidikan lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lulusan pendidikan vokasi masih menghadapi tantangan dalam memperoleh pekerjaan, meski dirancang untuk menghasilkan tenaga kerja setelah lulus.
Di sisi lain, jumlah penduduk bekerja meningkat. Hingga Mei 2026, jumlah penduduk yang bekerja mencapai 148,19 juta orang atau bertambah sekitar 522 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Sementara itu, jumlah pengangguran turun sebanyak 24 ribu orang menjadi 7,22 juta orang.
BPS juga mencatat sektor akomodasi dan makan minum menjadi penyerap tenaga kerja terbesar sepanjang Februari hingga Mei 2026 dengan tambahan 195 ribu pekerja. Disusul sektor transportasi dan penyimpanan yang bertambah 121 ribu pekerja serta aktivitas jasa lainnya sebanyak 110 ribu pekerja.
Dari sisi status pekerjaan, proporsi pekerja formal meningkat tipis menjadi 40,70% dari total penduduk bekerja, sedangkan pekerja informal masih mendominasi dengan porsi 59,30%.
Sementara itu, berdasarkan tingkat pendidikan, struktur tenaga kerja Indonesia masih didominasi pekerja berpendidikan rendah. Sebanyak 35,40% dari total penduduk bekerja merupakan lulusan SD ke bawah, sedangkan pekerja yang memiliki pendidikan diploma ke atas baru mencapai 13,18%.
“Pada bulan Mei 2026 sebesar 13,18% dari 148,19 juta penduduk yang bekerja memiliki pendidikan diploma ke atas. Sementara itu, 35,40% penduduk yang bekerja memiliki pendidikan SD ke bawah dan masih mendominasi struktur penduduk bekerja di Indonesia,” kata Edy.