Prabowo: Bank Emas Indonesia Kelola 153 Ton Emas, Nilainya Tembus Rp 360 Triliun
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan progres bank emas yang telah resmi beroperasi sejak tahun lalu. Bank emas yang saat ini dijalankan oleh PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia tercatat mengelola 153 ton emas dengan nilai mencapai Rp 360 triliun. Kehadiran bank emas
"Bank emas yang beroperasi di Pegadaian dan BSI sudah mengelola 153 ton emas dengan nilai Rp 360 triliun atau sekitar US$ 20 miliar,” kata Prabowo dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).
Ia menjelaskan, pendirian bank emas bertujuan agar komoditas ini dapat memberikan nilai tambah pada perekonomian. "Kami ingin emas indonesia tidak hanya ditambang di negeri ini, tapi disimpan diperdagangkan dan diberi nilai tambah di negeri orang lain,” katanya.
Prabowo pun menekankan, ketersediaan emas di Indonesia harus memperkuat tabungan pembiayaan dan perekonomian dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarton sebelumnya menyebut, meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan minat masyarakat menyimpan emas melalui layanan bank bullion. Jumlah nasabah dan volume emas yang tersimpan maupun digadaikan di bank bullion meningkat signifikan dalam setahun terakhir.
“Pada Februari tahun lalu jumlah nasabahnya sekitar 3,2 juta, sekarang sudah mencapai 5,7 juta. Jadi itu meningkat dengan pesat,” ujar Airlangga dalam acara peluncuran AKSI KLIK, Jumat (6/3).
Emas sebagai Jaminan Pinjaman Capai 38,5 Ton
Airlangga juga mencatat peningkatan pada pemanfaatan emas sebagai jaminan pinjaman. Menurutnya, emas yang dimanfaatkan sebagai pinjaman hingga Maret 2026 mencapai sekitar 38,5 ton dengan nilai mencapai Rp 102 triliun.
Pertumbuhan serupa juga terjadi pada simpanan emas di Bank Syariah Indonesia (BSI). Hingga saat ini, total emas yang tersimpan di bank tersebut telah mencapai sekitar 22 ton.
Menurut Airlangga, meningkatnya minat masyarakat terhadap emas tidak lepas dari perannya sebagai safe haven di tengah ketidakpastian global, terutama akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Ia mencontohkan kenaikan harga emas global yang cukup tajam sejak peluncuran layanan bank bullion.