Rupiah Berpeluang Menguat tapi Dibayangi Ancaman Sanksi Baru AS ke Iran
Rupiah dibuka menguat 0,02% atau empat poin menjadi Rp 17.690 per dolar Amerika Serikat, berdasarkan data Bloomberg. Namun mata uang Garuda turun 0,03% atau lima poin Rp 17.699 per dolar AS per pukul 09.12 WIB.
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup menguat 0,3% secara harian menjadi Rp 17.694 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs rupiah spot menguat 0,75% dari posisi Rp 17.827 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak konsolidatif pada perdagangan hari ini, dengan peluang menguat terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan rupiah berpotensi ditopang pelemahan dolar AS, meski masih tertahan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia yang relatif tinggi.
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai rupiah masih memiliki ruang untuk menguat, namun tidak signifikan, karena sejumlah risiko eksternal masih membayangi pasar.
“Rupiah diperkirakan berkonsolidasi, dengan potensi menguat terbatas oleh pelemahan dolar AS, namun ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan harga minyak yang masih tinggi menahan rupiah,” ujar Lukman.
Berdasarkan proyeksi itu, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.650 - Rp 17.750 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Perkiraan itu dihitung menjelang pengumuman Menteri Keuangan AS Scott Bessent terkait sanksi baru yang akan diberikan kepada Iran, yang akan disampaikan dalam konferensi pers pada Senin pukul 14.00 waktu setempat atau 18.00 GMT. Bessent mengancam akan memberlakukan 'sanksi terberat dalam sejarah' terhadap Iran.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan akan menjatuhkan sanksi kepada negara-negara yang melakukan perdagangan dengan Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pun menyatakan negaranya saat ini sedang menghadapi "perang berskala penuh" di bidang ekonomi, militer, dan keamanan, tetapi pemerintahnya berkomitmen penuh untuk mengatasi seluruh kesulitan tersebut.
"Kami sedang menghadapi perang ekonomi, militer, dan keamanan berskala penuh," kata Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan kantor berita milik Iran, IRNA, pada Minggu (23/8).
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian menyatakan hal itu untuk menanggapi ancaman sanksi ekonomi terbaru yang disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. "Trump dengan mudah mengatakan AS akan menjatuhkan sanksi paling berat atau paling mengerikan kepada Iran," ia menambahkan.
Pezeshkian menegaskan Iran tetap berdiri teguh dan berusaha melayani masyarakat di tengah situasi perang yang tidak seimbang, sekaligus menolak anggapan musuh bahwa Iran akan runtuh akibat tekanan eksternal.
"Musuh menilai jika Iran jatuh, maka negara ini akan menjadi seperti Venezuela. Hal itu tidak terjadi, Iran justru menjadi kekuatan yang mengagumkan lewat perlawanan dan solidaritas," kata Pezeshkian.
Pemerintah Iran juga terus bekerja keras menjaga persatuan nasional guna menghindari perpecahan internal di tengah eskalasi tekanan ekonomi dan keamanan yang kian meningkat.
Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada Juni, lewat mediasi Pakistan dan Qatar, untuk mengakhiri permusuhan yang dimulai pada Februari. Dalam kesepahaman itu, keduanya sepakat untuk melanjutkan negosiasi menuju kesepakatan akhir.
Namun, ketegangan kedua negara kembali memuncak setelah perundingan tindak lanjut nota kesepahaman antara Iran dan AS menemui jalan buntu akibat perselisihan skema navigasi di Selat Hormuz.