Inflasi Singapura Melonjak Imbas Perang, Ini Deretan Bantuan dari Pemerintahnya

Katadata
Ilustrasi. Inflasi inti Singapura pada Juli melonjak ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Editor: Agustiyanti
24/8/2026, 17.17 WIB

Singapura mencatatkan lonjakan inflasi inti ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir pada Juli 2026. Kenaikan harga terutama terjadi pada biaya utilitas rumah tangga di tengah tingginya harga energi global akibat perang Amerika Serikat dan Iran.  

Mengutip Bloomberg, Departemen Statistik Singapura mencatat inflasi inti, yang tidak memperhitungkan biaya perumahan dan transportasi pribadi, mencapai 2% secara tahunan pada Juli 2026. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak Oktober 2024.

Sementara itu, inflasi umum atau secara keseluruhan tercatat sebesar 2,2%,, lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 2,4%.

Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi di Singapura pada bulan lalu. Harga utilitas dan bahan bakar lainnya meningkat 6,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Singapura, yang hampir seluruh kebutuhan energinya bergantung pada impor, juga menaikkan tarif listrik dan gas ke rekor tertinggi pada kuartal ketiga.

Tekanan harga juga terlihat pada sektor transportasi. Inflasi transportasi tetap tinggi di level 7,9%, sedangkan inflasi pangan meningkat menjadi 2,2%.

Ekonom Oversea-Chinese Banking Corp. Selena Ling mengatakan lonjakan inflasi inti mencerminkan dampak lanjutan dari kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. 

“Ini mencerminkan banyaknya dampak lanjutan dari guncangan energi akibat perang Iran, terutama pada transportasi pribadi, transportasi darat, tarif penerbangan, serta asuransi kesehatan,” kata Selena Ling.

Ling juga memperingatkan adanya risiko kenaikan inflasi pada paruh kedua tahun ini, termasuk akibat potensi fenomena Super El Niño yang dapat memicu kekeringan serta ketidakpastian dalam negosiasi Amerika Serikat dan Iran.

Bantuan untuk Warga Singapura 

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong sebelumnya memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah dapat memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian.

Dalam pidato National Day Rally pada Minggu, Wong mengatakan gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz telah memperlihatkan kerentanan Singapura terhadap gangguan pasokan energi, pangan, dan kebutuhan penting lainnya. 

Pemerintah Singapura pun telah mengalokasikan bantuan senilai hampir 2 miliar dolar Singapura untuk menghadapi kondisi ini. Bantuan tersebut terdiri dari dua paket kebijakan yang diluncurkan pada Juli 2026 dan April 2026.

Mengutip CNA, paket yang dirilis pada Juli 2026, antara lain mencakup  Community Development Council (CDC) Vouchers atau voucher belanja yang dapat digunakan rumah tangga Singapura untuk membeli kebutuhan sehari-hari di pedagang, hawker, dan supermarket yang berpartisipasi.

Pemerintah Singapura memberikan tambahan 300 dolar Singapura per rumah tangga pada Januari 2027, setelah sebelumnya mempercepat pencairan voucher 500 dolar Singapura  dari Januari 2027 menjadi Juni 2026. Dengan demikian, setiap rumah tangga Singapura akan menerima total 800 dolar Singapura CDC Vouchers untuk tahun fiskal 2026, yang berlaku hingga 31 Desember 2027.

Pemerintah Singapura juga meningkatkan U-Save rebates, yakni potongan atau rabat yang diberikan kepada rumah tangga yang memenuhi syarat untuk membantu membayar tagihan utilitas, seperti listrik dan gas. Pada Oktober 2026 dan Januari 2027, rumah tangga yang memenuhi syarat akan menerima 110–190 dolar Singapura per kuartal.

Selain itu, keluarga berpendapatan rendah yang membutuhkan bantuan mendesak akan mendapat peningkatan ComCare Interim Assistance menjadi sedikitny 250 dolar Singapura per bulan selama maksimal tiga bulan, dengan bantuan lebih besar bagi keluarga yang membutuhkan.

Adapun paket yang diumumkan sebelumnya April, mencakup tambahan Cost-of-Living Special Payment sebesar 200 dolar Singapura per penerima yang memenuhi syarat, serta bantuan tunai 200 dolar Singapura bagi pekerja platform, pengemudi kendaraan sewaan pribadi, dan pengemudi taksi yang terdampak kenaikan harga bahan bakar.  

Suku Bunga Tak akan Naik

Meski inflasi inti Singapura meningkat, sejumlah ekonom menilai dampak inflasi sejauh ini masih relatif terkendali. Mereka memperkirakan kenaikan inflasi tersebut belum akan mendorong Monetary Authority of Singapore (MAS) untuk kembali memperketat kebijakan moneternya. 

Ekonom Barclays Brian Tan menilai kenaikan inflasi inti masih lebih kecil dibandingkan perkiraan pasar. Ia memperkirakan MAS akan mempertahankan kebijakan moneternya hingga tahun depan.

MAS mempertahankan proyeksi inflasi inti sebesar 1,5%-2,5% untuk 2026 dan memperkirakan tekanan harga akan mulai mereda secara signifikan sekitar pertengahan 2027.

Di tengah tekanan inflasi dan konflik geopolitik, perekonomian Singapura masih menunjukkan ketahanan. Pemerintah baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Singapura pada 2026 menjadi 4,5%-5,5%, didorong oleh meningkatnya perdagangan dan aktivitas manufaktur yang berkaitan dengan pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Ekonom DBS Group Holdings Chua Han Teng menilai posisi kebijakan moneter MAS saat ini masih cukup baik untuk menghadapi tekanan inflasi.

“Namun para pembuat kebijakan mewaspadai risiko bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat dan didorong oleh teknologi dapat menciptakan tekanan permintaan (demand-pull) serta kenaikan upah, yang pada akhirnya dapat memengaruhi

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah