Fit and Proper Test Deputi Gubernur BI, Solikin Tawarkan 8 Strategi 'Semangka'

ANTARA FOTO/Antasena/wpa/foc.
Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M.Juhro, memaparkan visi misinya saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test calon Deputi Gubernur Bank Indonesia di ruang Komisi XI DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (23/1/2026). Solikin M.Juhro yang kini menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI tersebut merupakan satu dari tiga nama calon Deputi Gubernur BI yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto.
27/8/2026, 18.54 WIB

Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro menilai kebijakan ekonomi tidak semestinya dihadapkan pada pilihan yang saling bertentangan antara pertumbuhan dan stabilitas, maupun antara inklusivitas dan efisiensi.

 "Dalam praktik kebijakan, kita sering dihadapkan kepada dilema. Seolah-olah terdapat pilihan yang dilematis, mau pertumbuhan atau mau stabilitas, mau inklusif atau mau efisiensi," kata Solikin saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test sebagai calon Deputi Gubernur BI di Komisi XI DPR, Kamis (27/8).

 Sebagai informasi, Solikin diajukan untuk menggantikan Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman, yang dicalonkan Presiden Prabowo Subianto sebagai Deputi Gubernur Senior BI.

 Menurut dia, cara pandang tersebut perlu diluruskan. Solikin menyebut terdapat apa yang disebutnya sebagai trilema keberlanjutan, yakni bagaimana mencapai stabilitas yang dinamis, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sekaligus ekonomi yang inklusif.

 Ketiga tujuan tersebut, kata dia, memang terlihat seakan-akan dapat saling melemahkan. Namun, pengalaman selama lebih dari tiga dekade bekerja di bank sentral justru memperkuat keyakinannya bahwa ketiganya dapat saling mendukung.

 "Stabilitas memungkinkan pertumbuhan, pertumbuhan memperluas kesempatan kerja, dan inklusivitas memperkuat basis ekonomi dan sosial," ujarnya.

 Solikin menjelaskan, basis ekonomi dan sosial yang semakin kuat pada akhirnya akan kembali memperkokoh stabilitas. Dengan demikian, stabilitas, pertumbuhan, dan inklusivitas bukanlah tiga tujuan yang harus dipertentangkan.

 "Jadi, ketiganya saling memperkuat satu sama lain," katanya.

Delapan strategi "SEMANGKA"

Untuk menerjemahkan pandangan tersebut ke dalam kebijakan, Solikin menawarkan delapan strategi yang dia sebut sebagai "SEMANGKA" atau Semangka Nusantara Versi 2.

Dalam paparan yang disampaikan kepada Komisi XI DPR, delapan strategi tersebut dirancang sebagai satu paket kebijakan yang terorkestrasi untuk menopang program Astacita pemerintah. Solikin mengelompokkan strategi tersebut ke dalam tiga lapisan, yakni jangkar kebijakan, mesin transformasi, dan pengungkit implementasi.

Pada lapisan jangkar kebijakan, terdapat empat strategi. Pertama, Stabilitas Dinamis untuk Pertumbuhan Berkelanjutan. Kedua, Efektivitas Kebijakan Moneter dan Operasi Moneter yang Pro-Market. Ketiga, Makroprudensial Adaptif, Inovatif & Pro Growth. Keempat, Akselerasi Pendalaman Pasar Keuangan.

Solikin menjelaskan, kelompok jangkar kebijakan diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus memperbesar kapasitas pembiayaan bagi perekonomian.

Sementara itu, lapisan kedua merupakan mesin transformasi. Di dalamnya terdapat strategi Navigasi Ekonomi Keuangan Inklusif, termasuk Syariah serta Gerak Cepat Digitalisasi Sistem Pembayaran.

Kedua strategi tersebut diarahkan untuk memastikan kebijakan dapat mengalir ke sektor riil dan masyarakat sekaligus menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Adapun lapisan ketiga adalah pengungkit implementasi, yang terdiri dari strategi Kelembagaan BI yang Kredibel dan Bertatakelola serta Aksi Bersama dan Sinergi Kebijakan Nasional.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah