Inflasi Cina Mulai Memanas, Harga Cip hingga Emas Melonjak
Inflasi konsumen Cina meningkat untuk pertama kalinya sejak April dan harga di tingkat pabrik naik lebih cepat dari perkiraan. Hal ini seiring dengan naiknya harga pangan dan energi yang kembali memicu tekanan biaya.
Berdasarkan data yang dirilis Biro Statistik Nasional, indeks harga konsumen naik 0,8% pada Agustus dibandingkan tahun sebelumnya. Ini sesuai dengan perkiraan dan meningkat dari 0,5% pada bulan sebelumnya.
Inflasi produsen kembali naik menjadi 3,8% dari 3,5% pada Juli, melampaui perkiraan median sebesar 3,6%. Indeks harga konsumen (IHK) inti, yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi yang fluktuatif, naik menjadi 1% untuk pertama kalinya dalam empat bulan.
Hanya beberapa bulan setelah keluar dari periode deflasi yang mencetak rekor, Cina kesulitan mempertahankan momentum kenaikan harga di tengah perlambatan ekonomi dan langkah pemerintah untuk membatasi pengeluaran fiskal. Belanja konsumen juga membatasi kemampuan pabrik untuk membebankan kenaikan biaya produksi—akibat lonjakan harga global minyak, cip, dan logam—kepada konsumen.
Meski demikian, kembali memanasnya ketegangan antara AS dan Iran memicu kekhawatiran akan gangguan yang lebih parah di Selat Hormuz, yang dapat memengaruhi pasokan minyak, gas, serta komoditas lainnya, sekaligus mendorong kenaikan harga energi dan inflasi. Harga minyak Brent mendekati level US$100 per barel pada hari Rabu setelah AS menyerang kapal tanker Iran di dekat Pulau Kharg, sebuah pusat vital ekspor minyak mentah.
Selain tingginya biaya energi, kelangkaan semikonduktor dan komponen elektronik lainnya telah menyebabkan harga sejumlah cip melonjak hingga 700% dalam setahun terakhir. Harga logam non-ferro seperti tembaga juga turut melambung, didorong oleh antisipasi bahwa Presiden Donald Trump akan memperluas cakupan tarif AS terhadap impor logam olahan.
Selain tingginya biaya energi, kelangkaan semikonduktor dan komponen elektronik lainnya telah menyebabkan harga sejumlah cip melonjak hingga 700% dalam setahun terakhir. Harga logam non-ferro seperti tembaga juga turut melambung, didorong oleh antisipasi bahwa Presiden Donald Trump akan memperluas cakupan tarif AS terhadap impor logam olahan.
Lonjakan permintaan akibat AI juga mulai berdampak pada harga. Harga tablet, komputer, dan ponsel semuanya mengalami kenaikan dua digit dibandingkan tahun lalu, yang mencerminkan siklus super investasi global dalam kecerdasan buatan.
Pemulihan harga emas global pada bulan lalu turut menjadi faktor yang kembali mendorong inflasi konsumen. Kategori IHK (Indeks Harga Konsumen) untuk barang dan jasa lainnya, yang mencakup perhiasan — naik 7,3% dibandingkan tahun sebelumnya, membalikkan tren perlambatan yang dimulai pada bulan Maret. Harga perhiasan emas melonjak sebesar 34%.
Kenaikan indeks harga produsen sebagian besar masih didorong oleh komoditas dan produk yang diuntungkan oleh tingginya harga minyak dan cip. Industri yang terkait dengan batu bara, logam, energi, bahan kimia, dan elektronik melaporkan lonjakan harga produk keluaran.
Harga barang tahan lama konsumen di tingkat pabrik naik 1,2% pada bulan Agustus; ini merupakan laju kenaikan tercepat dalam data yang tercatat sejak tahun 1996. Lonjakan tajam tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh tingginya biaya cip yang turut mendongkrak harga peralatan rumah tangga.