Investor global kembali secara hati-hati ke pasar Indonesia setelah gejolak yang terjadi awal tahun ini. Pemulihan signifikan terjadi pada aset-aset lokal seiring langkah pembuat kebijakan untuk memulihkan stabilitas.
Mengutip Bloomberg, dana asing terus membeli obligasi negara selama empat bulan berturut-turut. Nilai tukar rupiah telah menguat lebih dari 3,5% dari rekor terendah pada Juni, dan pasar saham tampak siap mencatatkan arus masuk modal masuk.
Para pengelola dana, termasuk Invesco Ltd. dan PPM America Inc., telah mengurangi posisi underweight mereka terhadap aset Indonesia. Faktor lain yang menarik minat investor kembali adalah serangkaian langkah untuk memulihkan kepercayaan pasar.
Presiden Prabowo Subianto telah berkomitmen untuk mengendalikan defisit anggaran, regulator telah meluncurkan langkah-langkah tambahan untuk mengatasi kekhawatiran MSCI Inc. terkait transparansi pasar. Gubernur Bank Indonesia yang baru ditunjuk, Destry Damayanti juga mengisyaratkan akan melanjutkan kebijakan yang sudah berjalan.
Namun, keraguan mendalam mengenai pelaksanaan kebijakan membuat investor tidak terburu-buru untuk kembali, terutama karena agenda intervensi Prabowo yang masih menjadi sumber kekhawatiran. Kondisi global yang lebih berat juga meningkatkan risiko, seiring memanasnya kembali ketegangan AS-Iran yang mendorong kenaikan harga minyak serta meningkatnya spekulasi mengenai kenaikan suku bunga Federal Reserve.
"Kami perlu melihat pelaksanaan kebijakan yang berkelanjutan dan lingkungan eksternal yang lebih mendukung sebelum kembali membangun posisi investasi yang lebih signifikan," ujar Yiping Liao, manajer investasi Templeton Global yang berbasis di Singapura dan mengelola aset senilai US$4,35 miliar
Ia mengaku masih berhati-hati. Kunci kepercayaan investor adalah pelaksanaan kebijakan tersebut.
Dampak dari aksi jual besar-besaran sebelumnya masih terasa kuat. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah melonjak 25% dari titik terendah dalam lebih dari lima tahun yang tercatat pada awal Juni, indeks acuan tersebut masih mencatatkan penurunan hampir 23% sepanjang tahun 2026.
Angka ini merupakan penurunan terdalam di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau oleh Bloomberg. Selain itu, rupiah juga masih tercatat sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini.
Walaupun dana global telah mencatatkan pembelian bersih saham lokal senilai US$ 296 juta pada kuartal ini, jumlah tersebut belum banyak mengurangi total arus keluar modal atau outflow yang mencapai hampir US$4 miliar sejak awal tahun. Direktur Investasi Invesco yang berbasis di Hong Kong, William Yuen mengatakan, telah mengurangi posisi underweight mereka di pasar ekuitas secara moderat seiring membaiknya profil risik. "Kami akan terus memantau perkembangan isu-isu utama dan menilai apakah penyesuaian lebih lanjut diperlukan," tambahnya.
Situasi yang beragam juga terlihat di pasar obligasi, segmen pasar yang justru menunjukkan tanda-tanda optimisme paling nyata. Kembalinya investor asing didorong oleh langkah-langkah Bank Indonesia (BI) untuk meningkatkan daya tarik surat utang domestik, meskipun laju pembelian mereka melambat dibandingkan arus masuk sebesar US$1,3 miliar pada Juni—angka tertinggi dalam kurun waktu sekitar satu tahun.
Manajer Portofolio di PPM America Matthew Graves mengatakan usulan perbaikan anggaran merupakan langkah yang tepat, demikian pula dengan sinyal dari Gubernur BI yang baru. "Namun, kinerja selisih imbal hasil Indonesia belakangan ini menunjukkan bahwa pasar masih bersikap skeptis terhadap orientasi kebijakan mendasar pemerintahan ini," kata Graves.
Ia menilai, satu-satunya cara untuk benar-benar menutup celah keraguan tersebut adalah dengan membuktikan perkataan melalui tindakan nyata. Kepala divisi utang mata uang lokal pasar negara berkembang, Kieran Curtis, di Aberdeen Group Plc, bersikap lebih skeptis dan menyatakan bahwa perusahaannya mempertahankan posisi underweight.
"Bagi saya, berita terkait fiskal tidak terlalu saya perhitungkan—kebijakan menjadi kurang transparan karena begitu banyak pendapatan dan belanja yang dialihkan ke Danantara, yang tidak tercakup dalam pelaporan anggaran pemerintah," ujarnya.
Ia pun menilai, tekanan pada nilai tukar kemungkinan akan kembali muncul sampai tingkat tertentu.
Danantara adalah lembaga pengelola dana abadi negara atau sovereign wealth fund yang didirikan oleh Prabowo tahun lalu.
Aksi Jual Besar-besaran
Masalah yang dihadapi Indonesia bermula pada awal 2026, ketika penyedia indeks MSCI memperingatkan adanya potensi penurunan status pasar menjadi frontier market karena kekhawatiran mengenai kelayakan investasi. Langkah tersebut memicu aksi jual besar-besaran yang bersejarah. Ini diperparah oleh kekhawatiran akan penurunan peringkat kredit negara, kebijakan populis Prabowo, serta upayanya untuk memperketat kendali atas sektor ekspor yang kaya sumber daya alam.
Kemudian terjadi pembalikan arah situasi, yang dipicu oleh kenaikan suku bunga di luar jadwal rutin oleh Bank Indonesia serta langkah-langkah lain untuk menopang nilai tukar rupiah. Pada akhir Juni, MSCI menunda tinjauannya terhadap saham-saham Indonesia, dengan alasan memerlukan waktu lebih lanjut untuk melihat efektivitas reformasi transparansi yang telah diumumkan.
"PT UOB Asset Management Indonesia telah mengambil sikap netral terhadap saham," ujar CIO Albert Budiman.
Manjaer Portofolio Senior Allianz Global Investors Ze Yi Ang mengatakan bahwa pihaknya telah kembali mengambil posisi tactical overweight atau bobot investasi lebih tinggi dari acuan. Namun, ia menambahkan bahwa keberlanjutan kebijakan tetap menjadi risiko utama.
Buktikan kepada Kami
Secara keseluruhan, para manajer investasi ingin melihat bukti adanya perubahan permanen menuju pembuatan kebijakan yang lebih dapat diprediksi dan konstruktif sebelum kembali masuk ke pasar secara besar-besaran.
Meskipun Prabowo tidak meluncurkan langkah-langkah populis baru dalam pidato anggarannya bulan lalu, ia menyatakan bahwa Indonesia akan membuka bursa komoditas baru untuk memberikan pengaruh lebih besar terhadap harga globa. Ini menjadi pengingat akan kecenderungan intervensi yang dilakukan pemerintahan Prabowo dan terus membuat investor merasa waswas.
Terlepas dari masalah kredibilitas kebijakan, investor juga menantikan hasil tinjauan MSCI bulan November serta arah kebijakan suku bunga The Fed saat mereka mempertimbangkan besaran eksposur terhadap aset-aset Indonesia menjelang akhir tahun.