DBS Ramal Ekonomi RI Tumbuh 5,3% Tahun Ini, Belanja Pemerintah Jadi Penopang
Bank DBS memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,3% pada tahun ini. Senior Economist DBS Bank Radhika Rao menilai pertumbuhan ekonomi masih akan ditopang terutama oleh belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat.
Menurut Radhika, belanja pemerintah memainkan peran penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal tersebut tercermin dari realisasi belanja pemerintah yang meningkat di berbagai sektor.
“Jika melihat data fiskal bulanan, hal tersebut terlihat cukup jelas. Pemerintah membelanjakan anggaran untuk sektor sosial, tetapi juga untuk dukungan publik, investasi, serta belanja modal,” kata Radhika dalam acara media breafing on multinational investment outlook, Kamis (10/9).
Menurut dia, kenaikan belanja pemerintah berlangsung cukup luas sehingga dapat menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Selain belanja pemerintah, konsumsi masyarakat juga dinilai masih mampu bertahan. Salah satu faktor yang mendukung konsumsi adalah harga bahan bakar minyak (BBM) domestik yang relatif tidak berubah meskipun harga minyak global meningkat.
“Karena kenaikan harga bahan bakar yang terjadi di luar negeri belum benar-benar berdampak kepada konsumen ritel di Indonesia. Harga minyak di dalam negeri, khususnya harga bahan bakar yang disubsidi, masih tidak berubah,” kata Radhika.
Dia membandingkan kondisi tersebut dengan sejumlah negara lain yang telah mengalami kenaikan harga BBM di tingkat konsumen. Sementara di Indonesia, kenaikan harga BBM tersebut belum terjadi sehingga konsumsi masyarakat masih dapat bertahan.
Perdagangan Bukan Motor Utama Pertumbuhan
Di sisi lain, Radhika memperkirakan sektor perdagangan akan memberikan kontribusi yang lebih kecil terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. Hal tersebut terutama disebabkan oleh tingginya impor.
“Kami memperkirakan perdagangan akan memainkan peran yang lebih kecil terhadap pertumbuhan karena impor masih tinggi,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Bank DBS melihat belanja pemerintah dan konsumsi sebagai dua mesin utama yang akan menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini.
Pasar Keuangan Domestik Makin Stabil
Radhika juga melihat kondisi pasar keuangan domestik Indonesia mulai menunjukkan stabilitas dibandingkan dua hingga tiga bulan sebelumnya.
Menurut dia, stabilisasi tersebut terlihat meskipun bagian panjang kurva imbal hasil (long end) masih merespons perkembangan pasar global. Sementara itu, bagian pendek kurva imbal hasil (short end) relatif lebih stabil.
“Kami melihat pasar keuangan domestik menjadi jauh lebih stabil,” ujarnya.
Selain itu, arus modal juga mulai kembali masuk ke Indonesia. Kondisi tersebut turut mendukung stabilitas pasar keuangan domestik.
Radhika mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat pada paruh pertama tahun ini juga membantu memperbaiki sentimen terhadap perekonomian dan pasar keuangan.
“Pertumbuhan ekonomi mencatatkan kinerja yang sangat kuat pada paruh pertama tahun ini. Seluruh faktor tersebut membantu menstabilkan narasi ekonomi dan bahkan mendorong stabilitas tersebut ke pasar keuangan domestik,” katanya.
Dari sisi pembiayaan, pertumbuhan kredit terutama untuk sektor industri juga menunjukkan peningkatan yang cukup kuat. Sementara pertumbuhan kredit konsumen tidak mengalami peningkatan sebesar kredit industri.
Meski demikian, secara keseluruhan pertumbuhan kredit masih berada di kisaran 8%-10%.
Radhika menilai, perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat prospek ekonomi Indonesia dalam tiga hingga enam bulan ke depan, di tengah dinamika ekonomi global yang masih berlangsung.