Dana Moneter Internasional (IMF) mengimbau pemerintah di berbagai negara harus berupaya lebih keras untuk memperkecil defisit anggaran. Hal ini seiring kondisi utang global yang kini berada pada rekor tertinggi.
"Kami telah memperingatkan perlunya konsolidasi fiskal, dan kami melihat sudah adanya pemahaman yang luas, tetapi tindakan nyata yang diambil masih belum memadai," ujar Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva pada hari Minggu dalam acara Qatar Economic Forum di New York.
Menurut lembaga keuangan yang berbasis di Washington itu, utang publik global diproyeksikan akan melampaui 100% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2029, dua tahun lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Ini terutama didorong oleh lonjakan utang di Amerika Serikat dan Tiongkok.
"Kami terus mendesak AS untuk memberikan perhatian pada kondisi fiskalnya," ujarnya.
Georgieva mengatakan, Menteri (Scott) Bessent dalam pembicaraan dengannya memahami bahwa situasi saat ini tidak berkelanjutan dan AS harus secara bertahap menurunkan defisit serta utangnya.
Georgieva telah berulang kali memperingatkan risiko dari meningkatnya tingkat utang global dan mendesak negara-negara anggota IMF untuk mengambil tindakan. Bulan lalu, ia menyatakan bahwa sebagian besar negara maju, termasuk AS, memiliki tren utang yang memerlukan perhatian kebijakan.
Kondisi inflasi yang tinggi dan langkah bank-bank sentral menaikkan suku bunga akan membuat biaya pinjaman lebih mahal dan berpotensi mempersulit pembayaran utang.
Institut Keuangan International atau IIF sebelumnya mencatat total utang global mencapai rekor hampir menyentuh US$ 353 miliar pada akhir Maret 2026 atau setara Rp 6.000 triliun (kurs Jisdor periode 31 Maret Rp 16.999 per dolar AS). Investor pun menunjukkan tanda-tanda mulai menjauhi obligasi pemerintah AS yang semakin berisiko.
Pantauan IIF menunjukkan terjadi penguatan permintaan pada obligasi permintaan Jepang dan Eropa, kontras dengan permintaan obligasi pemerintah AS yang secara umum stabil sejak awal tahun.
Pantauan Utang Global triwulanan IIF mengatakan bahwa penguatan permintaan internasional untuk obligasi pemerintah Jepang dan Eropa kontras dengan permintaan yang secara umum stabil untuk obligasi pemerintah AS sejak awal tahun.
Meskipun tidak ada risiko langsung di pasar obligasi senilai US$ 30 triliun itu, menurut dia, proyeksi jangka panjang menunjukkan bahwa utang pemerintah AS semakin terlihat berada di jalur yang tidak berkelanjutan. Sedangkan rasio utang untuk zona euro dan Jepang kini sedikit menurun.
Laporan IIF memperkirakan rasio utang terhadap PDB AS diperkirakan akan terus meningkat, sedangkan pasar obligasi korporasi AS terus berkembang pesat, didukung oleh penerbitan terkait AI dan arus masuk luar negeri yang kuat.
Laporan IIF juga mencatat, pinjaman Washington yang melonjak merupakan salah satu pendorong utama peningkatan utang global lebih dari US$4,4 triliun pada kuartal pertama. Ini adalah kenaikan tercepat sejak pertengahan 2025 dan peningkatan kuartalan kelima berturut-turut.
Tiftik mengatakan, peningkatan utang AS sebagian besar didorong oleh pinjaman pemerintah.
Di luar dua ekonomi terbesar di dunia, utang di pasar negara maju sedikit menurun. Sedangkan di pasar negara berkembang, tidak termasuk Tiongkok, mengalami peningkatan moderat menjadi rekor US$36,8 triliun yang didorong oleh pinjaman pemerintah.
Melihat rasio utang utama, utang global berada pada 305% dari output ekonomi dunia, secara umum stabil di level yang sama sejak 2023. Namun, rasio utang mengikuti pola yang serupa dengan tingkat utang - cenderung menurun di pasar negara maju dan meningkat secara stabil di negara berkembang.