ADB: Perang dan El Nino Hantui Asia, Inflasi Tinggi Diramal Bertahan hingga 2027
Asian Development Bank (ADB) melihat, perang di Eropa dan Timur Tengah serta fenomena El Niño yang parah memperparah tekanan harga di seluruh Asia. Kondisi ini berpotensi memicu inflasi hingga tahun depan dan mengharuskan bank sentral untuk tetap waspada.
Dalam laporan prospek terbarunya yang dirilis pada Rabu (23/9), ADB menyatakan bahwa eskalasi kembali pertempuran yang melibatkan Iran dan meluasnya konflik ke Yaman telah menghambat pasokan minyak mentah dan produk olahan minyak. Sedangkan perang Rusia di Ukraina telah mengganggu pengiriman biji-bijian.
Di sisi lain, pola cuaca tidak normal akibat El Niño telah mengancam hasil panen di berbagai wilayah mulai dari India hingga Thailand, serta mengurangi pembangkitan listrik tenaga air dan bahkan membatasi lalu lintas di jalur air seperti Terusan Panama.
"Risiko masih cenderung mengarah ke sisi negatif (penurunan)," ujar kepala ekonom ADB, Albert Park, dalam laporan tersebut, sepert dikutip dari Bloomberg.
Menurut dia, eskalasi konflik lebih lanjut atau dampak El Niño yang lebih buruk dari perkiraan dapat menghambat pertumbuhan dan mendorong kenaikan inflasi.
ADB memproyeksikan tingkat inflasi untuk kawasan Asia-Pasifik yang sedang berkembang sebesar 4,2% tahun ini dan 3,5% tahun depan. Proyeksi tersebut kedua angka tersebut jauh di atas tingkat 3% yang tercatat pada tahun 2025.
Lembaga ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan akan melambat menjadi 5% pada tahun 2026, turun dari 5,5%. ADB pun menaikkan perkiraan harga minyak menjadi US$ 90 dan US$ 78 per barel untuk tahun ini dan tahun depan.
Meskipun subsidi berskala luas telah membantu meredam dampak bagi konsumen tahun ini, harga energi yang terus tinggi mulai berdampak pada perekonomian secara keseluruhan. Menurut ADB, dampak penularan kenaikan harga ini kemungkinan akan paling terasa di negara-negara dengan porsi pengeluaran pangan yang besar dalam keranjang konsumsi, seperti di Asia Selatan.
ADB menyatakan bahwa beberapa negara memiliki ruang untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut tahun ini jika inflasi terus berlanjut; negara-negara tersebut mencakup Bangladesh, India, india, Pakistan, Filipina, dan Vietnam. Setelah inflasi mereda, para pembuat kebijakan mungkin mulai mempertimbangkan penurunan suku bunga pada tahun 2027.
"Secara keseluruhan, suku bunga kebijakan diperkirakan akan bergerak secara bertahap menuju tingkat yang tercatat sebelum eskalasi konflik Timur Tengah, meskipun kecepatan dan besaran pelonggaran kebijakan akan bergantung pada perkembangan inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan risiko eksternal," kata ADB.