Bank Dunia Wanti-wanti Krisis Pangan Memburuk akibat Lonjakan Harga Komoditas

ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/YU
Ilustrasi.
Penulis: Agustiyanti
29/10/2026, 17.23 WIB

Bank Dunia memperkirakan harga komoditas global akan meningkat sebesar 23% pada akhir tahun 2026. Harga energi kini berada di level tertinggi dalam empat tahun terakhir akibat perang yang melibatkan Iran, sedangkan harga pangan melonjak karena berbagai konflik global serta fenomena El Nino.

"Pasar komoditas tengah dihantam oleh beberapa guncangan besar secara bersamaan," ujar  Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia Ayhan Kose dalam pernyataan yang menyertai laporan Commodity Markets Outlook, seperti dikutip dari AFP, Kamis (29/10). 

Ia menyebut biaya energi yang lebih tinggi dan gangguan perdagangan memicu kenaikan harga di berbagai jenis komoditas. Ha ini berisiko memperburuk inflasi, kerawanan pangan, dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Harga pangan diperkirakan naik sebesar 10% pada tahun 2026 dan 7% pada tahun berikutnya. Hal ini disebabkan oleh terganggunya rantai pasokan biji-bijian akibat konflik, dampak dari fenomena ekstrem El Nino, serta tingginya harga bahan bakar dan pupuk.

El Nino merupakan fenomena cuaca alami yang diperkirakan akan menyebabkan suhu lebih tinggi di sebagian besar wilayah dunia tahun ini. Dampaknya memperparah efek perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Bagi para produsen pangan, fenomena ini diperkirakan akan memicu lebih banyak banjir, kekeringan, dan tekanan akibat suhu panas di berbagai wilayah.

Harga energi yang lebih tinggi

Laporan Bank Dunia menyebutkan bahwa harga energi diproyeksikan meningkat sebesar 32% tahun ini, sebelum melandai pada tahun 2027 dengan asumsi bahwa konflik yang melibatkan Iran dan perang di Ukraina tidak semakin memburuk.

Harga energi dan pupuk global telah melonjak tajam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada akhir Februari, yang menjerumuskan Timur Tengah ke dalam pusaran kekerasan.

Iran merespons dengan melancarkan serangan terhadap sekutu AS di kawasan tersebut, yang secara efektif melumpuhkan Selat Hormuz.

Laporan Bank Dunia memperingatkan bahwa fenomena El Nino yang sangat kuat, intensifikasi serangan terhadap pengiriman biji-bijian di Laut Hitam selama perang Rusia-Ukraina, atau lonjakan harga energi lebih lanjut akibat perang dengan Iran dapat memicu terjadinya krisis pangan.

 "Dalam skenario buruk di mana risiko-risiko ini terjadi secara bersamaan, harga minyak Brent bisa mencapai rata-rata US$105 per barel pada tahun 2027, dan harga komoditas pangan bisa 12 persen lebih tinggi daripada perkiraan dalam skenario dasar, bahkan melampaui tingkat harga pada tahun 2022," demikian penjelasan dalam laporan tersebut.

Sejak dimulainya perang yang melibatkan Iran, Bank Dunia telah menyalurkan bantuan darurat sebesar US$8,7 miliar bagi negara-negara yang rentan.

"Prioritas utama haruslah melindungi kelompok masyarakat termiskin serta mendukung negara-negara berpenghasilan rendah yang saat ini sudah berjuang menghadapi beban utang yang berat," ujar Kose.

Pasokan minyak global diperkirakan akan turun sebesar 5,2% pada tahun 2026, penurunan terbesar dalam lebih dari empat dekade, di luar masa pandemi, akibat dampak perang di Timur Tengah serta konflik antara Rusia dan Ukraina.

Laporan tersebut mencatat bahwa prakiraan harga minyak global akan jauh lebih tinggi seandainya konsumsi minyak tidak diproyeksikan turun sebesar 2,5% tahun ini. Angka penurunan tersebut merupakan yang terbesar ketiga setelah masa pandemi Covid dan krisis minyak tahun 1980.

Meski demikian, prakiraan harga untuk komoditas pangan, energi, dan komoditas secara keseluruhan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan prediksi Bank Dunia sebelumnya pada April.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.