BPS Catat Inflasi Oktober 0,22,%, Lonjakan Harga Cabai Jadi Biang Kerok

ANTARA FOTO/Ardiansyah/nz.
Pedagang menata cabai merah dagangannya di Pasar Pasir Gintung, Bandar Lampung, Lampung, Kamis (8/10/2026). BPS mencatat kenaikan harga cabai menjadi penyumbang utama inflasi Oktober.
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
2/11/2026, 11.32 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,22% secara bulanan atau month-to-month (mtm) pada Oktober 2026. Inflasi pada bulan lalu terutama disumbang oleh kenaikan harga cabai merah yang memberikan andil mencapai 0,13%. 

Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi Oktober. Inflasi pada kelompok  ini mencapai 0,51% dengan andil sebesar 0,15%.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini terutama, cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,13%. Berikutnya, cabai rawit dengan andil inflasi sebesar 0,05%, serta tomat dengan andil inflasi sebesar 0,04%,” kata Ateng dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/11).

Ateng menjelaskan, andil cabai merah setara sekitar 59% dari total inflasi bulanan pada Oktober 2026. Selain cabai merah, kenaikan harga cabai rawit dan tomat juga turut memberikan tekanan terhadap inflasi.

BPS juga mencatat, sejumlah komoditas hortikultura lainnya yang menyumbang inflasi, yakni sawi hijau, labu siam atau jipang, serta sawi putih. Masing-masing komoditas tersebut memberikan andil inflasi sebesar 0,01%.

Ateng menjelaskan, kenaikan harga sejumlah komoditas cabai terjadi di tengah penurunan produksi di beberapa daerah sentra. Produksi cabai merah tercatat turun di sejumlah wilayah, terutama Lombok Timur, Cianjur, dan Banyuwangi.

Sementara itu, produksi cabai rawit juga mengalami penurunan di beberapa daerah sentra, khususnya Jember, Sampang, dan Brebes.

BPS juga mencatat peningkatan produksi cabai merah di sejumlah daerah, antara lain Aceh Tengah, Kulon Progo, dan Kerinci. Adapun peningkatan produksi cabai rawit terjadi di Situbondo, Lombok Timur, dan Aceh Tengah.

Secara keseluruhan, inflasi Oktober 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga konsumen (IHK) pada September yang berada di level 112,31. Pada Oktober, IHK meningkat menjadi 112,56.

Sementara itu, secara tahunan atau year-on-year (yoy) inflasi Oktober 2026 mencapai 3,23%. Adapun inflasi tahun kalender atau year-to-date (ytd) tercatat sebesar 2,40%.

Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, tarif angkutan udara juga memberikan andil terhadap inflasi Oktober sebesar 0,01%.

Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 0,06%, terutama karena penurunan harga emas perhiasan yang memberikan andil deflasi sebesar 0,01%.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman