Dari Hilirisasi ke Inovasi: Strategi Keluar dari Jebakan Pendapatan Menengah
Awal 2026, pemerintah berencana memulai groundbreaking 18 proyek hilirisasi strategis sebagai bagian dari upaya mendorong transformasi struktural dan meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional. Namun, sejarah pembangunan menunjukkan, jika tidak disertai peningkatan kapasitas inovasi dan kompleksitas ekonomi, hilirisasi seringkali hanya menggeser bentuk ketergantungan, bukan memutusnya.
Beberapa dekade terakhir, peta pertumbuhan global menunjukkan pola yang menarik di mana pertumbuhan di negara maju memang melambat. Namun, negara berkembang pun tidak berhasil mengejar dengan cepat. World Development Report 2024 mencatat bahwa kesenjangan pendapatan per kapita antarnegara cenderung bertahan, bahkan dalam beberapa kasus melebar.
Dunia tidak lagi berkonvergensi seperti yang diprediksi teori pertumbuhan neoklasik. Beberapa negara maju melaju cepat, sementara negara berkembang yang masih bergantung pada akumulasi faktor produksi justru tertinggal dan rentan terhadap guncangan eksternal dan volatilitas harga komoditas.
Jebakan Pendapatan Menengah
Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak negara, termasuk Indonesia, terjebak dalam middle-income trap. Selama 50 tahun terakhir pendapatan per kapita di negara-negara berpenghasilan menengah berada tetap pada kisaran 5%-10% dari pendapatan per kapita Amerika Serikat.
Pada 2024, terdapat 108 negara dalam kategori ini, dengan pendapatan per kapita antara US$1.136 hingga US$13.845 (World Bank, 2024). Perlambatan pertumbuhan ekonomi terjadi ketika suatu negara mencapai sekitar 11% dari PDB per kapita AS, yang juga menandai transisi ke pendapatan menengah atas. Setelah titik ini, laju pertumbuhan ekonomi cenderung menurun (World Bank, 2024).
Strategi pertumbuhan berbasis akumulasi modal memang efektif pada fase awal, yaitu saat negara bergerak dari tingkat pendapatan rendah ke pendapatan menengah. Namun, setelah mencapai tingkat tertentu, tambahan modal menghasilkan imbal balik yang semakin menurun (diminishing returns).
Data terbaru menunjukkan meskipun akumulasi kapital dan human capital di negara-negara berpendapatan menengah telah mencapai 71% dari level Amerika Serikat, tetapi PDB per kapitanya hanya 21% dari AS. Ketidaksejajaran antara peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi ini dikenal sebagai investment-output decoupling.
Dari Investasi ke Inovasi
Pertanyaannya adalah strategi apa yang harus diambil negara berkembang, seperti Indonesia agar keluar dari jebakan ini? Pemikiran ekonomi baru menempatkan inovasi, bukan akumulasi kapital, sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Gagasan ini diperkenalkan oleh Philippe Aghion dkk yang menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi berkelanjutan ditentukan oleh kapabilitas masyarakat untuk menciptakan, menyebarkan, dan memanfaatkan pengetahuan baru.
Teori ini bertumpu pada tiga prinsip utama. Pertama, inovasi dan difusi pengetahuan adalah jantung dari pertumbuhan ekonomi. Investasi fisik akan selalu menghadapi batas, sementara inovasi bersifat kumulatif, karena setiap inovasi dibangun atas inovasi sebelumnya (standing on the shoulder of the giants).
Kedua, inovasi membutuhkan insentif dan kepastian hukum. Tanpa perlindungan hak kekayaan intelektual, pelaku ekonomi enggan mengambil risiko. Kesenjangan paten antara Indonesia dan negara-negara seperti Korea Selatan dan Tiongkok menunjukkan masih lemahnya fondasi inovasi domestik.
Ketiga, creative destruction: pertumbuhan tidak lahir dari stabilitas semu, melainkan dari keberanian menggantikan inovasi lama dengan yang lebih baru. Banyak negara berkembang berhasil mengejar ketertinggalan melalui adopsi teknologi, tetapi gagal melangkah ke tahap frontier innovation berbasis inovasi domestik. Inilah inti dari jebakan pendapatan menengah.
Kebijakan Industri dan Inovasi
Pertumbuhan berbasis inovasi membutuhkan kebijakan publik yang tepat. Korea Selatan, misalnya, menerapkan kebijakan industri berbasis kinerja (performance-based support), di mana dukungan negara diberikan kepada perusahaan yang mampu memenuhi target produktivitas dan ekspor. Tiongkok menempuh jalur serupa melalui strategi pengembangan sektor strategis yang terintegrasi, dikenal sebagai Made in China 2025, yang mendorong kemajuan pesat di industri kendaraan listrik, semikonduktor, dan elektronik.
Apa yang terjadi dengan kemajuan di Korea Selatan dan Tiongkok menunjukkan bagaimana inovasi sistematis dan terintegrasi, serta kebijakan publik mampu mentransformasi industri dan ekonomi domestik.
Indonesia telah mengambil langkah penting kebijakan industri melalui kebijakan hilirisasi nasional. Larangan ekspor bahan mentah sejak 2020 telah berhasil lonjakan nilai ekspor berbasis nikel dari US$3,3 miliar pada 2017 menjadi sekitar US$34 miliar pada 2023. Ini contoh nyata inovasi yang digerakkan kebijakan (policy-driven innovation), di mana negara secara sadar mengubah struktur ekonomi melalui insentif dan perlindungan sementara.
Hilirisasi tidak boleh berhenti pada produk setengah jadi. Tantangan berikutnya adalah menjadikan proses hilir sebagai sumber pembelajaran teknologi dan inovasi pengetahuan, bukan sekadar perpanjangan rantai pasok. Proyek hilirisasi harus menghasilkan transfer keterampilan, riset, dan pengetahuan kepada tenaga kerja serta perguruan tinggi.
Hal ini menuntut investasi serius pada pengembangan sumber daya manusia, fasilitas riset, dan kolaborasi erat antara industri, universitas, dan pemerintah. Di sinilah pentingnya kolaborasi triple helix, bahkan quadruple helix, dengan melibatkan masyarakat dan komunitas inovator. Tanpa ekosistem inovasi yang hidup, hilirisasi berisiko menjadi jalan buntu bernilai tambah rendah.
Lompatan Pendapatan
Indonesia perlu memperkuat empat fondasi untuk benar-benar keluar dari jebakan pendapatan menengah. Pertama, kebijakan inovasi nasional yang terkoordinasi. Inovasi tidak bisa berjalan terfragmentasi; diperlukan ekosistem yang menyelaraskan riset, kebijakan fiskal, dan insentif industri dalam satu arah strategis.
Kedua, penguatan hak kekayaan intelektual dan komersialisasi paten melalui reformasi birokrasi, insentif fiskal, dan peran aktif technology transfer office di perguruan tinggi dan Badan Riset dan Inovasi Nasional. Ketiga, mendorong kompetisi yang sehat agar dominasi pemain besar tidak mematikan inovasi baru, kompetisi justru mempercepat difusi inovasi.
Keempat, kebijakan hilirisasi dan reindustrialisasi yang berorientasi pada peningkatan economic complexity dan menghasilkan knowledge spillover, dengan fokus pada produk bernilai tambah tinggi, seperti baterai, bioteknologi, farmasi, energi terbarukan, dan material canggih.
Jika dijalankan secara konsisten, hilirisasi tidak lagi sekadar strategi menaikkan ekspor jangka pendek, melainkan menjadi fondasi reindustrialisasi nasional, memperluas basis inovasi, meningkatkan daya saing, dan membuka jalan Indonesia menuju status negara berpendapatan tinggi.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.