STEM vs Soshum: Perdebatan Semu di Negeri yang Belum Menghargai Ilmu

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Dendy Raditya Atmosuwito
5/2/2026, 08.05 WIB

Ada perdebatan yang rutin bergulir di ruang media sosial Indonesia. Perdebatan yang seolah-olah penting, seolah-olah menentukan arah peradaban bangsa ini. Katanya, Science, Technology, Engineering, Mathematics (STEM/ Saintek) lebih superior ketimbang Social, Humanities, Art for People, Religious Studies, Economics (SHARE/ Soshum). 

Atau sebaliknya, SHARE lebih humanis dan bijak ketimbang STEM yang dingin dan mekanistik. Perdebatan ini berputar-putar seperti kincir angin di tengah badai yang salah arah, menghamburkan energi untuk pertanyaan yang sebenarnya keliru sejak awal. 

Pertanyaan yang lebih mendasar seharusnya bukan mana yang lebih penting antara sains dan sastra, antara teknologi dan teologi, antara matematika dan musik. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah di negeri ini ada bidang ilmu yang benar-benar dihargai?

Kita terlalu sibuk memperdebatkan siapa anak emas dan siapa anak tiri, padahal yang terjadi sesungguhnya adalah semua anak-anak itu terlantar. Mereka ditinggalkan di emperan rumah kekuasaan, hanya sesekali diangkat menjadi anak pungut ketika bisa menghasilkan sesuatu yang berguna bagi tuan rumah. Ketika tidak lagi menguntungkan, mereka dikembalikan lagi ke jalanan, menunggu giliran berikutnya untuk dimanfaatkan.

Lihatlah bagaimana ilmu pertanian kita. Negeri agraris yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, ternyata tidak benar-benar menghargai ilmu pertanian kecuali ketika ada krisis pangan yang mengancam stabilitas politik. Barulah para ahli pertanian dipanggil, didudukkan di meja bundar, diminta solusi instan. Setelah krisis mereda, mereka kembali dilupakan. Fakultas pertanian kembali sepi peminat, anggaran riset kembali dipangkas, dan petani kembali menjadi profesi yang dihindari anak-anak muda kita.

Perhatikan juga nasib ilmu pendidikan. Di negeri yang mengklaim pendidikan sebagai prioritas, fakultas keguruan justru menjadi pilihan terakhir. Guru-guru kita yang notabene adalah produk dari ilmu pendidikan, diperlakukan seadanya. Gaji mereka pas-pasan, status sosial mereka biasa-biasa saja, dan riset-riset pendidikan diabaikan kecuali ketika ada kontroversi kurikulum atau skandal ujian nasional. Saat itulah para ahli pendidikan kembali menjadi anak pungut sementara, diminta berkomentar di televisi, sebelum kembali dilupakan ketika hiruk pikuk mereda.

Begitu pula dengan ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Sosiologi, antropologi, filsafat, sastra, semuanya dianggap indah dan mulia di retorika pidato kenegaraan, namun nyaris tidak ada ruang nyata bagi mereka dalam pengambilan kebijakan. 

Para ahli sosiologi tidak dilibatkan ketika pemerintah membuat kebijakan yang menyangkut struktur masyarakat. Antropolog tidak ditanya ketika ada proyek pembangunan yang akan mengubah tatanan kehidupan komunitas adat. Filsuf tidak didengarkan ketika bangsa ini kehilangan arah dan makna. Mereka hanya dipanggil ketika sudah terjadi bencana sosial, diminta menjelaskan apa yang salah, lalu kembali dipinggirkan.

Sementara itu, bidang-bidang STEM yang katanya lebih diperhatikan, sesungguhnya juga mengalami nasib serupa. Ilmuwan kita yang brilian terpaksa mencari peluang di luar negeri karena di dalam negeri tidak ada ekosistem riset yang memadai. Laboratorium kampus kita kekurangan peralatan, anggaran riset dasar dipotong demi proyek-proyek yang lebih “aplikatif” dan “terukur hasilnya”. Fisikawan, kimiawan, biolog, insinyur, semuanya hanya mendapat perhatian ketika mereka bisa menghasilkan sesuatu yang segera bisa dijual atau yang bisa mengangkat prestise negara di mata internasional.

Bahkan bidang teknologi yang sedang jadi perhatian pun tidak luput dari pola yang sama. Kita pernah merayakan start-up dan unicorn, tapi tidak benar-benar berinvestasi dalam riset teknologi fundamental. Hal yang sebenarnya kita apresiasi adalah aplikasi yang menghasilkan uang, bukan penemuan teknologi yang mungkin baru akan berguna puluhan tahun kemudian. Kita ingin memetik buah, tapi enggan menyiram pohonnya secara teratur.

Inilah yang luput dari perdebatan STEM versus SHARE itu. Kedua kubu terlalu sibuk saling klaim superioritas, padahal mereka berdua sama-sama diabaikan oleh negara yang hanya peduli pada utilitas jangka pendek. Negara kita, atau lebih tepatnya elite penguasa ekonomi-politik kita, telah mereduksi seluruh bidang ilmu menjadi sekadar instrumen kekuasaan dan akumulasi kapital.

Ilmu pengetahuan di republik ini tidak dihargai sebagai pencarian kebenaran, bukan dihormati sebagai upaya memahami alam semesta dan kemanusiaan, melainkan hanya dilihat dari kacamata: bisa menghasilkan uang atau tidak? Bisa memperkuat kekuasaan atau tidak? Bisa mengangkat citra atau tidak?

Sekarang kita seperti seolah-olah meniru sistem pendidikan tinggi negara maju, tapi hanya kulitnya saja. Esensi tentang bagaimana negara-negara itu berinvestasi jangka panjang dalam riset dasar, bagaimana mereka melindungi kebebasan akademik, bagaimana mereka menghargai ilmu pengetahuan sebagai public good, semua itu tidak ikut ditiru. Yang ditiru hanya gemerlap permukaannya: gedung megah, ranking internasional, kerja sama dengan universitas luar negeri, seminar bertaraf internasional. Sementara substansinya, yaitu komitmen terhadap pencarian pengetahuan, sama sekali tidak ada.

Maka jangan heran jika anak-anak muda kita memilih jurusan bukan karena cinta pada ilmu, melainkan karena prospek gaji. Jangan heran jika mahasiswa kita lebih tertarik menjadi influencer ketimbang ilmuwan. Jangan heran jika para sarjana kita lebih memilih bekerja di korporasi multinasional ketimbang melanjutkan riset untuk bangsa sendiri. Karena memang negara ini tidak pernah memberi mereka alasan untuk mencintai ilmu.

Perdebatan STEM versus SHARE pada akhirnya hanya mengabadikan ilusi bahwa ada bidang ilmu yang diperhatikan di negeri ini. Padahal kenyataannya, tidak ada. Yang ada hanyalah eksploitasi sporadis terhadap berbagai bidang ilmu, tergantung kebutuhan sesaat penguasa dan pasar.

Jika kita benar-benar ingin membangun peradaban, perdebatan yang harus kita lakukan bukanlah mana yang lebih penting antara STEM dan SHARE. Pertanyaan yang harus kita ajukan adalah: bagaimana kita bisa membangun sebuah republik yang benar-benar menghargai ilmu pengetahuan, dalam segala bentuknya, bukan karena utilitas ekonomi atau politiknya, melainkan karena ilmu pengetahuan itu sendiri adalah bagian dari martabat kemanusiaan kita?

Hingga pertanyaan itu terjawab dengan tindakan nyata, semua anak-anak ilmu pengetahuan kita akan tetap terlantar di jalanan republik yang berpikiran jangka pendek ini. Dan perdebatan STEM versus SHARE akan tetap menjadi pertengkaran sia-sia di antara anak-anak terlantar yang seharusnya bersatu menuntut hak mereka untuk dihargai.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Dendy Raditya Atmosuwito
Analis Politik Badan Kesbangpol Pemerintah Kota Yogyakarta

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.