Indonesia sedang bergerak lebih cepat daripada yang kita sadari. Dalam satu dekade terakhir, ekonomi digital tumbuh pesat. Platform transportasi, e-commerce, fintech, hingga social commerce telah mengubah cara masyarakat bertransaksi dan mengambil keputusan. Generasi muda yang digital-native bukan hanya menjadi konsumen, tetapi juga pembentuk norma baru dalam perilaku pasar.
Perubahan ini tidak berlangsung perlahan. Ia meloncat. Namun persoalannya bukan pada perubahan itu sendiri. Persoalannya adalah banyak organisasi masih bergerak dengan kecepatan lama. Perusahaan memiliki lebih banyak data daripada sebelumnya. Dashboard tersedia secara real-time. Analitik semakin canggih. Namun keunggulan bersaing justru terasa semakin rapuh. Loyalitas pelanggan mudah bergeser. Diferensiasi cepat ditiru. Margin semakin tertekan.
Di sinilah paradoks muncul: Teknologi berkembang cepat, tetapi organisasi tidak selalu ikut bergerak. Di era digital Indonesia, keunggulan bukan sesuatu yang dimiliki. Ia adalah sesuatu yang terus diperbarui.
Indonesia: Pasar yang Sensitif dan Cepat Berubah
Indonesia adalah pasar besar dengan karakter unik: sensitif terhadap harga, responsif terhadap promosi, dan sangat dipengaruhi oleh pengalaman digital. Kita melihat bagaimana Gojek, Tokopedia, Traveloka, serta berbagai brand lokal tumbuh karena mampu membaca perilaku masyarakat secara dekat. Namun keberhasilan mereka bukan semata karena teknologi. Yang membedakan adalah kemampuan untuk menangkap peluang dan bergerak cepat.
Loyalitas di pasar Indonesia bersifat kondisional. Konsumen tidak ragu berpindah platform jika menemukan nilai yang lebih relevan. Dalam lingkungan seperti ini, keunggulan bersaing bersifat dinamis. Ia bergerak mengikuti perubahan perilaku pasar.
Data: Sinyal Perubahan, Bukan Sumber Keunggulan
Indonesia menghasilkan volume data yang sangat besar—dari transaksi e-commerce, pembayaran digital, hingga interaksi media sosial. Namun data bukanlah sumber keunggulan dengan sendirinya. Data adalah sinyal. Ia memberi tahu apa yang berubah. Tetapi ia tidak menjamin organisasi akan bergerak.
Banyak perusahaan telah mengadopsi sistem analitik. Namun keputusan tetap lambat. Strategi tetap kaku. Struktur tetap hierarkis. Masalahnya bukan kekurangan data. Masalahnya adalah kemampuan untuk mengubah sinyal menjadi tindakan strategis.
Dynamic Marketing Capability: Sensing, Seizing, Reconfiguring
Dalam konteks inilah Dynamic Marketing Capability (DMC) menjadi relevan. DMC adalah kemampuan organisasi untuk secara berkelanjutan menyesuaikan strategi pemasaran dan konfigurasi sumber daya ketika lingkungan berubah. Ia bekerja melalui tiga kemampuan inti:
Market Sensing
Kemampuan membaca perubahan pasar melalui data—baik perubahan preferensi pelanggan, tren digital, maupun dinamika kompetitor. Dalam konteks Indonesia, market sensing berarti memahami bahwa perilaku konsumen di Jakarta berbeda dengan di Surabaya atau Makassar. Sensitivitas harga berbeda antarsegmen. Respons terhadap promosi tidak selalu seragam. Sensing bukan sekadar mengumpulkan data, tetapi menginterpretasikannya secara kontekstual.
Market Seizing
Di sinilah banyak organisasi tertinggal. Market seizing adalah kemampuan menangkap peluang yang telah teridentifikasi melalui sensing. Artinya, organisasi tidak hanya memahami perubahan, tetapi juga memutuskan untuk bertindak cepat dan berani. Di pasar Indonesia, seizing dapat berarti:
- meluncurkan varian produk lebih cepat,
- menyesuaikan harga sesuai dinamika daya beli,
- memperkuat kampanye digital ketika momentum muncul,
- atau mengubah proposisi nilai sebelum kompetitor melakukannya.
Dalam pasar yang sangat responsif terhadap tren, momentum adalah segalanya.
Resource Reconfiguring
Setelah peluang ditangkap, organisasi harus mampu menata ulang sumber dayanya. Ini mencakup:
- pengalihan anggaran ke kanal yang lebih efektif,
- percepatan kolaborasi lintas fungsi,
- penyesuaian struktur tim pemasaran,
- hingga revisi prioritas strategis.
Tanpa reconfiguring, sensing, dan seizing tidak akan menghasilkan keunggulan yang berkelanjutan.
Tantangan Struktural di Indonesia
Membangun sensing–seizing–reconfiguring bukan perkara mudah dalam banyak organisasi Indonesia. Beberapa hambatan yang nyata:
- keputusan yang terlalu tersentralisasi,
- budaya kerja yang menghindari risiko,
- silo antardivisi,
- dominasi intuisi dibanding evidence berbasis data.
Padahal dalam masyarakat digital, keterlambatan sering kali lebih mahal daripada kesalahan. Keunggulan yang bergerak menuntut organisasi yang juga bergerak.
Budaya sebagai Fondasi Kapabilitas Dinamis
Dynamic Marketing Capability pada akhirnya berakar pada budaya organisasi. Budaya yang mendukung DMC adalah budaya yang:
- menghargai pembelajaran berkelanjutan,
- memberi ruang pada eksperimen terukur,
- membuka dialog lintas generasi,
- dan mempercayai keputusan berbasis data.
Indonesia memiliki bonus demografi dengan talenta muda yang digital-native. Namun tanpa ruang struktural dan budaya yang mendukung, potensi ini tidak akan menjadi daya saing.
Refleksi untuk Organisasi Indonesia
Pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah: “Apakah kita sudah memiliki sistem digital?” Melainkan: “Apakah kita cukup cepat untuk menangkap peluang ketika data menunjukkan perubahan perilaku konsumen Indonesia?”
Dalam pasar yang dinamis, kelincahan sering mengalahkan skala. Banyak brand yang lebih kecil justru lebih relevan karena mampu bergerak lebih cepat.
Penutup: Keunggulan sebagai Gerak yang Berkelanjutan
Keunggulan di era digital Indonesia bukanlah posisi yang diamankan untuk jangka panjang. Ia adalah hasil dari kemampuan untuk terus:
- membaca perubahan (sensing),
- menangkap peluang (seizing),
- dan menata ulang sumber daya (reconfiguring).
Data memberi kita visibilitas. Seizing memberi kita momentum. Reconfiguring memberi kita ketahanan. Dalam dunia yang terus berubah, organisasi yang bertahan bukan yang paling besar, melainkan yang paling disiplin dalam bergerak. Dalam konteks Indonesia yang dinamis, kesiapan untuk bergerak bukan sekadar strategi. Ia adalah syarat keberlanjutan.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.