Pelemahan kurs rupiah ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi ada yang merugi, di sisi lain–jika mampu membaca situasi–justru berpeluang meraup keuntungan yang tidak akan tersedia ketika rupiah kembali menguat.
Selama ini kita terbiasa memperlakukan pelemahan rupiah sebagai kabar buruk yang seragam. Importir mengeluh, karena bahan baku menjadi lebih mahal. Pemerintah khawatir, karena pembayaran utang luar negeri dalam denominasi dolar membengkak. Kelas menengah resah, karena gawai, kendaraan, dan tiket liburan ke luar negeri melonjak harganya.
Kekhawatiran itu sah dan nyata. Namun di balik narasi tunggal tentang pelemahan mata uang, ada satu sektor yang justru sedang menikmati keunggulan kompetitif paling besar dalam beberapa tahun terakhir: pariwisata inbound.
Logikanya sederhana, tapi sering diabaikan. Ketika rupiah melemah, wisatawan asing yang datang membawa dolar, euro, atau riyal akan memperoleh nilai tukar jauh lebih tinggi dari yang mereka bayangkan. Seorang turis Australia dengan 5.000 dolar Australia di kantong, jika dirupiahkan setara Rp68 juta yang dibelanjakan di tanah air. Efek yang sama berlaku bagi wisatawan dari Eropa, Jepang, Korea, India, dan negara-negara Teluk.
Ini bukan sekadar daya tarik. Ini adalah repricing struktural yang bekerja diam-diam, dan waktunya terbatas. Masalahnya, Indonesia belum cukup gesit memanfaatkan jendela ini. Data Kementerian Pariwisata menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara Januari-Februari 2026 mencapai 2,35 juta, tumbuh 7,77%. Angka yang positif, tapi belum mencerminkan percepatan yang seharusnya bisa dicapai jika ada respons kebijakan yang lebih agresif terhadap keunggulan harga yang sedang terjadi.
Bandingkan dengan Jepang. Ketika yen melemah tajam dalam dua tahun terakhir, pemerintah Jepang tidak berdiam diri. Mereka mengonversi situasi itu menjadi kampanye pariwisata agresif yang menempatkan Jepang sebagai destinasi premium dengan harga mid-range. Hasilnya: penerimaan pariwisata inbound Jepang mencapai 8,1 triliun yen pada 2024 — rekor sepanjang sejarah. Bukan karena Jepang tiba-tiba menjadi lebih menarik. Tapi karena mereka cepat mengomunikasikan bahwa Jepang sedang menjadi lebih terjangkau, dan mereka memiliki infrastruktur pariwisata yang memungkinkan sinyal harga itu terkonversi menjadi kedatangan wisatawan secara nyata.
Di sinilah masalah Indonesia yang sesungguhnya. Keunggulan harga ada, tapi sistem untuk mengonversinya menjadi devisa pariwisata belum bekerja secara optimal. Peluang harga tidak akan otomatis berubah menjadi kedatangan wisatawan jika infrastruktur penerbangan tidak mendukung.
Saat ini, InJourney Airports masih beroperasi dengan model bisnis berbasis pemulihan biaya — di mana landing fee dan ground handling menjadi bisnis andalan utama. Sebaliknya, itu menjadi beban kalkulasi maskapai, sehingga rencana pembukaan rute baru ke Indonesia akan selalu menjadi pertaruhan yang kurang menguntungkan bagi maskapai asing. Harga tiket akan tinggi.
Sementara pesaing kita, Singapura dan Malaysia, sudah lama menjalankan model pendapatan non-aeronautika yang mensubsidi biaya pendaratan demi menarik rute dan frekuensi penerbangan sebanyak mungkin. Harga tiket kompetitif dan bahkan bisa lebih rendah.
Soal promosi pun perlu dikoreksi. Kampanye pariwisata Indonesia masih terlalu mengandalkan pameran internasional yang besar dan megah namun konversinya rendah. Yang lebih efektif sebenarnya adalah pendekatan business-to-business langsung dengan operator tur besar di pasar-pasar yang belum tergarap serius: India dengan 400 juta kelas menengah yang tumbuh, negara-negara Teluk non-konflik yang wisatawannya sedang mencari alternatif, dan pasar Eropa Timur yang selama ini nyaris tidak tersentuh promosi Indonesia.
Ada satu variabel lagi yang jarang masuk dalam kalkulasi kebijakan pariwisata, tapi dampaknya signifikan: konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung. Eskalasi di kawasan ini — termasuk gangguan jalur udara yang menyebabkan ratusan pembatalan penerbangan — sedang mendorong wisatawan global mencari destinasi alternatif.
Pasar yang biasanya berorientasi ke Eropa Selatan atau kawasan Teluk kini membuka mata ke Asia Tenggara. Indonesia, dengan posisi geografis di antara dua samudra, keanekaragaman destinasi yang tidak tertandingi di ASEAN, dan harga yang kini paling kompetitif dalam beberapa tahun terakhir, seharusnya berada di puncak daftar alternatif itu.
Pertanyaannya bukan apakah wisatawan akan memilih Indonesia. Pertanyaannya adalah apakah kita cukup sigap menyambut mereka.
Sejarah mencatat bahwa peluang berbasis nilai tukar bersifat sementara. Ketika geopolitik Timur Tengah mereda, ketika Federal Reserve mulai menurunkan suku bunga, ketika investor global kembali ke mode risk-on — rupiah akan menguat kembali mendekati fundamentalnya di kisaran Rp16.900. Pada saat itu, keunggulan harga pariwisata Indonesia akan berkurang secara otomatis. Yang tertinggal dari momen ini hanyalah dua kemungkinan: kita sudah membangun basis wisatawan baru yang terkonversi menjadi pelanggan setia Indonesia, atau kita melewatkan jendela ini sama sekali dan hanya mencatat bahwa rupiah pernah lemah.
Pilihan Ada di Tangan Kebijakan
Rupiah melemah bukan musibah yang perlu diratapi. Ia adalah sinyal pasar yang membawa pesan sangat jelas: Indonesia sedang dalam kondisi paling kompetitif dari sisi harga dalam beberapa tahun terakhir.
Yang dibutuhkan bukan keluhan, bukan intervensi yang menguras cadangan devisa, dan bukan kampanye penguatan rupiah yang melawan arus pasar global. Yang dibutuhkan adalah kecepatan — mengonversi keunggulan harga menjadi kedatangan wisatawan. Kemudian, mengonversi kedatangan menjadi devisa, dan mengonversi devisa menjadi fondasi pertumbuhan yang tidak bergantung sepenuhnya pada ekspor komoditas yang harganya ditentukan oleh pasar yang tidak bisa kita kendalikan.
Peluang terbuka. Jendela tidak akan selamanya terbuka. Dan dalam urusan seperti ini, terlambat sepuluh menit sama artinya dengan terlambat sepuluh tahun.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.