Ketika Lokapasar Tak Lagi Ramah bagi UMKM

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Tiar N. Karbala
9/5/2026, 08.20 WIB

Bagi jutaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia, lokapasar awalnya dipandang sebagai “jalan tol” yang lengang bagi jutaan pelaku usaha untuk masuk ke ekonomi digital. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, lokapasar bersalin rupa menjadi tidak lagi ramah bagi UMKM. Lokapasar telah menjadi sebuah ekosistem yang tertutup bagi pedagang online.

Mayoritas pedagang online menerima dengan begitu saja (taken for granted) adanya lokapasar sebab ia memberi banyak manfaat di awal. Misalnya, lokapasar membuka akses pasar, memudahkan logistik, mempermudah pemasaran dan menyediakan sistem pembayaran yang terintegrasi.

Namun seperti banyak platform digital yang awalnya inklusif, dinamika bisa berubah. Aneka biaya layanan, mulai dari komisi penjualan, biaya iklan, hingga ongkos logistik, kian meningkat. Bagi banyak pedagang online, terutama level UMKM, margin semakin tergerus. Pertanyaannya sederhana. Apakah pelaku usaha yang memanfaatkan platform digital akan terus bergantung, atau perlukah membangun kedaulatan?

Realitasnya, kondisi lokapasar di Indonesia saat ini dikuasai oleh segelintir platform daring. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melakukan riset kuantitatif dan menyebut sekitar 70% masyarakat Indonesia memanfaatkan dua platform lokapasar untuk kegiatan marketingnya. Hal tersebut mengindikasikan adanya monopoli, sehingga posisi penjual sangat lemah.

Ekosistem platform e-commerce yang monopolistik tidak boleh diterima begitu saja, sebab ia adalah ekosistem tertutup. Ketika biaya naik, pedagang tidak punya banyak ruang negosiasi. Selain sempitnya ruang negosiasi, mereka juga tidak banyak menjumpai lokapasar yang menawarkan produk supplementary, seperti jasa logistik, dompet digital, ruang iklan, instant settlement, bahkan produk pinjaman.

Tantangan bagi pedagang online kelas UMKM semakin berat ketika algoritma berubah karena visibilitas produk bisa turun drastis. Ketika perang harga terjadi, yang bertahan bukan selalu yang terbaik, melainkan yang paling mampu membakar margin. Margin UMKM semakin tipis atau bahkan minus karena ketergantungan pada skema bakar uang untuk iklan. Ketergantungan ini menciptakan risiko sistemik. Usaha yang tampak berkembang di permukaan, tetapi rapuh di dalam.

Rebalancing Power

Tentunya, opini ini tidak bermaksud menolak lokapasar hari ini. Lokapasar tetap sangat relevan sebagai kanal distribusi dan akuisisi pelanggan. Lokapasar adalah pintu masuk seller untuk menuju ekonomi digital. Namun, menjadikan lokapasar sebagai satu-satunya tulang punggung adalah strategi yang kurang elok. Yang dibutuhkan saat ini adalah kita sebut sebagai rebalancing, yaitu membangun kanal alternatif yang memberi kontrol lebih besar kepada pedagang. Setidaknya ada tiga langkah untuk me-rebalancing posisi tawar antara pedagang dan lokapasar.

Pertama adalah membangun kemandirian melalui microsite. Langkah paling mendasar untuk rebalancing adalah memiliki rumah sendiri di dunia digital. Microsite misalnya melalui platform website dapat memberikan cara cepat, murah, dan fleksibel untuk memulai membangun rumah sendiri bagi UMKM. Membuat microsite bisa dilakukan dalam hitungan menit.

Dengan microsite, pedagang bisa mengarahkan trafik langsung dari media sosial tanpa perantara. Selain itu UMKM dapat mengontrol narasi brand dan pelanggan, serta menghindari biaya komisi per transaksi.

Selain itu yang sering terlewat adalah nilai data. Di lokapasar, data pelanggan pada dasarnya dipinjamkan kepada pemilik lokapasar. Sedangkan ketika UMKM membangun microsite, data menjadi aset yang dimiliki pedagang secara utuh. Data seperti email, nomor WhatsApp, preferensi produk pelanggan bisa dikelola untuk membangun hubungan jangka panjang, bukan sekadar transaksi sesaat.

Langkah selanjutnya adalah integrasi dengan fintech untuk pembayaran yang lebih mandiri. Tidak bisa dipungkiri, salah satu kekuatan lokapasar adalah kemudahan dalam menerima dan melakukan pembayaran. Tentu saja, penjual online dapat menerima hasil penjualannya dengan mudah melalui mekanisme pembayaran yang telah disediakan oleh lokapasar. 

Namun hari ini, ekosistem fintech sudah cukup matang untuk menjadi alternatif. Dengan bekerja sama langsung dengan penyedia pembayaran, mulai dari payment gateway hingga e-wallet, pedagang dapat menyediakan berbagai opsi pembayaran tanpa harus tunduk pada komisi lokapasar, sehingga margin bisa lebih tebal. 

Selain itu bagi UMKM bekerjasama dengan fintech berarti akan mempercepat arus kas dan settlement yang lebih fleksibel. Sekaligus membangun sistem loyalitas berbasis pembayaran seperti cashback, membership, dan sebagainya.

Lebih jauh, kolaborasi dengan fintech membuka peluang inklusi keuangan yang diantaranya akses pembiayaan, paylater, hingga analisa transaksi. Ini bukan sekadar substitusi cara pembayaran, tetapi peningkatan kapabilitas bisnis.

Langkah ketiga adalah diversifikasi logistik melalui e-warehouse dan fulfillment center. Jarang orang yang mengenal, apa itu e-warehouse? Apa itu fulfillment center? Logistik sering menjadi alasan utama pedagang online bertahan di lokapasar. Saat ini layanan e-warehouse dan fulfillment center bisa diakses di luar ekosistem lokapasar sehingga semakin kompetitif dan semakin berkembang. 

Dengan menggandeng e-warehouse dan fulfillment center, pedagang bisa mengontrol biaya penyimpanan dan pengiriman secara lebih transparan sehingga pada akhirnya bisa mengurangi ketergantungan pada satu platform. Model ini memungkinkan seller membangun bentuk omnichannel yang sesungguhnya, bukan sekadar hadir di banyak tempat, tetapi terintegrasi secara operasional.

Dari Ketergantungan ke Kedaulatan

Transisi untuk rebalancing ini memang tidak instan dan tidak mudah. Butuh waktu, butuh ketelitian, dan butuh kesabaran. Lokapasar tetap bisa menjadi kanal utama dalam jangka pendek. Namun arah strategisnya jelas, yaitu dari mindset ketergantungan menuju kedaulatan. Pedagang yang mulai membangun aset digital sendiri hari ini akan memiliki daya tawar lebih kuat besok.

Ada tiga pergeseran mindset yang perlu didorong agar pedagang online atau UMKM untuk menemukan kedaulatannya dalam ekosistem ekonomi digital. Pertama, dari sekadar jualan produk di platform menjadi membangun ekosistem sendiri dari nol. Kedua, dari mengejar volume penjualan semata menjadi menjaga margin dan data. Ketiga, dari taktis jangka pendek menjadi strategi menabung untuk jangka panjang.

Kenaikan komisi lokapasar bukan sekadar tantangan biaya, melainkan sebuah sinyal. Sinyal bahwa lanskap digital sedang menjadi lebih dewasa (mature), dan hanya mereka yang beradaptasi yang akan bertahan. Ini merupakan sinyal yang berkata bahwa ketergantungan pada satu moda adalah sebuah kerentanan bisnis.

Bagi para pedagang online, saat ini adalah waktu yang tepat untuk tidak hanya menjadi pengguna ekosistem yang ada, tetapi juga arsitek bagi bisnis dan ekosistemnya sendiri. Manusia sering membahas tentang the future of work. Mungkin ini juga tentang future of commerce. Di mana situasi lebih terdesentralisasi, lebih mandiri, dan lebih berdaulat. Karena pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi di platform mana kita berjualan, tetapi siapa yang benar-benar mengendalikan bisnis kita.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Tiar N. Karbala
Staf Khusus Presiden Bagian UMKM dan Teknologi Digital

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.