Pakar yang Gagap, Pemengaruh yang Menjual Keyakinan

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Muhammad Iqbal
9/5/2026, 06.05 WIB

Media sosial tidak membunuh kepakaran. Ia hanya memaksa kepakaran masuk ke panggung yang lebih ramai, lebih cepat, dan lebih keras. Dulu, pakar berbicara dari ruang kuliah, jurnal, seminar, laporan resmi, atau wawancara media. Hari ini, pakar harus bersaing di layar ponsel yang sama dengan video komedi, iklan skincare, potongan ceramah, gosip politik, promosi investasi, dan nasihat hidup berdurasi satu menit.

Di ruang seperti itu, pengetahuan tidak otomatis menang. Orang sering tidak memilih penjelasan yang paling akurat. Mereka memilih penjelasan yang paling mudah dipahami, paling sering muncul, dan paling dekat dengan rasa berwalang hati mereka. Kebenaran perlu cara bicara. Data perlu diterjemahkan. Ilmu perlu masuk ke bahasa sehari-hari.

Pemengaruh (influencer) memahami perubahan ini lebih cepat tinimbang banyak pakar. Mereka tahu cara membuka cerita. Mereka tahu kapan harus tampak getis. Mereka tahu kapan harus tertawa. Mereka tahu bagaimana membuat pengikut merasa sedang ditemani, bukan sedang digurui. 

Emily Hund dalam The Influencer industry: The quest for authenticity on social media (Princeton University Press, 2023), menyebut industri pemengaruh sebagai mesin besar yang mengubah arus budaya, cara orang berkomunikasi, dan gagasan tentang siapa yang dianggap berpengaruh di ruang digital (Hund, 2023, hlm. 2).

Masalahnya bukan hanya pemengaruh terlalu pandai menjual. Masalah yang lebih dalam ialah banyak pakar gagal menjelaskan hal penting dengan bahasa yang dapat diterima publik.

Ilmu yang Kuat, Bahasa yang Terlalu Jauh

Banyak pakar punya pengetahuan yang kuat. Mereka bekerja dengan data. Mereka membaca hasil penelitian. Mereka memahami metode. Mereka menekuni satu bidang selama bertahun-tahun. Akan tetapi tatkala masuk ke ruang publik, sebagian dari mereka masih berbicara seperti sedang menulis laporan akademik. Kalimatnya panjang. Istilahnya berat. Nadanya berjarak. Mereka mengira publik akan percaya hanya karena ada gelar, jabatan, atau nama lembaga.

Cara itu makin sulit bekerja. Di media sosial, kepercayaan tidak selalu lahir dari otoritas formal. Kepercayaan tumbuh dari kehadiran. Orang mudah percaya pada sosok yang mereka lihat setiap hari. Orang mudah mengikuti suara yang menjawab kegelisahan mereka dengan bahasa sederhana. Orang merasa lebih dekat dengan seseorang yang muncul rutin di layar ponsel daripada dengan pakar yang hanya hadir sesekali melalui pernyataan resmi.

Tom Nichols dalam The death of expertise: The campaign against established knowledge and why it matters (Oxford University Press, 2024), meneroka krisis kepakaran sebagai gejala yang sudah lama tumbuh. Internet mempercepat masalah itu, tetapi internet bukan satu-satunya penyebab. Sikap meremehkan pengetahuan mapan memiliki akar sosial, budaya, dan politik nan panjang (Nichols, 2024, hlm. 7-8). Ia juga menulis bahwa masyarakat sering memperlakukan sedikit pengetahuan sebagai akhir dari belajar, bukan sebagai awal untuk memahami lebih jauh (Nichols, 2024, hlm. 8).

Kalimat itu terasa dekat dengan hidup kita hari ini. Seseorang menonton beberapa video tentang kesehatan, lalu merasa cukup untuk membantah dokter. Seseorang membaca satu utas tentang ekonomi, lalu merasa siap menghakimi kebijakan fiskal. Seseorang mengikuti satu akun politik, lalu merasa sudah memahami konflik dunia.

Mereka tidak selalu sementung. Mereka hanya terlalu cepat merasa tahu. Media sosial memberi rasa selesai sebelum proses berpikir benar-benar dimulai.

Keaslian yang Diproduksi

Pemengaruh menang karena mereka mampu menciptakan rasa intim. Mereka tampil dari dapur, kamar, mobil, kafe, ruang kerja, atau tempat liburan. Mereka bercerita ihwal rutinitas pagi, kegagalan pribadi, isi tas, pilihan makanan, cara mengatur uang, cara mengasuh anak, sampai cara memandang politik. Semua terasa akrab. Semua tampak seperti percakapan biasa.

Namun rasa akrab itu sering menjadi strategi. Hund menunjukkan bahwa keaslian menjadi pusat industri pemengaruh. Hubungan yang tampak personal dengan pengikut berubah menjadi nilai ekonomi. Ketika hubungan itu masuk ke sistem iklan, sponsor, metrik, dan algoritma, keaslian tidak lagi hanya menjadi pengalaman. Ia berubah menjadi sesuatu yang harus diproduksi, ditampilkan, dan dijual (Hund, 2023, p. 57).

Di titik ini, publik mudah terkecoh. Kalimat “saya sudah mencoba sendiri” sering terdengar lebih meyakinkan daripada “hasil penelitian menunjukkan”. Testimoni bergerak lebih cepat daripada telaah ilmiah. Cerita pribadi lebih mudah diingat daripada grafik. Pengalaman satu orang bisa tampak seperti kebenaran umum jika disampaikan dengan percaya diri dan diulang berkali-kali.

Tavi Gevinson, salah satu figur awal budaya pemengaruh, pernah melukiskan beban hidup ketika diri berubah menjadi merek. Ia merasa sulit mempercayai kemurnian niatnya sendiri setelah menjadi tenaga penjual bagi dirinya sendiri (Hund, 2023, hlm. 3). Pengakuan itu penting. Pemengaruh tidak hanya menjual barang. Mereka menjual kedekatan, citra diri, dan rasa percaya.

Dari Jualan Produk ke Jualan Cara Berpikir

Pada awalnya, pemengaruh tampak dekat dengan fesyen, makanan, kecantikan, perjalanan, dan gaya hidup. Kiwari wilayah mereka melebar. Mereka bicara tentang kesehatan, pendidikan anak, agama, politik, investasi, perang, dan identitas. Perubahan ini membuat budaya pemengaruh jauh lebih serius tinimbang sekadar promosi produk.

Hund mencatat bahwa pemengaruh kini tidak hanya memengaruhi apa yang orang beli. Mereka juga mulai memengaruhi apa yang orang pikirkan (Hund, 2023, p. 131). Inilah titik yang perlu dibaca dengan hati-hati.

Ketika pemengaruh membahas lipstik, sepatu, atau tempat makan, risikonya mungkin berhenti pada selera dan dompet. Walakin, ketika mereka membahas vaksin, pinjaman daring (pinjol), diet ekstrem, konflik politik, atau teori konspirasi, dampaknya bisa menyentuh keselamatan publik. Satu video keliru bisa menyebar lebih cepat daripada klarifikasi yang benar. Satu testimoni menyesatkan bisa mengubah keputusan banyak orang.

Rhoda Okunev dalam The psychology of evolving technology: How social media, influencer culture and new technologies are altering society (Apress, 2023), mencatat bahwa media sosial dapat mendorong orang untuk bergabung dalam komunitas, kampanye, dan gerakan tertentu. Sebagian gerakan itu bermanfaat, seperti penggalangan bantuan, edukasi warga, dan solidaritas sosial. Namun media sosial juga dapat menyebarkan kebohongan, memperkuat penipuan, dan mengeksploitasi orang rentan (Okunev, 2023, p. 28).

Oleh sebab itu, kritik terhadap media sosial tidak boleh hitam putih. Media sosial tidak sepenuhnya cendala. Ia bisa membuka ruang bagi suara kecil. Ia bisa mempertemukan warga yang terpisah. Ia bisa membuat isu penting mendapat perhatian. Akan tetapi tanpa tanggung jawab, media sosial juga bisa mengubah manipulasi menjadi hiburan harian.

Pakar Harus Hadir, Bukan Hanya Benar

Pakar tidak perlu berubah menjadi selebritas digital. Mereka tidak perlu meniru semua gaya pemengaruh. Tetapi mereka perlu belajar satu hal penting. Pemengaruh hadir di tempat publik berada. Mereka tidak menunggu seminar. Mereka tidak menunggu orang membaca laporan panjang. Mereka masuk ke layar ponsel, membuka percakapan, dan mengulang pesan sampai orang mengingatnya.

Pakar perlu melakukan hal serupa tanpa kehilangan martabat keilmuan. Isu sulit harus bisa dijelaskan dalam beberapa tingkat. Ada penjelasan singkat untuk publik umum. Ada penjelasan menengah untuk orang yang ingin memahami lebih jauh. Ada penjelasan lengkap untuk komunitas akademik. Dengan cara itu, ilmu tidak kehilangan kedalaman, walakin tetap memiliki pintu masuk yang mudah.

Pakar juga perlu berani mengatakan “kami belum tahu” ketika data belum cukup. Kejujuran seperti ini penting. Publik lebih mudah percaya kepada orang yang mengakui batas pengetahuannya daripada kepada orang yang selalu tampil seolah-olah memiliki semua jawaban.

Media juga memegang tanggung jawab besar. Redaksi tidak cukup menghadirkan pakar sebagai kutipan pendek di akhir berita. Media perlu memberi ruang bagi proses berpikir pakar. Pembaca perlu mengetahui bagaimana data dikumpulkan, mengapa satu kesimpulan diambil, apa batas argumennya, dan siapa yang memiliki pandangan berbeda. Dengan begitu, kepakaran tidak hadir sebagai perintah. Ia hadir sebagai kerja berpikir yang bisa diperiksa.

Warga Perlu Lebih Lambat Percaya

Arkian, publik juga tidak boleh menyerahkan akal sehat kepada algoritma. Setiap pengguna media sosial perlu bertanya sebelum percaya. Siapa yang bicara. Apa kepentingannya. Apa sumbernya. Apakah ia sedang menjual sesuatu. Apakah klaimnya bisa diperiksa. Apakah ia mengubah pengalaman pribadi menjadi kebenaran umum.

Pertanyaan semenjana itu penting karena ekonomi perhatian hidup dari reaksi cepat. Algoritma menyukai emosi. Pasar menyukai orang yang mudah diyakinkan. Politik menyukai kemarahan yang mudah diarahkan. Jika warga berhenti memeriksa informasi, mereka berubah menjadi pembeli keyakinan.

Pakar yang patah pucuk bicara meninggalkan ruang kosong. Pemengaruh yang lihai menjual mengisi ruang itu dengan cerita, wajah, dan produk. Kita tidak perlu membenci pemengaruh. Banyak dari mereka bekerja keras, kreatif, dan memberi manfaat. Walakin kita harus menolak keadaan ketika otoritas publik ditentukan oleh jumlah pengikut, bukan oleh tanggung jawab pengetahuan.

Kepakaran perlu turun dari menara, tetapi tidak boleh berubah menjadi dagangan kosong. Pemengaruh boleh memengaruhi publik, tetapi tidak boleh bebas dari tanggung jawab. Media sosial perlu menjadi ruang percakapan yang sehat, bukan pasar tempat rasa percaya diperjualbelikan setiap hari.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Muhammad Iqbal
Sejarawan UIN Palangka Raya

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.