Absennya BUMD di Program Prioritas Presiden

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Wisnu Aji Nugroho
19/6/2026, 07.05 WIB

Memasuki tahun kedua pemerintahan Prabowo-Gibran, ada ironi yang sulit diabaikan: BUMD yang semestinya menjadi mesin ekonomi daerah justru kerap hanya menjadi penonton di saat program prioritas presiden dijalankan. Di saat negara mendorong Sekolah Rakyat, Makan Bergizi Gratis, dan Koperasi Desa Merah Putih, banyak BUMD belum tampil sebagai penggerak yang nyata di lapangan. 

Data Kementerian Dalam Negeri menunjukkan jumlah BUMD di Indonesia mencapai lebih dari 1.100 entitas. Secara jumlah, ini adalah kekuatan besar. Namun secara kualitas, banyak BUMD masih bergulat dengan tata kelola lemah, kepemimpinan yang belum sepenuhnya berbasis merit, dan kinerja yang belum memberi nilai tambah sepadan bagi daerah. 

Sebagai praktisi yang kerap menangani isu BUMN/BUMD dan tata kelola daerah, saya melihat masalah utamanya bukan sekadar minim kapasitas, melainkan salah arah fungsi. BUMD belum diposisikan sebagai instrumen strategis untuk menopang agenda nasional. 

Akibatnya, saat pemerintah pusat menggerakkan program prioritas, BUMD justru tidak hadir sebagai mitra  aktif, melainkan sekadar pengamat di pinggir lapangan. 

Padahal, Sekolah Rakyat membutuhkan dukungan logistik dan ekosistem layanan yang bisa  dipercepat melalui BUMD. Makan Bergizi Gratis memerlukan rantai pasok pangan yang  efisien, dekat dengan produsen lokal, dan dapat diawasi dengan baik. Koperasi Desa Merah  Putih pun akan jauh lebih kuat bila BUMD sehat hadir sebagai mitra usaha, bukan badan usaha  yang hanya hidup dari penyertaan modal. 

Karena itu, memasuki tahun kedua pemerintahan, pembenahan BUMD tidak boleh lagi  ditunda. Pemerintah perlu memetakan seluruh BUMD secara tegas, mengelompokkan mana  yang sehat, mana yang harus direstrukturisasi, dan mana yang layak digabung atau dihentikan. 

Pengisian jabatan pimpinan juga harus benar-benar berbasis kompetensi, integritas, dan rekam  jejak, bukan sekadar kompromi politik lokal. 

Langkah berikutnya adalah memastikan BUMD masuk ke dalam rantai pasok program prioritas  Presiden. BUMD pangan harus terhubung dengan skema penyediaan bahan baku untuk Makan  Bergizi Gratis. 

BUMD jasa dan logistik harus ikut menopang distribusi Sekolah Rakyat. BUMD yang bergerak di sektor strategis juga perlu diarahkan untuk memperkuat koperasi desa agar ekosistem ekonomi rakyat benar-benar terbentuk dari bawah. 

Jika tidak ada langkah konkret, BUMD akan terus menjadi simbol besar yang kosong isi. Ia tampak hidup di atas kertas, tetapi tidak hadir saat negara membutuhkan daya dorong di daerah.  

Apabila itu dibiarkan, maka program prioritas presiden akan berjalan tanpa sokongan penuh  dari mesin ekonomi daerah yang justru seharusnya menjadi ujung tombaknya. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Wisnu Aji Nugroho
Dewan Pengawas dan Pengajar Ikatan Komite Audit Indonesia

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.