Perempuan Pesisir dan Bahaya di Balik Cara Bertahan dari Krisis Iklim

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Muhammad Maulidan
4/8/2026, 06.05 WIB

Di pesisir kota Semarang, persoalan yang dihadapi warga bertambah sulit akibat perubahan iklim. Dari rob yang semakin tinggi dan penurunan tanah masif, hingga penurunan kualitas air. Kehidupan warga semakin sulit, terutama nelayan, yang mata pencahariannya sangat dipengaruhi musim dan cuaca. Akibatnya, kondisi warga semakin rentan.

Berbagai cara dilakukan untuk bertahan dari krisis iklim. Bagi perempuan di pesisir Semarang, kerang hijau menawarkan mata pencaharian baru di tengah kesulitan ekonomi yang timbul akibat perubahan iklim. 

Akan tetapi, mata pencaharian ini dapat menimbulkan bahaya baru. Alih-alih adaptasi, mata pencaharian baru ini menunjukkan gejala maladaptasi. Ada potensi timbulnya berbagai dampak negatif. Bukan hanya pada mereka yang terlibat di dalamnya, tetapi juga konsumen akhir yang mengonsumsi kerang hijau. 

Kebijakan tanggap iklim semestinya juga memperhatikan persoalan ini. Pembahasan tentang dampak iklim seharusnya tidak hanya tentang pengukuran karbon yang keluar dari industri. Namun, juga mencakup siapa yang menanggung guncangan, dan sejauh mana kebijakan negara sudah mengakomodasi kepentingan mereka.

Pesisir Tambak Lorok adalah salah satu sentra kerang hijau di Jawa Tengah. Persoalannya, Tambak Lorok juga merupakan wilayah perairan yang menanggung pencemaran berat dari kawasan industri, PLTU batu bara, dan limbah domestik yang mengalir lewat Banjir Kanal Timur/Barat.

Karena hidup dengan menyaring air, kerang hijau menimbun logam berat dari perairan itu yang mengendap di dalam tubuhnya. Menurut hasil kajian Kusuma dkk (2022), kandungan logam berat timbal (Pb) dalam jaringan lunak kerang hijau (antara 3,2 mg/kg hingga 13,4 mg/kg). Angka ini telah melewati batas baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah (1,5 mg/kg). 

Mengonsumsi kerang hijau artinya konsumen tengah menimbun timbal di dalam tubuhnya. Begitu pula nelayan yang terpapar logam seiring kegiatan mengolah kerang hijau. 

Krisis iklim menimbulkan berbagai ketegangan di Tambak Lorok. Bahaya besar akibat ancaman krisis iklim semakin nyata, warga tidak memiliki banyak pilihan untuk melakukan adaptasi. Terkait kerang hijau, salah seorang warga menyatakan bahwa “beberapa tahun lalu mereka tidak ada di sini.” 

Kerang hijau di Tambak Lorok memperlihatkan dampak perubahan iklim ikut menimpa siapa pun, termasuk konsumen yang jauh dari pesisir. Dampaknya telah menjadi threat multiplier yang menjalar lewat struktur sosial ekonomi yang sudah ada.

Seorang nelayan yang kami temui di Tambak Lorok mengungkapkan, 2025 merupakan tahun tersulit bagi nelayan. Dia adalah nelayan veteran yang memiliki pengalaman melaut selama 45 tahun. 

Menurutnya, meskipun melaut masih memberikan hasil, tetapi hasilnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pola musim mulai kacau sejak awal 2020-an, dan hasil tangkapan pun sangat sulit diprediksi. 

Ketidakpastian ini sangat berpengaruh terhadap persiapan nelayan melaut. Misalnya, pada Juli-Oktober normalnya adalah musim rajungan, akan tetapi tidak banyak rajungan tersedia. Alhasil, banyak nelayan kemudian beralih menangkap cumi agar bisa menghasilkan. Masalahnya, alat tangkap cumi berbeda dengan rajungan.

Peralihan seperti ini terus dilakukan setiap satu-dua hari karena hasil tangkapan cepat habis. Padahal, menyiapkan peralatan melaut memerlukan biaya yang sangat besar. “Saya tidak tahu apakah ini atas perubahan iklim atau tidak, tapi kami sudah tidak dapat membaca musim,” ungkapnya mengakhiri pembicaraan kami.

Perubahan iklim memang bukan sebab tunggal kondisi yang terjadi di pesisir Semarang. Studi Hendi Kristiana dkk. (2021) menunjukkan hasil tangkapan perikanan skala kecil Kota Semarang merosot tajam dari sekitar 606 ton pada 2017 menjadi 352 ton pada 2019. Di sisi lain, jumlah alat tangkap justru naik dari 466 menjadi hampir 1.200 unit. Perairan pesisir Semarang telah mengalami penangkapan ikan yang berlebihan (overfishing).  

Namun, krisis iklim memperparah persoalan yang ada. Para nelayan menyadari bahwa perikanan tangkap di Pesisir Semarang sudah menunjukkan gejala penangkapan berlebih. Salah satu solusi yang mereka rekomendasikan adalah menciptakan mata pencaharian alternatif bagi nelayan. 

Sejalan dengan kesadaran ini, jumlah rumah tangga nelayan tangkap laut di Kota Semarang turun drastis. Dari 1.259 pada 2023 menjadi 1.058 rumah tangga pada 2024, atau berkurang sekitar 16% hanya dalam setahun. 

Dalam kondisi ini, ancaman ekonomi semakin nyata karena lapangan pekerjaan di darat tidak selalu tersedia. Di komunitas nelayan, beban atas perubahan iklim sering kali jatuh lebih berat pada perempuan. 

Hasil wawancara kami menyebutkan, lebih dari separuh rantai kerja dipegang oleh kaum perempuan. Mereka bekerja di balik layar seperti membeli solar sebagai bahan bakar, menyiapkan bekal makanan untuk melaut, dan membagi hasil tangkapan dan menjualnya. 

Bahkan, pada saat suami tidak dapat melaut dan tidak mendapat penghasilan, istri menjadi penopang ekonomi rumah tangga. 

Pola ini ditemukan bukan hanya di Pesisir Semarang. Laporan FAO, The State of World Fisheries and Aquaculture 2024, menyebutkan bahwa secara global perempuan hanya mencakup sekitar 24% dari jumlah nelayan dan pembudidaya ikan.  

Akan tetapi, mereka mengisi 62% pekerja di sektor pengolahan. Artinya, ketika laki-laki yang menangkap, perempuanlah yang membersihkan, mengupas, dan menyiapkan hasilnya. 

Perempuan justru berada di segmen paling informal dan paling jarang diakui. Perempuan-perempuan yang membersihkan kerang di Pesisir Semarang itu adalah wajah lokal dari pembagian kerja tersebut. 

Di atas kertas, peralihan ke kerang hijau mencerminkan adaptasi ekonomi perempuan dan nelayan Tambak Lorok dalam menghadapi risiko iklim. Namun, di situlah titik persoalannya. 

Mengacu kepada IPCC Sixth Assessment Report, batas antara adaptasi yang berhasil dan maladaptasi terkadang samar, karena berada pada dua ujung dari satu rentang garis yang sama. 

Suatu tindakan adaptasi dinilai dari manfaatnya bagi manusia dan ekosistem, kontribusinya pada keadilan, dan sinergi atau benturannya dengan upaya iklim lain. 

Sebuah upaya adaptasi dapat berubah menjadi maladaptasi ketika banyak dampak negatif yang ditimbulkannya. Singkatnya, maladaptasi adalah cara bertahan dari krisis iklim yang alih-alih mengurangi risiko, malah memindahkan atau melahirkan bahaya baru.

Persoalannya, kerang hijau di Tambak Lorok terkait dengan banyak hal. Tidak jauh dari Kota Semarang terdapat PLTU yang menggunakan batu bara. Di Semarang juga terdapat pelabuhan besar dan kawasan industri. 

Hal-hal ini telah mencemari lingkungan, yang berdampak buruk pada hasil tangkapan. Ketika dampak perubahan iklim semakin terasa, tangkapan ikan mereka semakin menurun sehingga berimbas kepada penghidupan ekonomi mereka. Akibatnya adalah banyak perempuan beralih ke kerang hijau, yang bahkan dibudidayakan. 

Alasannya sederhana, kerang hijau berfungsi sebagai penjernih air yang menyaring kotoran. Tetapi, mekanisme penyaringan tersebut membuat kerang hijau menimbun logam berat di dalam tubuhnya. 

Dari tangan nelayan, harga kerang hijau sekitar Rp4.000 per kg, dan naik menjadi Rp10.000 hingga Rp12.000 di pasar setelah dibersihkan. Perempuan berperan besar dalam rantai bisnis ini melalui pembersihan kerang hijau. Bagi perempuan di Tambak Lorok, dampak nyata yang dihadapi adalah gatal-gatal di kulit akibat limbah yang menumpuk dalam kerang hijau.

Sebagai cara bertahan dari dampak perubahan iklim, pembersihan kerang hijau tidak menghapus risiko iklim. Ia hanya memindahkannya dari pencemaran di laut ke tubuh perempuan yang membersihkan kerang hijau. 

Beban guncangan iklim yang seharusnya ditanggung bersama jatuh ke pundak mereka yang paling tidak terlihat. Ketimpangan lama antara laki-laki dan perempuan pun semakin dalam. Adaptasi semacam ini, alih-alih mereduksi, justru menumpuk kerentanan baru.

Kami tidak mengatakan bahwa kesehatan perempuan pembersih kerang hijau itu pasti bermasalah karena aktivitas membersihkan kerang hijau. Wawancara beberapa saat dan keluhan gatal di tangan belum cukup untuk membuktikan persoalan kesehatan, terlebih jika dampaknya jangka panjang. 

Data paparan pada tubuh mereka juga belum tersedia. Yang bisa kami katakan adalah pekerjaan yang mereka tempuh demi bertahan hidup menempatkan mereka pada risiko baru. 

Ini belum mempertimbangkan dampak kandungan logam berat timbal (Pb) dalam kerang hijau (yang melebihi ambang batas yang dianggap aman) terhadap kesehatan mereka yang mengonsumsinya.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana kebijakan negara merespons persoalan ini? Respons kebijakan negara terhadap risiko perubahan iklim di pesisir Semarang masih didominasi oleh pembangunan beton penahan air laut. 

Tanggul laut sepanjang sekitar 3,6 km berhasil meredam banjir rob, dengan keberhasilan diukur dari panjang tanggul serta tinggi air yang tertahan. Namun tidak ada respons kebijakan yang menghitung berapa banyak perempuan yang beralih ke kerja produktif prekarius (membersihkan kerang hijau), dan dampak yang timbul akibat peralihan ini. 

Wacana besar kita terkait adaptasi iklim, dan bahkan transisi energi, hampir selalu buta gender. Ia bicara megawatt dan sentimeter, namun jarang menyentuh siapa yang menanggung guncangan.

Para perempuan Tambak Lorok tidak sedang menunggu bantuan. Mereka beradaptasi dengan cara mereka sendiri, jauh sebelum kebijakan datang. Persoalannya, adaptasi itu kini justru melahirkan bahaya baru. 

Maka pertanyaannya bukan lagi apakah warga sanggup bertahan, tetapi sampai kapan mereka harus menanggung sendiri. Laut yang surut memang tidak menenggelamkan semua orang dengan cara yang sama, dan tidak semua yang selamat dari rob benar-benar aman.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Muhammad Maulidan
Researcher KOMITMEN-Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.