Hujan Tak Menghapus Tanggung Jawab

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Muhammad Iqbal
17/10/2026, 07.15 WIB

Di tengah asap, prakiraan hujan ikut menentukan rencana keluarga. Orangtua menimbang apakah anak boleh keluar rumah. Pekerja mempertimbangkan perjalanan. Jendela tetap tertutup, sementara orang bertanya kapan udara akan membaik.

Petugas pemadam menunggu hujan untuk membantu pekerjaan mereka. Warga mengharapkannya agar bisa kembali beraktivitas tanpa terus mencemaskan udara. Harapan itu bersahaja. Ketika pilihan semakin terbatas, kabar tentang kemungkinan hujan terasa mendesak.

Pada September 2026, Reuters melaporkan peringatan pemerintah bahwa kebakaran hutan dan lahan dapat berlangsung hingga awal November. Lebih dari 50 pesawat mendukung pemadaman dan modifikasi cuaca. Pengerahan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan operasi darurat. Namun, kita juga perlu mengetahui apa yang terjadi sebelum api meluas. Peringatan apa yang sudah masuk? Siapa yang menindaklanjutinya? 

Saat petugas berjuang mengendalikan kebakaran, pertanyaan itu mungkin harus menunggu. Sesudah hujan turun, pemeriksaan perlu berlanjut.

Kelegaan nan Wajar

Warga tentu ingin segera kembali bekerja, mengantar anak ke sekolah, dan membuka jendela. Mereka sudah menghabiskan tenaga untuk menyesuaikan kehidupan. Tidak masuk akal meminta mereka terus memelihara kecemasan agar pemerintah tetap memperhatikan karhutla.

Lembaga publik harus melanjutkan pekerjaannya ketika perhatian warga beralih ke urusan sehari-hari.

Udara yang membaik belum menjelaskan penyebab kebakaran. Berkurangnya titik api belum menunjukkan apakah pengawasan berjalan. Kita masih perlu mengetahui kepatuhan pengelola lahan, kesiapan petugas, serta respons terhadap laporan awal.

Laporan jumlah personel dan penerbangan membantu publik memahami operasi pemadaman. Petugas lapangan laik memperoleh penghargaan atas pekerjaan mereka. Tetapi evaluasi harus menjangkau keputusan sebelum operasi itu berlangsung. Kalau seluruh perhatian tertuju pada kesibukan menghadapi api, kita akan kesulitan mengenali pekerjaan pencegahan yang gagal.

Ada perbedaan antara berhasil mengatasi keadaan darurat dan berhasil mengurangi kemungkinan keadaan itu terulang.

Siapa yang Kita Maksud?

Wes Jackson dan Robert Jensen mengajukan pertanyaan yang berguna dalam percakapan tentang kerusakan ekologis: siapa yang kita maksud ketika mengatakan “kita”?

Dalam An Inconvenient Apocalypse: Environmental Collapse, Climate Crisis, and the Fate of Humanity, mereka mengakui bahwa kehidupan nyaman mereka ikut bergantung pada penggunaan sumber daya. Pengakuan tersebut tidak membuat mereka menyamakan tanggung jawab semua orang. Kekayaan, kekuasaan, dan kontribusi terhadap kerusakan memiliki pembagian yang berbeda (Jackson & Jensen, 2022, hlm. 16–20).

Cara berpikir itu membantu kita menilai seruan tentang tanggung jawab bersama. Kita dapat memeriksa kebiasaan konsumsi sendiri sambil tetap menuntut kewajiban pihak yang memiliki kuasa lebih besar.

Warga dapat melaporkan api. Mereka tidak memiliki kewenangan memeriksa seluruh kewajiban perusahaan. Petugas pemadam menghadapi bahaya secara langsung, tetapi tidak menentukan semua keputusan penggunaan lahan. Pemerintah, pengelola lahan, dan masyarakat mempunyai peran berbeda.

Seruan bersama baru berguna jika setiap pihak mengetahui tugasnya. Publik juga harus tahu kepada siapa mereka dapat meminta jawaban tatkala tugas tersebut terbangkang.

Tiga Wilayah, Banyak Keadaan

Kalimantan, Sumatra, dan Papua membutuhkan perhatian nasional tanpa kehilangan pemeriksaan setempat. Kondisi lahan, penggunaan ruang, akses air, dan kemampuan penanganan berbeda antarlokasi. Kita perlu berhati-hati sebelum memakai penyebab kebakaran di satu tempat untuk menjelaskan kejadian di tempat lain.

Pengalaman sebelumnya dapat membantu menyusun pertanyaan. Jawabannya tetap harus mengikuti bukti.

Di mana api pertama muncul? Siapa mengelola lahannya? Bagaimana kondisinya sebelum kebakaran? Kapan pengelola mengetahui ancaman, dan apa tindakannya?

Rincian itu menentukan perbaikan. Peralatan yang tercatat tersedia mungkin tidak berfungsi saat petugas membutuhkannya. Sumber air mungkin sulit dijangkau. Bisa pula pengelola mengabaikan peringatan. Setiap kemungkinan membutuhkan pemeriksaan dan tindak lanjut yang berbeda.

Ketelitian melindungi publik dari tuduhan tanpa dasar. Ia juga mencegah pihak yang lalai berlindung di balik penjelasan umum perihal kemarau.

Prakiraan dan Persiapan

Kekeringan dapat meningkatkan risiko kebakaran dan menyulitkan pemadaman. Karena itu, informasi cuaca seharusnya mengubah persiapan.

Ketika prakiraan menunjukkan risiko meningkat, apakah patroli bertambah? Apakah pengelola memeriksa sumber air dan peralatan? Siapa memastikan laporan warga segera memperoleh respons?

Kita dapat menilai kesiapan melalui hubungan antara informasi dan tindakan. Pemeriksaan perlu mempertimbangkan apa yang telah diketahui, siapa yang berwenang mengambil keputusan, dan apa yang kemudian ia lakukan.

Jackson dan Jensen menekankan bahwa pengetahuan mengenai akibat ekologis membawa tanggung jawab untuk mengubah tindakan. Orang pada masa sebelumnya mungkin belum memahami seluruh akibat pekerjaannya. Pengetahuan sekarang memberi alasan lebih kuat untuk mengoreksi keputusan yang merusak (Jackson & Jensen, 2022, hlm. 31–32).

Pemerintah tidak menentukan kedatangan hujan. Walakin, pemerintah dapat menjelaskan mengapa suatu peringatan menghasilkan tindakan tertentu, atau justru tidak menghasilkan tindakan apa pun. Penjelasan itu diperlukan agar evaluasi mempunyai dasar.

Beban di Rumah

Di rumah tangga, karhutla menghadirkan pilihan yang musykil. Pekerja membutuhkan penghasilan, sementara perjalanan menambah paparan. Orangtua ingin mendampingi anak, tetapi pekerjaan tetap menuntut kehadiran.

Imbauan mengurangi aktivitas perlu memperhitungkan keterbatasan tersebut. Siapa membantu keluarga menjalankannya? Bagaimana layanan kesehatan menjangkau warga? Pengaturan kerja seperti apa yang memungkinkan perlindungan tanpa menghilangkan penghasilan?

Jackson dan Jensen membedakan kebutuhan dasar, kebutuhan sosial, dan kemewahan tatkala membahas pembatasan penggunaan sumber daya (Jackson & Jensen, 2022, hlm. 53–54). Pembedaan itu mengingatkan kita untuk menyusun prioritas. Perlindungan kesehatan, keselamatan kerja, dan akses belajar membutuhkan dukungan yang dapat warga gunakan.

Keluarga yang berhasil menyesuaikan diri mungkin sudah mengorbankan waktu kerja, tabungan, atau kesempatan belajar. Pemerintah perlu memperhitungkan pengorbanan tersebut ketika menilai dampak kebakaran.

Kemampuan bertahan tidak membuktikan bahwa perlindungan sudah cukup.

Setelah Hujan

Arkian, pekerjaan sesudah hujan perlu memiliki tenggat. Pemerintah dapat memulai dengan laporan yang memuat lokasi kebakaran, hasil pemeriksaan, tindakan korektif, penanggung jawab, dan jadwal penyelesaian.

Laporan itu harus berkembang mengikuti prosesnya. Publik perlu mengetahui perkara yang berlanjut maupun pemeriksaan yang tidak menemukan pelanggaran. Temuan ihwal respons lambat, peralatan rusak, atau akses air yang terbatas harus menghasilkan perbaikan sebelum periode rawan berikutnya.

Dengan begitu, evaluasi memberi manfaat yang dapat diperiksa. Warga tidak harus menunggu kebakaran baru untuk mengetahui apakah pemerintah telah belajar.

Mereka berhak menyambut hujan, membuka jendela, lalu kembali mengurus kehidupannya. Tanggung jawab untuk melanjutkan pemeriksaan tetap berada pada lembaga yang berwenang. Ketika udara membaik, pekerjaan itu mungkin kehilangan pengindahan. Justru saat itulah pemerintah perlu menunjukkan bahwa pertanggungjawaban masih berjalan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Muhammad Iqbal
Sejarawan UIN Palangka Raya

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.