Indonesia bersama Brasil dan Republik Demokratik Kongo sepakat membentuk kerja sama untuk pengelolaan hutan hujan tropis dalam COP27 di Mesir. Kawasan hutan hujan tropis di tiga negara ini mencapai 52% dari total di dunia.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, selain hutan hujan tropis ketiga negara juga pemilik hutan gambut dan mangrove terbesar di dunia.  

Oleh karena itu, penting bagi ketiga negara ini untuk memperkuat aliansi strategis guna meningkatkan pengaruh dalam perundingan perubahan iklim di tingkat global.

“Kami berkomitmen menjaga dan merestorasi hutan tropis yang merupakan aset kritikal sekaligus menjamin kesejahteraan masyarakat,” kata Luhut Selasa 6 November 2022 lalu.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Brazil, Marcus Paranagua mengatakan, kesepakatan ini sebetulnya sudah diinisiasi sejak COP26 pada November 2021 di Glasgow. Pengumuman kerja sama ini menandakan dimulainya kesepakatan meski masih menunggu beberapa hal untuk diresmikan.

“Para pemilik hutan hujan tropis harus menjadi pemimpin perundingan terkait dengan perdagangan karbon dan restorasi di tingkat internasional,” ujar Paranagua

Aliansi ini dapat menjadi awal kerja sama untuk perdagangan dan pembiayaan karbon demi konservasi hutan tropis masing-masing negara. Konservasi ini penting untuk menjaga suhu global tidak naik lebih tinggi dari 1,5 derajat celcius di atas tingkat pra-industrial.

Mengutip data World Resources Institute, Brazil memiliki hutan hujan tropis seluas 315,4 juta hektare (ha). Sementara, Republik Demokratik Kongo memiliki 98,8 juta ha dan Indonesia memiliki 83,8 juta ha.

Sejak 2000, ketiga negara ini kehilangan luas hutan hingga jutaan hektare tiap tahunnya. Penebangan hutan untuk penghasilan komoditas menjadi alasan utama. Penebangan ini biasa dilakukan untuk industri pertambangan, perkebunan, dan peternakan.