World Economic Forum (WEF) menjadi salah satu panggung global paling strategis bagi para pemimpin negara untuk membaca arah perubahan dunia sekaligus menyampaikan posisi nasional di tengah dinamika ekonomi, politik, dan geopolitik global.
Bagi Indonesia, kehadiran Presiden di forum ini tidak hanya sekadar seremoni diplomatik, melainkan cerminan bagaimana negara memosisikan diri dalam peta global yang terus berubah.
Dalam rentang waktu 2011 hingga 2026, tiga Presiden Indonesia hadir di WEF dengan pesan yang berbeda, sejalan dengan tantangan global di masanya. Mulai dari isu pertumbuhan hijau pascakrisis finansial global, pemulihan pandemi Covid-19 yang timpang, hingga kebutuhan akan stabilitas dan perdamaian di tengah konflik geopolitik dan fragmentasi ekonomi dunia.
Pada WEF 2011 di Davos, Swis, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membawa narasi green growth dan pembangunan inklusif. Di tengah dunia yang baru keluar dari krisis finansial 2008, Indonesia tampil menawarkan pendekatan pembangunan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
Konsep “pro-growth, pro-job, pro-poor, dan pro-environment” menjadi pesan kunci, sekaligus upaya menempatkan Indonesia sebagai contoh negara berkembang yang stabil, demokratis, dan berkomitmen pada agenda penurunan emisi.
Satu dekade kemudian, Presiden Joko Widodo berbicara di WEF 2022 yang digelar secara virtual, saat dunia masih bergulat dengan pandemi Covid-19. Pesan Indonesia bergeser ke isu keadilan global dan kerja sama internasional. Jokowi menyoroti ketimpangan pemulihan, terutama terkait distribusi vaksin dan gangguan rantai pasok global.
Di tengah meningkatnya fragmentasi dan proteksionisme, Indonesia menekankan bahwa pemulihan hanya mungkin terjadi melalui kolaborasi global, pembangunan inklusif, dan penguatan ketahanan ekonomi.
Memasuki WEF 2026, Presiden Prabowo Subianto membawa pesan yang berakar pada stabilitas, perdamaian, dan ketahanan ekonomi jangka panjang. Di tengah konflik regional, ketegangan geopolitik, dan transisi energi global, Indonesia menegaskan posisi sebagai negara nonblok yang berperan sebagai jembatan antara Global South dan Global North.
Fokusnya, menekankan pada ketahanan pangan, energi, serta investasi strategis menjadi penekanan utama, dengan pesan bahwa pembangunan ekonomi tidak akan berkelanjutan tanpa stabilitas politik dan keamanan.
Ragam rangkaian pidato ini menunjukkan bagaimana pesan Indonesia di WEF terus berkembang, mengikuti tantangan global, sekaligus mencerminkan prioritas nasional di setiap era kepemimpinan.