Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama konflik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat, kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi kembali menguat.
Ketergantungan banyak negara pada energi fosil membuat gejolak politik di kawasan Timur Tengah kerap berimbas pada lonjakan harga energi dunia. Dalam situasi ini, percepatan transisi menuju energi terbarukan menjadi semakin mendesak, termasuk bagi Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt (GW) dalam kurun dua tahun ke depan. Target tersebut menjadi salah satu langkah besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil.
Jika inisiatif tersebut tercapai, kapasitas PLTS nasional akan meningkat secara drastis dalam waktu singkat. Selama ini, laju pembangunan PLTS di Indonesia masih relatif lambat. Pemasangan kapasitas baru umumnya berada di bawah 1 GW per tahun.
Dengan target pembangunan sekitar 50 GW per tahun, percepatan yang direncanakan pemerintah setara dengan lompatan hingga 100 kali lipat dibandingkan tren pembangunan sebelumnya. Skala ini menempatkan Indonesia pada jalur ekspansi energi surya yang sangat agresif.
Dalam rancangan pengembangannya, sebagian besar kapasitas PLTS akan terhubung dengan jaringan listrik nasional milik PT PLN (Persero). Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS sebesar 89,1 gigawatt peak (GWp) yang terhubung ke jaringan PLN, didukung oleh sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 124,1 gigawatt-hour (GWh). Sistem penyimpanan ini diperlukan untuk menjaga stabilitas pasokan listrik dari sumber energi surya yang bersifat intermiten.
Selain itu, terdapat pula pengembangan PLTS non-jaringan atau off-grid dengan kapasitas 11,7 GWp yang akan dilengkapi dukungan BESS sebesar 21,8 GWh. Model ini dirancang untuk menjangkau wilayah-wilayah yang belum terhubung secara optimal dengan jaringan listrik utama, termasuk daerah terpencil dan kepulauan.
Dibandingkan dengan negara lain, skala ambisi Indonesia masih jauh dari negara dengan instalasi tenaga surya terbesar di dunia seperti China, yang mencatat pemasangan ratusan gigawatt dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, percepatan pembangunan hingga puluhan gigawatt per tahun berpotensi menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar tenaga surya yang tumbuh paling cepat di dunia, sekaligus membuka peluang investasi besar dalam sektor energi bersih.