KOMIK: Krisis Minyak dan Gas Intai Dunia

Leoni Susanto
10 April 2026, 06:55

Pengumuman gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) tidak cukup dalam membendung volatilitas harga minyak. Serangan Israel ke Lebanon pada Kamis (8/4) waktu Indonesia bahkan mengancam kelanjutan gencatan senjata tersebut.

Iran juga belum membuka Selat Hormuz sepenuhnya dan menerapkan tol untuk setiap kapal yang lewat. Presiden AS Donald Trump mengatakan penerapan biaya tol ini bukan kesepakatan antara keduanya.

"Ada laporan Iran menarik biaya untuk setiap kapal yang melewati Selat Hormuz. Tidak seharusnya mereka melakukan itu, dan jika benar, mereka perlu berhenti," kata Trump dalam akun Truth Social-nya, Jumat (10/4) waktu Indonesia.

Tarik ulur antara pihak berseteru ini membuat harga dan pasokan minyak masih sulit ditebak. Sempat turun menjadi US$92 per barel usai pengumuman gencatan senjata, harga minyak WTI kembali menyentuh US$ 98 per barel pada hari ini.

Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol menyebut, gangguan pasokan energi global akibat penutupan Selat Hormuz ini berdampak lebih serius dibandingkan krisis pada 1973, 1979, dan 2022 jika digabungkan.

“Dunia tidak pernah mengalami gangguan pasokan energi dengan skala sebesar ini,” kata Fatih Birol kepada surat kabar Le Figaro dilansir Reuters, Selasa, 7 April

Imbasnya, sejumlah negara, terutama di Asia, mengumumkan kondisi kedaruratan energi. Mulai dari Filipina yang sempat mengumumkan darurat energi nasional hingga Jepang yang mulai melepas cadangan minyak strategisnya. Per 23 Maret, Global Petrol Prices mencatat setidaknya 106 negara melaporkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam sebulan terakhir.

Indonesia juga mengumumkan sejumlah langkah penghematan energi nasional, mulai dari kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) sekali seminggu hingga efisiensi anggaran. Di sisi lain, pemerintah memastikan pasokan BBM dalam negeri aman dan tidak akan menaikkan harga BBM subsidi.

“Kami siap tidak menaikkan harga BBM subsidi sampai akhir tahun dengan asumsi rata-rata harga minyak dunia US$100 per barel sudah dihitung. Kalau nonsubsidi bukan hitungan kami. (BBM) subsidi aman tidak usah takut, kamis sudah hitung,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin, 6 April.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Bintan Insani

Cek juga data ini