Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengonfirmasi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah bergerak ke barat dan menjauhi wilayah Indonesia pada Selasa (8/9). 

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pihaknya juga telah menjelaskan pengujian paper test secara berkala di beberapa titik untuk melengkapi pemantauan citra satelit dan data meteorologi penerbangan.

"Hasil pengamatan paper test menyatakan delapan bandara yang sebelumnya ditutup operasionalnya dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik," kata Faisal, dikutip dari situs resmi BMKG, Selasa (8/9).

Sebelumnya, empat gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan. Erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi yang paling besar dan berdampak. Data MAGMA Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bahkan tidak dapat menilai tinggi kolom abunya karena pemantauan terganggu.

Abu Gunung Anak Krakatau yang berstatus Siaga III bahkan menyebar hingga Palembang, Jambi, Banten, DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Barat. Ini memicu pembelajaran jarak jauh di sekolah dan kebijakan work from home di sejumlah perkantoran area terdampak. Penerbangan menuju dan dari Bandara Soekarno Hatta juga terpaksa tidak bisa beroperasi sementara pada 6-7 September.

Selain Gunung Anak Krakatau, berbagai gunung berapi aktif lainnya yakni Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu juga mengalami susulan erupsi. Erupsi terbesar Gunung Semeru terjadi pada 6 September lalu dengan tinggi kolom abu hingga 1.000 meter dari puncaknya.

Erupsi terbesar Gunung Ibu di NTT juga terjadi pada 6 September dengan tinggi kolom abu 600 meter dari puncaknya. Sementara Gunung Ili Lewotolok yang berstatus Siaga II tercatat mengalami erupsi besar pada 8 September dengan tinggi kolom abu hingga 800 meter dari puncaknya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antoineta Amosella