APSMI Summit 2025 Dorong Penguatan Swamedikasi di Asia-Pasifik

Katadata/Puja Pratama
[Kiri-Kanan] Seema Sundaresan, Senior Director Regulatory Affairs Procter & Gamble; Agusdini Banun Saptaningsih, Direktur Pengelolaan dan Pelayanan Kefarmasian Kementerian Kesehatan; Dita Novianti Sugandi Argadiredja, Direktur Produksi Dan Distribusi Farmasi Kementerian Kesehatan; Rachmadi Joesoef, Chairman APSMI, Representative GP Farmasi, CEO PT KONIMEX; Dr Junko Sato, Co-Chair Self-CARER (PMDA Japan); Deepa Maharaj, Global HCP Strategic Analyst Opella. Industri dan regulator bersatu untuk mewujudkan visi
10/10/2025, 14.24 WIB

Lebih dari 100 pimpinan layanan kesehatan dan regulator dari 11 negara Asia-Pasifik berkumpul di Asia-Pacific Self Medication Industry (APSMI) Summit 2025 di Nusa Dua Bali 9 Oktober 2025. Acara ini bertujuan untuk memperkuat kampanye swamedikasi, dan menciptakan kebijakan sektor kesehatan yang berdampak di kawasan. 

Kepala APSMI sekaligus CEO PT Konimex, Rachmadi Joesoef, bilang APSMI adalah kekuatan terdepan untuk mempromosikan swamedikasi yang bertanggung jawab di Asia-Pasifik. 

“Individu dengan pengetahuan dan alat untuk swamedikasi sangat penting untuk membangun komunitas yang lebih sehat dan layanan kesehatan yang lebih berkelanjutan,”  katanya.

Swamedikasi adalah tindakan yang dilakukan individu untuk mencegah, mengenal, hingga mengobati penyakit yang diderita secara mandiri. Metode ini diakui World Health Organization (WHO) sebagai salah satu cara untuk mencapai Universal Health Coverage (UHC) sesuai kerangka pembangunan berkelanjutan (SDGs) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kepala Badan Pemeriksa Obat dan Makanan, Taruna Ikrar, memaparkan setidaknya ada tiga tantangan praktik swamedikasi di Indonesia. Mulai dari transisi epidemiologis yang membuat penyakit tidak menular menjadi semakin banyak, ketersediaan obat di apotek daring, dan pemberdayaan pasien agar punya kesadaran untuk memilih obat yang tepat.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik mencatat persentase penduduk yang melakukan pengobatan sendiri sudah cukup banyak dalam satu dekade terakhir.

Pada 2024 persentasenya mencapai 78,95%, meski turun dari pasca pandemi pada 2021-2022. Capaian itu menunjukkan setidaknya 3 dari 4 orang sudah melakukan praktik swamedikasi.

Taruna juga mengungkapkan Indonesia punya potensi untuk pengembangan tanaman obat menjadi fitofarmaka, alias obat medis yang terbuat dari bahan alami untuk mendorong praktik swamedikasi. Sebab Indonesia punya 30 ribu spesies tanaman yang berpotensi menjadi obat, tetapi baru 78 dari jumlah itu yang terstandarisasi oleh BPOM.

“Kami hitung di seluruh dunia terdapat sekitar 48 ribu spesies yang berpotensi untuk digunakan sebagai obat. Artinya, 70% di antaranya tumbuh di negara ini,” kata dia.

Dengan begitu, baru sekitar 2,6% yang berhasil lolos standarisasi BPOM dari seluruh tumbuhan potensial untuk menjadi obat di negara ini. Menurut Taruna, banyaknya tumbuhan yang belum terstandarisasi disebabkan riset fitofarmaka yang masih minim.

Ia mewakili BPOM berkomitmen merumuskan regulasi yang seimbang dengan perkembangan teknologi dan perlindungan masyarakat sambil tetap mengedepankan aspek keamanan, khasiat, dan mutu obat. 

APSMI Summit 2025 merupakan tindak lanjut dari “Bangkok Joint Initiative on Self-Care of Medical Products” yang disetujui perwakilan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan industri farmasi di kawasan Asia-Pasifik pada 2024. 

Kini, APSMI masih berfokus menjembatani kesenjangan swamedikasi karena peningkatan penyakit tidak menular dan ketimpangan literasi kesehatan di berbagai negara.

Penguatan swamedikasi dilakukan regulator dan perusahaan melalui peningkatan literasi kesehatan, pemanfaatan teknologi untuk kemudahan akses layanan kesehatan, hingga perbaikan regulasi.

Hasil APSMI Summit mencakup penguatan kolaborasi multisektoral, kemitraan publik-swasta, dan peta jalan yang jelas untuk tahun mendatang. Tujuannya tetap untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di Asia-Pasifik terkait swamedikasi agar UHC di berbagai negara bisa tercapai.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Puja Pratama