TOBA Lanjutkan Eksplorasi di Kaltim lewat 3 Anak Usaha, Perbarui Data Geologi
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melanjutkan kegiatan eksplorasi di wilayah konsesi tambang batu bara miliknya di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, sepanjang kuartal I 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk memperbarui model geologi dan memastikan kesesuaian data cadangan dengan kondisi aktual di lapangan, yang menjadi dasar perencanaan produksi perseroan.
Dalam laporan kegiatan eksplorasinya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (10/4), perseroan menyebut aktivitas tersebut dilakukan melalui tiga anak usahanya yang memiliki konsesi di wilayah Sangasanga, Kutai Kartanegara. Ketiga perusahaan yang dimaksud yakni PT Trisensa Mineral Utama (TMU), PT Indomining (IM), dan PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN).
Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, ketiga anak usaha TOBA itu memilih untuk tidak melakukan kegiatan driliing alias pengeboran eksplorasi baru. Perseroan menilai data kualitas batu bara yang tersedia saat ini masih memadai untuk mendukung rencana penambangan sepanjang 2026. Karena itu, fokus kegiatan eksplorasi lebih diarahkan pada optimalisasi model geologi serta pemantauan intensif di area tambang aktif guna memastikan kualitas produksi tetap terjaga.
Di tingkat operasional, TMU menjalankan kegiatan eksplorasi dengan mengandalkan metode trenching atau pembuatan paritan. Kegiatan ini dilakukan dengan panjang sekitar 80 hingga 100 meter per hari untuk memastikan keberadaan lapisan atau seam batu bara di area tambang.
"Pengambilan sampel untuk mengetahui nilai–nilai kualitasnya dilakukan per jarak 100 m antar lubang trenching," ungkap Direktur TOBA, Alvin Firman Sunanda, dalam laporan yang dirilis melalui keterbukaan informasi BEI, Jumat (10/4).
Dalam kegiatan produksi, TMU menargetkan penambangan pada lapisan batu bara yang memiliki nilai kalori di atas 4.500 GAR.
Sementara itu, IM melakukan pembaruan model geologi secara berkala dengan memanfaatkan data roof dan floor batu bara yang diperoleh dari survei pit bulanan. Selain memperbarui model geologi, perusahaan juga melakukan analisis kestabilan lereng atau slope stability pada sejumlah sisi tambang, mulai dari low wall, high wall, hingga sidewall. Analisis ini dilakukan untuk memastikan keamanan operasional penambangan di area konsesi.
"Pada periode kuartal II 2026, IM belum merencanakan melakukan aktivitas kembali pengeboran eksplorasi lanjutan, baik itu pengeboran infill maupun pengeboran geoteknik di area konsesi IM," tutur Alvin.
Adapun ABN berhasil merampungkan 28 titik penyelidikan cone penetration test (CPT) di sejumlah lokasi yang direncanakan untuk pembangunan infrastruktur tambang serta di area high wall Pit 6B. Selain kegiatan di dalam wilayah konsesi, tim eksplorasi ABN juga melakukan kajian awal terhadap potensi mineral di luar wilayah izin usaha pertambangan (IUP).
"Hingga akhir kuartal I 2026, tim tersebut telah menyelesaikan empat studi prospeksi yang mengevaluasi potensi komoditas seperti batu bara, pasir kuarsa, dan emas," ujar Alvin.
Dari sisi pembiayaan, pengeluaran eksplorasi terbesar pada periode ini berasal dari ABN. Perusahaan tersebut merealisasikan biaya operasional eksplorasi sebesar Rp 888,96 juta dari total dana yang dianggarkan sebesar Rp 900,2 juta untuk kegiatan tersebut selama kuartal I 2026.
Sementara itu, TMU tidak mencatatkan realisasi biaya operasional eksplorasi secara terpisah pada kuartal pertama tahun ini, meski perusahaan menyiapkan anggaran bulanan sejumlah Rp 4,6 juta. IM juga belum mencatatkan realisasi biaya eksplorasi pada kuartal I 2026, kendati memiliki alokasi anggaran sekitar Rp 83,3 juta per bulan atau hampir Rp 250 juta untuk triwulan tersebut saja.
Memasuki kuartal II 2026, TOBA masih belum merencanakan kegiatan pengeboran eksplorasi lanjutan. Aktivitas eksplorasi emiten batu bara itu akan tetap difokuskan pada pemutakhiran model geologi yang bersumber dari data channel sampling serta survei aktual di lapangan.
Upaya tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan cadangan batu bara yang dapat ditambang atau mineable reserve, sekaligus memastikan kesesuaian dengan target desain pit yang telah ditetapkan untuk tahun 2026.
