Bagi Generasi Z, Ramadan bukan hanya soal meningkatkan ibadah personal. Bulan suci juga bisa dimanfaatkan untuk menghadirkan dampak sosial secara nyata.
Di tengah keseharian yang serba digital, semangat berbagi kini menemukan bentuk-bentuk baru yang lebih adaptif dengan gaya hidup gen Z. Salah satunya bahwa sedekah tidak lagi semata sebagai pemberian langsung dalam jumlah besar.
Mengutip situs resmi Bmm.or.id diketahui, bagi banyak anak muda, berbagi bisa dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Misalnya, menyisihkan sebagian uang jajan, hasil freelance, atau bahkan cashback dari transaksi digital.
Komitmen sederhana tersebut relevan karena sesuai dengan pola keuangan Gen Z yang dinamis dan berbasis aplikasi.
Perkembangan platform donasi digital juga ikut mengubah cara generasi muda beramal. Crowdfunding, fitur donasi di dompet digital, hingga penggalangan dana melalui media sosial menghadirkan cara berbagi yang cepat, transparan, dan mudah dilacak.
Proses yang praktis membuat sedekah dapat dilakukan kapan saja tanpa batasan ruang. Di dalam konteks ini, teknologi tidak menjauhkan nilai spiritual, justru menjadi medium untuk memperluas dampak kebaikan.
Selain donasi daring, semangat beramal khas Gen Z juga terlihat dalam pendekatan kolaboratif. Sedekah sering kali dikelola bersama teman atau komunitas lalu dibagikan dalam bentuk yang lebih kontekstual, seperti membeli produk UMKM lokal untuk takjil dan membagikannya kepada pekerja informal atau warga di ruang publik.
Model tersebut menghadirkan dampak ganda, yakni membantu penerima sekaligus mendukung ekonomi kecil yang bergantung kepada momentum Ramadan.
Aspek kolektivitas menjadi kekuatan utama. Melalui grup percakapan, media sosial, atau komunitas hobi, ajakan berbagi dapat menyebar dengan cepat. Komitmen sosial ini membantu menjaga konsistensi karena semangat berbagi tidak dijalani sendirian. Di dalam budaya digital yang sangat terhubung, kebaikan juga dapat bergerak secara viral.
Pada akhirnya, semangat beramal pada era digital menunjukkan bahwa nilai sedekah tetap relevan lintas generasi. Dengan kata lain, yang berubah hanyalah caranya.
Bagi Gen Z, berbagi bukan sekadar kewajiban musiman, melainkan bagian dari identitas sosial yang ingin menghadirkan dampak nyata. Dan Ramadan menjadi ruang untuk merawat kepedulian itu dengan cara yang lebih adaptif, kolaboratif, dan sesuai dengan zamannya.