Ramadan kerap dimaknai sebagai momentum refleksi guna menata kembali relasi dengan sesama. Anjuran untuk menjalin silaturahmi dan saling memaafkan lebih kental selama bulan suci.
Mengutip situs resmi nu.or.id diketahui, hal ini selaras dengan anjuran Islam dalam al-Baqarah ayat 178:
...فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya: "Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih". (QS Al-Baqarah :178)
Bagi sebagian orang, tuntutan bahwa harus ikhlas atau harus sabar membuat praktik memaafkan menjadi lebih berat sekalipun sedang dalam suasana Ramadan. Tekanan sosial untuk menjadi sosok pemaaf bisa jadi malah menimbulkan kelelahan emosional yang lambat disadari.
Puasa memang tak hanya berkaitan dengan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan dorongan emosional. Kesadaran untuk menahan amarah dan meredam respons impulsif diharapkan dapat membantu diri lebih tenang. Di dalam konteks ini, Ramadan memberi jeda dari rutinitas emosional sehari-hari.
Pada praktiknya, memaafkan sesama bisa terasa lebih berat dibandingkan dengan kewajiban menjalankan ritual ibadah. Pasalnya, relasi antarmanusia melibatkan pengalaman personal, ekspektasi, dan emosi yang kompleks. Luka dalam hubungan tidak selalu selesai hanya dengan niat baik.
Ramadan pun tak jarang diwarnai dengan ekspektasi sosial tentang praktik sabar dan saling memaafkan. Hal ini mungkin tak selalu diucapkan secara tersurat melainkan terasa dari ceramah, interaksi di lingkungan terdekat, bahkan juga konten media sosial.
Di dalam situasi tersebut, tidak sedikit orang yang akhirnya memendam rasa bersalah ketika belum mampu memaafkan. Keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih sabar dan ikhlas kerap berhadapan dengan luka yang belum sepenuhnya pulih. Alih-alih menghadirkan ketenangan, tekanan untuk segera memaafkan justru dapat memperberat beban emosional yang sedang dihadapi.
Padahal di dalam ajaran Islam sebetulnya memberi maaf tidak diposisikan sebagai bentuk kelemahan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidaklah seseorang memaafkan orang lain, kecuali Allah akan menambah kemuliaannya,” (HR. Muslim).
Dengan kata lain, memaafkan orang yang pernah menyakiti tidaklah merendahkan posisi seseorang, melainkan mengangkat derajat dan kemuliaannya di sisi Allah SWT.
Pemaknaan tersebut penting untuk ditempatkan secara utuh. Memaafkan dalam Islam bukanlah tuntutan instan yang mengabaikan proses emosional seseorang. Ia tidak dimaksudkan sebagai paksaan untuk melupakan luka, melainkan sebagai jalan menuju kelapangan hati yang tumbuh seiring kesadaran dan kesiapan diri.
Ramadan menghadirkan suasana yang lebih reflektif untuk menghayati makna maaf. Proses memaafkan yang tak dituntut selesai dalam sekejap akan memantik ruang jeda untuk memahami perasaan serta menata ulang hubungan secara bertahap.
Di dalam proses pemulihan relasi, sahabat dan pasangan dapat menjadi ruang aman untuk membuka dialog. Percakapan yang dilakukan dengan tujuan saling memahami, bukan saling menyalahkan, memberi peluang bagi relasi untuk pulih secara sehat.
Pada bulan Ramadan, saling memaafkan menjadi bagian dari upaya menyelaraskan hubungan spiritual dan sosial. Proses ini membantu menghadirkan makna ibadah yang lebih utuh di dalam kehidupan sehari-hari.