Refleksi Jelang Ramadan, Meneladani Rasulullah SAW dalam Merawat Relasi Sosial
Sebelum menerima wahyu pertama dari Allah SWT, Nabi Muhammad SAW sudah menjadi sosok terpercaya berkat kejujuran, amanah, dan kemuliaan akhlaknya. Keteladanan ini relevan sebagai referensi dalam menata ulang hubungan.
Sejak usia muda, Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang dipercaya di tengah masyarakat Mekkah. Jauh sebelum masa kenabian, ia telah terlibat dalam aktivitas sosial dan ekonomi yang menuntut kepercayaan tinggi. Reputasi ini membuatnya diterima lintas kelompok dalam struktur sosial yang beragam.
Julukan al-Amin yang disematkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak muncul secara instan. Kejujuran dalam berdagang, konsistensi dalam memegang amanah, serta sikap adil dalam berinteraksi membentuk reputasi personal yang kuat. Di dalam konteks sosial Mekkah yang berbasis relasi, reputasi ini jadi modal penting dalam membangun relasi.
Nabi Muhammad SAW tidak hanya berinteraksi dengan satu kelompok tertentu, tetapi menjalin hubungan dengan berbagai lapisan masyarakat. Aktivitas perdagangan membawanya bertemu banyak pihak dari latar belakang berbeda, sekaligus memperluas jejaring sosial secara alami.
Relasi yang dibangun juga tidak terbatas pada kepentingan ekonomi. Nabi Muhammad SAW dikenal terlibat dalam kesepakatan sosial lintas kabilah, seperti Hilf al-Fudul, yang bertujuan menjaga keadilan. Keterlibatan ini menunjukkan kemampuan membangun hubungan berbasis nilai bersama, bukan sekadar kepentingan sesaat.
Keteladanan yang ada menunjukkan, relasi sosial yang sehat tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses panjang yang konsisten.
Dan pada hari-hari menjelang Ramadan seperti sekarang, kita bisa mulai mempersiapkan lahir batin menyambut bulan suci salah satunya dengan menata ulang ibadah maupun relasi dengan sesama.
Oleh karena itu, keteladanan Rasulullah SAW dalam merawat relasi sosial jauh sebelum masa kenabian menjadi relevan untuk direnungkan kembali. Pasalnya, pendekatan Nabi Muhammad SAW dalam membangun relasi tetap relevan dengan dengan cara manusia modern menjaga hubungan sosial di berbagai ruang kehidupan.
Kejujuran, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama menjadi faktor yang memperkuat relasi di tengah komunitas, tempat kerja, maupun lingkungan lain. Dan perjalanan Rasulullah SAW menunjukkan, relasi solid tumbuh dari kepercayaan yang dibangun secara berkelanjutan.
Kita juga dapat merefleksikan, relasi sosial tidak selalu berarti memperbanyak silaturahmi. Lebih mendasar, yakni menata ulang kualitas hubungan yang sudah ada.
Meneladani Rasulullah SAW dalam merawat relasi sosial bukan soal meniru bentuk lahiriah, melainkan menumbuhkan integritas yang konsisten. Menjelang Ramadan, refleksi ini dapat menjadi pintu masuk untuk menata hubungan dengan sesama.