Apa itu Cancel Culture yang Dikenal di Korea Selatan? Ini Penyebab dan Dampaknya
Apa itu cancel culture? Baru-baru ini aktris Kim Sae Ron, yang berusia 24 tahun, ditemukan meninggal bunuh diri, diduga karena tekanan berat yang ia alami akibat budaya cancel culture.
Cancel culture merupakan fenomena sosial yang semakin berkembang di Korea Selatan, terutama dengan kuatnya industri hiburan dan meluasnya penggunaan media sosial. Fenomena ini, mempengaruhi banyak kalangan, mulai dari selebriti, pejabat publik, hingga influencer, yang mudah menjadi sasaran pemboikotan karena perilaku atau pernyataan yang dianggap tidak sesuai dengan norma sosial oleh masyarakat.
Apa itu Cancel Culture yang Dikenal di Korea Selatan?
Apa itu cancel culture? Cancel culture adalah fenomena yang akhir-akhir ini sering dibahas, terutama di dunia maya. Secara harfiah, istilah ini berarti “budaya membatalkan,” namun makna yang terkandung jauh lebih kompleks.
Secara umum, cancel culture mengacu pada tindakan membatalkan, memboikot, atau memberikan hukuman kepada individu atau kelompok karena perilaku mereka yang dianggap salah. Dilansir dari New York Times, pada awal abad ke-21, sebuah frasa dalam bahasa gaul Tiongkok, renrou sousuo, muncul untuk menggambarkan sekelompok netizen yang berkumpul mencari informasi mengenai tokoh atau objek tertentu.
Pada awalnya, ini hanya menjadi tempat berkumpul bagi fandom. Namun, perhatian kemudian beralih kepada orang-orang yang dianggap melakukan kesalahan atau memiliki kekurangan moral.
Cancel culture merujuk pada fenomena sosial di mana individu atau kelompok dijatuhi kecaman dan diboikot karena perilaku yang dianggap tidak layak. Konsep ini, pertama kali muncul pada tahun 1991 lewat film New Jack City dan semakin dikenal seiring pesatnya perkembangan media sosial.
Di Korea Selatan, cancel culture sering terjadi dalam industri hiburan, di mana selebriti diharapkan untuk menjaga citra yang sempurna. Sebuah kesalahan kecil yang terbongkar di publik bisa menyebabkan pemboikotan yang luas. Setelah identitas ditemukan, data pribadi mereka tersebar secara daring, mereka diburu, dihujat secara verbal, dan dikeluarkan dari komunitas.
Para pendukung cancel culture sering kali menginginkan lebih dari sekadar permintaan maaf atau pengakuan kesalahan. Kadang, tujuannya bukan untuk memperbaiki kesalahan, tetapi lebih kepada pembalasan atau pelampiasan rasa dendam.
Secara umum, cancel adalah bentuk boikot budaya terhadap selebriti, perusahaan, atau konsep tertentu. Istilah “cancel” sendiri sudah digunakan dalam percakapan sehari-hari selama lebih dari satu dekade, sementara cancel culture merupakan istilah yang lebih baru.
Apa Penyebab Seseorang Terkena Cancel Culture di Korea Selatan?
Terdapat beberapa faktor utama yang menyebabkan seseorang atau figur publik di Korea Selatan menjadi sasaran cancel culture, di antaranya:
1. Kasus Perundungan (Bullying)
Perundungan menjadi salah satu alasan utama selebriti diboikot. Banyak idola K-pop dan aktor yang terpaksa mundur dari industri hiburan setelah munculnya tuduhan bahwa mereka pernah terlibat dalam tindakan perundungan semasa sekolah.
2. Mengemudi di Bawah Pengaruh Alkohol (DUI)
Mengemudi dalam keadaan mabuk (Driving Under the Influence atau DUI) adalah pelanggaran yang sangat tidak diterima di masyarakat Korea Selatan. Selebriti yang terlibat dalam kasus ini sering kali kehilangan pekerjaan, dikeluarkan dari proyek drama atau iklan, serta mendapat boikot dari publik.
3. Pelecehan Seksual
Kasus pelecehan seksual menjadi salah satu pemicu munculnya cancel culture di Korea Selatan. Selebriti yang terlibat dalam masalah ini tidak hanya menghadapi kecaman publik, tetapi juga risiko proses hukum yang serius.
4. Skandal Hubungan Asmara
Kehidupan percintaan selebriti di Korea Selatan sering kali menjadi sorotan. Skandal seperti perselingkuhan, hubungan yang tidak sehat, atau isu terkait aborsi dapat merusak karier selebriti dengan cepat.
5. Penyalahgunaan Narkoba
Kasus penyalahgunaan narkoba menjadi salah satu alasan utama seorang selebriti bisa menjadi target cancel culture di Korea Selatan. Meskipun beberapa di antaranya berhasil kembali ke industri hiburan setelah rehabilitasi, banyak juga yang tidak dapat melanjutkan karier mereka setelah terlibat dalam masalah ini.
Dampak Cancel Culture Bagi Karier Selebriti
Selebriti yang menjadi sasaran cancel culture di Korea Selatan sering kali menghadapi konsekuensi yang berat, seperti:
• Penghapusan dari proyek film atau drama.
• Pemutusan kontrak dengan merek iklan.
• Penurunan jumlah penggemar.
• Boikot dari masyarakat.
• Kesulitan untuk kembali ke industri hiburan.
Namun, ada beberapa selebriti yang berhasil membuktikan diri dan kembali ke dunia hiburan. Mereka biasanya melakukan permintaan maaf secara terbuka, menjalani hukuman atau rehabilitasi, serta menunjukkan perubahan positif dalam perilaku mereka.
Cancel culture di Korea Selatan telah merusak banyak karier, bahkan menyebabkan tragedi. Meski beberapa kasus memang didasarkan pada bukti yang kuat, masih ada kasus yang terus diperdebatkan dan menimbulkan pertanyaan mengenai keadilan dalam praktik ini.
Dengan pesatnya perkembangan media sosial, budaya ini sepertinya akan terus berlanjut. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih bijaksana dalam merespons isu-isu yang beredar agar tidak memperburuk kondisi mental selebriti yang terlibat.
Apa itu cancel culture? Secara keseluruhan, cancel culture adalah fenomena sosial di mana individu atau kelompok diboikot akibat perilaku atau pernyataan yang dianggap melanggar norma-norma sosial. Meski tujuannya untuk mendorong perubahan positif, cancel culture dapat berdampak negatif, terutama terhadap kesehatan mental dan karier para korban.