Yurike Sanger Soekarno Wafat pada Usia 80 Tahun di California, AS

TvOneNews
Yurike Sanger Soekarno Wafat
Penulis: Anggi Mardiana
Editor: Safrezi
19/9/2025, 17.55 WIB

Yurike Sanger Soekarno, istri kedelapan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno wafat di usia 80 tahun setelah berjuang melawan penyakit kanker payudara. Ia wafat pada hari Rabu waktu setempat di California. Menanggapi kabar ini, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyampaikan pernyataan resmi.

“KJRI Los Angeles telah menjalin komunikasi dengan keluarga almarhumah Ibu Yurike Sanger yang berada di San Bernardino, California,” ungkap Judha Nugraha, Direktur Perlindungan WNI Kemlu pada Jumat (19/9/2025).

Menurut Judha, pihak keluarga telah menunjuk rumah duka untuk menangani pemulasaran jenazah. KJRI Los Angeles juga tengah membantu proses pemulangan jenazah ke Indonesia, bekerja sama dengan pihak rumah duka dan otoritas lokal di AS.

Yurike Sanger Soekarno Wafat Pada Usia 80 Tahun

Yurike Sanger tutup usia pada umur 80 tahun di San Gorgonio Memorial Hospital, California. Kabar duka ini disampaikan oleh putranya, Yudhi Sanger, melalui unggahan di Instagram yang berisi pesan perpisahan.

"Selamat jalan Mama tersayang. Kini giliran Yudhi yang akan menjaga Mama di sana. Tunggu Yudhi ya, Ma. Mama sudah bahagia sekarang, Mama sudah berjuang melawan semua penyakit yang pernah Mama derita di dunia," tulis Yudhi melalui akun Instagram-nya.

Jenazah Yurike rencananya akan dibawa pulang ke Indonesia dan disemayamkan terlebih dahulu di Rumah Duka RS Fatmawati, Jakarta Selatan, sebelum proses pemakaman dilakukan.

Siapa Yurike Sanger?

Yurike Sanger (Instagram/Yudhi Sanger)

Yurike Sanger merupakan istri Soekarno yang kedelapan setelah Kartini Manoppo. Lahir di Poso, Sulawesi Tengah, pada 22 Mei tahun 1945, Yurike Sanger memiliki darah keturunan Jerman dan Manado. Sejak muda, ia dikenal sebagai sosok yang cantik, anggun, dan cerdas. Ia resmi dipersunting oleh Presiden Soekarno pada 6 Agustus 1964.

Dalam buku "Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA" karya Kadjat Adra’i, diceritakan bahwa pertemuan awal antara Yurike dan Bung Karno terjadi dalam sebuah acara kenegaraan. Yurike, yang memiliki darah campuran Jerman dan Manado, menarik perhatian Bung Karno. Ia kemudian menyarankan agar Yurike memakai nama panggilan “Yuri”.

Pertemuan Yurike dan Soekarno terjadi pada tahun 1963, saat masih duduk di bangku SMA di Sekolah Guru Pendidikan Jasmani (SGPD). Saat itu, Yurike merupakan anggota Bhineka Tunggal Ika yang mendapat tugas menyambut tamu negara.

Sejak saat itu, hubungan keduanya semakin dekat, meski dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui publik. Hingga akhirnya pada 6 Agustus 1964, Soekarno menikahi Yurike secara resmi. Sebagai istri Presiden, Yurike harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di lingkungan istana dan protokol kenegaraan.

Namun, masa itu menjadi salah satu periode paling sulit dalam sejarah Indonesia. Yurike setia berada di sisi Soekarno saat krisis politik memuncak, termasuk saat terjadinya peristiwa G30S pada tahun 1965. Setelah kekuasaan Soekarno meredup dan akhirnya ia lengser pada 1967, banyak asetnya, termasuk rumah tempat Yurike tinggal, dikembalikan kepada negara.

Pernikahan Soekarno dan Yurike tidak bertahan lama, mereka bercerai secara baik-baik pada tahun 1968. Soekarno dimakzulkan secara detail facto dan menjadi tahanan rumah di wisma Yaso. Kemudian, Soekarno memberikan saran kepada Yurike untuk bercerai agar tidak ikut menanggung kesulitan yang dihadapinya.

Yurike Sanger Soekarno wafat meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan masyarakat yang mengenalnya. Kepergiannya menjadi kehilangan besar, namun warisan nilai dan pengabdiannya akan terus dikenang. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.