Hati-hati Infeksi Virus Nipah! Ini Gejala, Penularan dan Upaya Mencegahnya

Pilar.id
Infeksi virus Nipah
Penulis: Anggi Mardiana
Editor: Safrezi
30/1/2026, 16.04 WIB

Infeksi virus Nipah cukup berbahaya karena berpotensi menimbulkan peradangan otak atau ensefalitis. Penularannya terjadi dari hewan ke manusia, dan hingga kini belum ditemukan terapi yang benar-benar efektif untuk mengatasi infeksi virus Nipah.

Virus Nipah termasuk dalam genus Henipavirus, satu kelompok dengan virus Langya dan virus Hendra yang juga menyerang hewan dan berisiko menular ke manusia. Kelelawar pemakan buah dari famili Pteropodidae diketahui sebagai pembawa virus utama Nipah.

Apa itu Virus Nipah?

Apa itu Virus Nipah (Katadata)

Virus Nipah (NiV) adalah penyakit zoonotik yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Virus ini tergolong dalam genus Henipavirus dan termasuk keluarga Paramyxoviridae. Kasus pertama virus Nipah terdeteksi pada tahun 1998 di Malaysia, ketika terjadi wabah yang menyerang para peternak babi.

Sejak kemunculannya, virus Nipah terus mendapat perhatian internasional karena berpotensi memicu pandemi dan memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO), infeksi virus Nipah dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius pada manusia, mulai dari masalah pernapasan hingga ensefalitis atau peradangan otak yang berisiko menyebabkan kematian.

Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun terapi khusus untuk mengatasi infeksi virus Nipah, sehingga langkah pencegahan menjadi upaya paling penting dalam menekan penyebarannya.

Cara Penularan Infeksi Virus Nipah

Penularan virus Nipah umumnya terjadi melalui konsumsi buah atau bahan pangan yang terpapar air liur maupun kelelawar. Infeksi virus Nipah dapat menular melalui beberapa jalur, berikut di antaranya:

1. Penularan dari Hewan ke Manusia

Penularan dari hewan ke manusia terjadi akibat kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, khususnya kelelawar buah dan babi. Kelompok yang memiliki interaksi intens dengan hewan, seperti peternak babi, termasuk pihak yang paling berisiko terpapar.

2. Konsumsi Makanan

Virus dapat menyebar melalui konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi cairan tubuh hewan pembawa virus. Contohnya nira kelapa mentah yang dikumpulkan di sekitar habitat atau buah-buahan yang telah tergigit.

3. Penularan antar Manusia

Infeksi virus Nipah juga dapat terjadi antar manusia melalui kontak dekat dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, urin, air liur, maupun cairan pernapasan. Jalur penularan ini sering ditemukan di lingkungan keluarga maupun fasilitas pelayanan kesehatan.

Gejala Infeksi Virus Nipah

Masa inkubasi virus Nipah, yakni periode antara terjadinya paparan hingga timbulnya gejala, umumnya berkisar 4–14 hari, meskipun pada beberapa kasus dapat berlangsung lebih lama. Berikut gejala infeksi virus Nipah:

• Gejala awal: Ditandai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot (mialgia), muntah, serta rasa sakit pada tenggorokan.
• Gangguan pernapasan: Meliputi batuk, sesak napas, hingga pneumonia atipikal atau radang paru-paru yang tidak biasa.
• Ensefalitis: Peradangan pada otak yang dapat memicu kebingungan, disorientasi, kejang, penurunan tingkat kesadaran, sampai koma dalam kurun waktu 24–48 jam.

Diagnosis Virus Nipah

Diagnosis infeksi virus Nipah dilakukan melalui berbagai pemeriksaan laboratorium yang bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan virus maupun antibodi terhadap virus tersebut di dalam tubuh. Adapun metode diagnosis yang digunakan meliputi:

• ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay): Berfungsi mendeteksi keberadaan antibodi terhadap virus Nipah dalam sampel darah.
• RT-PCR (reverse transkripsi polimerase rantai reaksi): Digunakan untuk mengidentifikasi materi genetik virus Nipah dari sampel usap tenggorokan, darah, urin, atau cairan serebrospinal.
• Uji netralisasi virus: Bertujuan menilai kemampuan antibodi dalam menghambat atau menetralkan virus.
• Isolasi virus: Dilakukan dengan mengembangbiakkan virus dari sampel klinis melalui kultur sel di laboratorium.

Bagaimana Mengobati Virus Nipah?

Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus spesifik yang terbukti ampuh untuk mengatasi infeksi virus Nipah. Penanganan yang diberikan bersifat suportif, dengan fokus pada peredaan gejala, serta mencegah terjadinya komplikasi. Adapun bentuk perawatan suportif yang dilakukan meliputi:

• Terapi cairan intravena: Dilakukan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh dan mencegah dehidrasi.
• Pemberian obat simptomatik: Menggunakan obat penurun demam dan pereda nyeri untuk mengurangi keluhan pasien.
• Dukungan pernapasan: Meliputi pemberian oksigen atau penggunaan ventilator apabila terjadi gangguan pernapasan.
• Penanganan kejang: Dilakukan dengan pemberian obat antikejang sesuai kebutuhan.
• Pemantauan intensif: Pengawasan ketat terhadap fungsi organ vital guna mendeteksi komplikasi sejak dini.

Ribavirin, yang dikenal sebagai obat antivirus berspektrum luas, pernah digunakan dalam sejumlah kasus infeksi virus Nipah. Namun, tingkat efektivitasnya masih belum dapat dipastikan dan masih memerlukan kajian, serta penelitian lanjutan. Selain itu, antibodi monoklonal saat ini juga tengah dikembangkan sebagai salah satu opsi terapi yang berpotensi digunakan.

Cara Mencegah Virus Nipah

Mengingat hingga kini belum tersedia vaksin untuk manusia, upaya pencegahan infeksi virus Nipah menjadi hal yang sangat krusial. Berbagai langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

• Menjaga keamanan pangan: Tidak mengonsumsi nira kelapa mentah atau buah yang berpotensi terkontaminasi, serta memastikan makanan matang.
• Penerapan praktik pertanian yang aman: Melaksanakan tata kelola pertanian dan peternakan yang baik untuk mencegah penularan virus dari hewan ke manusia.
• Menjaga kebersihan diri: Rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah berinteraksi dengan hewan atau orang yang sedang sakit.
• Pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan: Menerapkan protokol pencegahan dan pengendalian infeksi secara ketat di rumah sakit guna menekan penularan antarmanusia.
• Menghindari kontak dengan hewan berisiko: Tidak melakukan kontak langsung dengan kelelawar maupun babi, khususnya jika hewan tampak tidak sehat.
• Penggunaan alat pelindung diri (APD): Memakai masker, sarung tangan, dan pakaian pelindung saat merawat pasien yang terinfeksi virus.

Infeksi virus Nipah merupakan penyakit zoonotik yang sangat berbahaya dengan tingkat kematian tinggi, serta potensi penularan yang luas, baik dari hewan ke manusia maupun antarmanusia. Hingga kini, belum tersedia vaksin dan pengobatan khusus, deteksi dini, serta pencegahan menjadi langkah utama dalam menekan dampak infeksi virus Nipah.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.