Berdasarkan pengumuman Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), umat Islam telah memasuki bulan Syaban 1447 Hijriah pada 20 Januari 2026. Dengan demikian, malam nisfu syaban jatuh bertepatan dengan Senin malam, 3 Februari 2026.
Dalam tradisi keislaman, nisfu syaban menempati posisi istimewa sebagai malam pertengahan bulan Syaban yang diyakini sarat dengan keberkahan, rahmat, dan ampunan. Pada malam ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, khususnya bermunajat dan berdoa kepada Allah SWT sebagai bentuk penghambaan dan persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.
Makna Nisfu Syaban dalam Tradisi Islam
Secara etimologis, nisfu syaban berarti pertengahan bulan Syaban, yaitu malam tanggal 15 dalam kalender Hijriah. Dalam berbagai riwayat, malam ini disebut sebagai waktu ketika catatan amal manusia diangkat dan digantikan dengan catatan yang baru. Oleh karena itu, nisfu syaban kerap dimaknai sebagai momentum evaluasi diri dan pembaruan niat dalam beribadah.
Sebagian ulama juga memandang malam nisfu syaban sebagai waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak doa karena diyakini pintu ampunan Allah SWT terbuka lebih luas. Pemahaman inilah yang mendorong berkembangnya berbagai tradisi doa dan munajat yang dibaca secara individu maupun berjamaah.
Doa Nisfu Syaban Riwayat Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani
Para ulama menganjurkan umat Islam untuk memanfaatkan malam Nisfu Sya’ban dengan berdoa, baik untuk kepentingan duniawi maupun keselamatan akhirat.
Salah satu doa yang dikenal luas dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah adalah doa yang dipanjatkan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani. Doa ini disebut berasal dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan tertulis dalam kitab Ghunyah ath-Thalibin.
Arab:
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ، مَصَابِيْحِ الْحِكْمَةِ وَمَوَالِيْ النِّعْمَةِ، وَمَعَادِنِ الْعِصْمَةِ، وَاعْصِمْنِيْ بِهِمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ. وَلَا تَأْخُذْنِيْ عَلَى غِرَّةٍ وَلَا عَلَى غَفْلَةٍ، وَلَا تَجْعَلْ عَوَاقِبَ أَمْرِيْ حَسْرَةً وَنَدَامَةً، وَارْضَ عَنِّيْ، فَإِنَّ مَغْفِرَتَكَ لِلظَّالِمِيْنَ، وَأَنَا مِنَ الظَّالِمِيْنَ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا لَا يَضُرُّكَ، وَأَعْطِنِيْ مَا لَا يَنْفَعُكَ، فَإِنَّكَ الْوَاسِعَةُ رَحْمَتُهُ، اَلْبَدِيْعَةُ حِكْمَتُهُ، فَأَعْطِنِي السَّعَةَ وَالدَّعَةَ، وَالْأَمْنَ وَالصِّحَّةَ وَالشُّكْرَ وَالْمُعَافَاةَ، وَالتَّقْوَى، وَأَفْرِغِ الصَّبْرَ وَالصِّدْقَ عَلَيَّ، وَعَلَى أَوْلِيَائِيْ فِيْكَ، وَأَعْطِنِي الْيُسْرَ، وَلَا تَجْعَلْ مَعَهُ الْعُسْرَ، وَأَعِمَّ بِذَلِكَ أَهْلِيْ وَوَلَدِيْ وَإِخْوَانِيْ فِيْكَ، وَمَنْ وَلَدَنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
Latin:
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âlihi, mashâbihil hikmati wa mawâlin ni‘mati, wa ma‘âdinil ‘ishmati, wa‘shimni bihim min kulli sû-in, wa lâ ta’khudznî ‘alâ ghirratin wa lâ ‘alâ ghaflatin, wa lâ taj‘al ‘awâqiba amri hasratan wa nadâmatan, wardla ‘annî, fa inna maghfirataka lidh dhâlimîn, wa anâ minadh dhâlimîn…
Arti:
“Ya Allah, limpahkan rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sumber hikmah dan nikmat, serta penjaga dari segala keburukan….”
Doa Nisfu Syaban Versi Perukunan Melayu
Selain doa riwayat Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, terdapat doa lain yang lazim diamalkan pada malam nisfu syaban dan termaktub dalam Kitab Perukunan Melayu. Doa ini kerap dibaca secara berjamaah setelah pembacaan Surat Yasin tiga kali seusai Maghrib.
Arab:
اللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ...
Doa ini memuat permohonan agar Allah SWT menghapus catatan keburukan, menetapkan takdir kebaikan, meluaskan rezeki, serta menjauhkan musibah yang diketahui maupun tidak diketahui.
Doa-doa nisfu syaban umumnya dipanjatkan pada malam hari, mulai selepas Maghrib hingga menjelang Subuh. Doa dibaca setelah shalat Maghrib, dilanjutkan dengan pembacaan Surat Yasin sebanyak tiga kali, kemudian diakhiri dengan doa bersama.