Apa itu Lontong Cap Go Meh? Hidangan Khas dalam Perayaan Imlek

Shutterstock.com
Apa itu Lontong Cap Go Meh
Penulis: Anggi Mardiana
Editor: Safrezi
3/3/2026, 21.37 WIB

Apa itu lontong Cap Go Meh? Salah satu hidangan yang kerap hadir saat perayaan Cap Go Meh yaitu lontong. Selain rasanya yang lezat, lontong Cap Go Meh juga melambangkan akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara. Hidangan ini menjadi simbol keberagaman, doa, serta harapan yang selalu menyertai perayaan Cap Go Meh, yang jatuh pada hari ke-15 dan menandai penutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, memberikan apresiasi atas kegiatan ‘Makan Besar Bersama Bobon Santoso’ yang berhasil memecahkan rekor Guinness World Record dalam rangka puncak Festival Imlek Nasional 2026. Hidangan Lontong Cap Go Meh yang disajikan menjadi simbol akulturasi, kreativitas kuliner, dan inklusivitas.

“Kegiatan makan besar ini memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM, kreator konten, dan komunitas lokal untuk menunjukkan inovasi sekaligus melestarikan tradisi kuliner yang menjadi bagian dari kekayaan ekonomi kreatif Indonesia,” ujar Wamen Ekraf Irene saat acara berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta, pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Ia menambahkan, “Karena perayaan Imlek bertepatan dengan Ramadan, hidangan Lontong Cap Go Meh menjadi simbol akulturasi antara kuliner Tionghoa dan tradisi Ramadan di Indonesia.”

Apa itu Lontong Cap Go Meh?

Lontong Cap Go Meh (Shutterstock.com)

Lontong Cap Go Meh adalah hidangan khas yang lahir dari perpaduan budaya Tionghoa dan Indonesia, disajikan khusus saat perayaan Cap Go Meh. Hidangan ini sarat makna filosofis.

Istilah “Cap Go Meh” berasal dari kata ‘Cap Go’ yang berarti lima belas dan ‘Meh’ yang berarti malam, sehingga secara sederhana Cap Go Meh dapat diartikan sebagai malam kelima belas setelah Tahun Baru Imlek.

Dalam perayaannya, masyarakat Tionghoa biasanya menghabiskan waktu bersama keluarga dan melaksanakan ibadah, serta menyajikan berbagai kuliner khas. Salah satu hidangan utama yang selalu hadir dalam tradisi Cap Go Meh di Indonesia yaitu Lontong Cap Go Meh.

Hidangan lontong Cap Go Meh umumnya terdiri dari irisan lontong yang disajikan dengan sayur rebung, biasanya dibuat lodeh, serta lauk seperti telur dan opor ayam. Dari sinilah terbentuk hidangan khas yang dikenal sebagai lontong Cap Go Meh.

Makanan ini menjadi contoh akulturasi budaya, memanfaatkan bahan pangan lokal seperti lontong dan rebung. Rebung sendiri melambangkan tanaman yang tumbuh, sejalan dengan Cap Go Meh di Tiongkok yang bertepatan dengan musim semi.

Asal-usul Lontong Cap Go Meh

Lontong Cap Go Meh diyakini berasal dari tradisi masyarakat Tionghoa di Jawa, terutama Semarang dan Surabaya. Pada masa kolonial, banyak keturunan Tionghoa yang menetap di Indonesia mulai menyesuaikan budaya dan kuliner lokal.

Salah satu contohnya yaitu bubur putih yang biasa dikonsumsi saat Cap Go Meh di Tiongkok. Namun, karena bubur sering dikaitkan dengan makanan untuk orang sakit dan kurang sesuai dengan budaya Jawa, mereka menggantinya dengan lontong, makanan berbahan dasar beras yang lebih diterima dalam tradisi kuliner Nusantara.

Makna Filosofis

Lontong melambangkan harapan akan kehidupan yang panjang dan sejahtera, dengan bentuk lonjong yang menyerupai gulungan kertas, melambangkan ilmu dan kebijaksanaan. Opor ayam mewakili kesejahteraan dan keberuntungan, karena dalam budaya Tionghoa ayam dianggap simbol kemakmuran.

Telur pindang menggambarkan kesempurnaan dan awal baru, selaras dengan semangat Tahun Baru Imlek. Sambal goreng ati melambangkan ketulusan hati dan keikhlasan, sementara sayur labu siam dipercaya membawa keseimbangan dan keharmonisan dalam hidup.

Dengan berbagai lauk yang beragam, lontong Cap Go Meh juga menjadi simbol keberagaman dan kebersamaan, mencerminkan harmoni antara budaya Tionghoa dan Indonesia.

Awalnya, hidangan ini hanya dibuat di rumah keluarga Tionghoa sebagai bagian dari tradisi Cap Go Meh. Namun, seiring waktu, lontong Cap Go Meh semakin populer dan kini bisa ditemukan di banyak restoran maupun warung makan, khususnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jakarta.

Kini, setiap perayaan Cap Go Meh, hidangan ini dinikmati oleh banyak orang, termasuk yang bukan keturunan Tionghoa. Lontong Cap Go Meh telah menjadi bagian dari kuliner khas Nusantara, menunjukkan bahwa makanan tidak hanya soal rasa, tetapi juga sarat makna sejarah, identitas, dan persatuan budaya.

Beragam Tradisi Cap Go Meh

Perayaan Cap Go Meh di Indonesia tidak hanya terkenal dengan lampion dan barongsai. Di berbagai wilayah, perayaan hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek ini justru berkembang dengan sentuhan budaya lokal yang khas, bahkan menampilkan tradisi unik yang tidak ada di Tiongkok. Berikut beragam tradisi Cap Go Meh:

1. Lontong Cap Go Meh di Pulau Jawa

Berbeda dari hidangan khas di Tiongkok, masyarakat Tionghoa di Pulau Jawa memiliki tradisi kuliner unik berupa lontong Cap Go Meh. Menu ini terdiri dari lontong, opor ayam, sayur labu siam, telur pindang, dan bubuk kedelai.

2. Pawai Tatung di Singkawang

Pawai Tatung menjadi ciri khas Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat. Tatung dipercaya sebagai perantara roh leluhur atau dewa.

Dalam arak-arakan, mereka menampilkan atraksi ekstrem, seperti menusuk pipi dengan kawat atau duduk di atas pedang, yang diyakini sebagai simbol penolak bala dan penyucian kota dari energi negatif. Perayaan ini menarik ribuan wisatawan setiap tahun, menjadikan Singkawang sebagai salah satu pusat Cap Go Meh terbesar di Indonesia.

3. Arak-Arakan Sipasan di Padang

Di Padang, tradisi unik bernama Sipasan diselenggarakan. Tandu berbentuk naga atau lipan besar diarak keliling kota, dengan anak-anak duduk di atasnya dan diiringi patung dewa atau Kio. Tradisi ini menunjukkan akulturasi budaya Tionghoa dan Minangkabau yang telah terjalin lama di Sumatra Barat.

4. Jappa Jokka Cap Go Meh di Makassar

“Jappa Jokka” dalam bahasa Makassar berarti berjalan-jalan. Perayaan ini menampilkan kirab budaya, pertunjukan barongsai, seni tradisional, hingga festival kuliner terbuka untuk umum. Suasana meriah dan inklusif membuat Cap Go Meh di Makassar menjadi ajang kebersamaan lintas budaya.

5. Ziarah ke Pulau Kemaro

Di Palembang, umat Tionghoa melakukan ziarah ke klenteng di Pulau Kemaro, sebuah pulau kecil di tengah Sungai Musi. Pulau ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga terkenal dengan legenda cinta tragis yang diwariskan secara turun-temurun, memperkaya nilai budaya setempat.

Apa itu lontong Cap Go Meh? Hidangan khas yang lahir dari akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara. Lontong Cap Go Meh bukan hanya sekadar sajian lezat, tetapi juga sarat makna simbolik, mulai dari harapan akan kesejahteraan, kebijaksanaan, hingga kebersamaan. Awalnya hanya disajikan di rumah-rumah keluarga Tionghoa, kini hidangan ini telah menjadi bagian dari kuliner khas Nusantara yang dinikmati oleh berbagai kalangan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.