Berdasarkan data terbaru Kementerian Pertahanan RI pada Selasa (31/3/2026), delapan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi korban di Lebanon Selatan. Pada 29 Maret 2026, satu prajurit TNI gugur dan beberapa lainnya mengalami luka-luka akibat dampak konflik antara militer Israel dan kelompok Hizbullah di sektor Indobatt dekat Desa Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan.
Sehari kemudian, dua prajurit TNI gugur di tengah eskalasi konflik di wilayah tersebut. Dalam dua hari, tiga prajurit TNI gugur dan lima lainnya luka-luka karena konflik di Timur Tengah.
Para prajurit tengah menjalankan tugas pengawalan untuk mendukung kegiatan operasional UNIFIL. Lantas, apa itu UNIFIL dan tugasnya di Lebanon?
Apa Itu UNIFIL?
Melansir laman resmi United Nations, UNIFIL atau United Nations Interim Force in Lebanon adalah pasukan perdamaian yang dibentuk oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). UNIFIL dibentuk melalui Resolusi 425 dan 426 sebagai respons atas invasi Israel ke Lebanon kala itu.
Misi awal UNIFIL adalah untuk mengonfirmasi penarikan pasukan Israel, memulihkan perdamaian dan keamanan internasional, serta membantu pemerintah Lebanon mengembalikan otoritas efektifnya di wilayah selatan. UNIFIL kini bertanggung jawab memantau penghentian permusuhan secara intensif dan melaporkan setiap pelanggaran yang terjadi di sepanjang garis demarkasi.
Tugas UNIFIL
Secara operasional, UNIFIL dilaksanakan secara bersama-sama dengan Angkatan Bersenjata Lebanon. Para prajurit di lapangan bertugas mendampingi dan mendukung pengerahan Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) ke seluruh wilayah selatan. Salah satu misi yang paling krusial dan berbahaya adalah membantu LAF memastikan bahwa area di antara Blue Line (garis demarkasi) hingga ke Sungai Litani bersih dari personel bersenjata, aset, maupun senjata selain milik pemerintah resmi Lebanon dan UNIFIL sendiri.
Untuk mendukung pengawasan di wilayah maritim, UNIFIL juga dilengkapi dengan Maritime Task Force yang terdiri dari lima kapal, yang bertugas membantu Angkatan Laut Lebanon dalam mengamankan perairan serta mencegah masuknya senjata ilegal melalui jalur laut.
Selain patroli rutin, UNIFIL juga memiliki mandat untuk memastikan akses kemanusiaan bagi penduduk sipil dan membantu proses kepulangan pengungsi secara aman dan sukarela. UNIFIL berwenang mengambil tindakan yang diperlukan guna memastikan wilayah operasinya tidak digunakan untuk aktivitas bermusuhan dalam bentuk apa pun, serta melindungi personel, fasilitas, dan warga sipil yang berada dalam ancaman kekerasan fisik secara langsung.
Peran UNIFIL semakin diperluas secara signifikan setelah krisis besar yang terjadi pada Juli hingga Agustus 2006 antara Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon selatan. Dalam konteks ini, Dewan Keamanan memperkuat mandat UNIFIL agar tidak hanya berfokus pada tugas awal, namun juga mencakup fungsi tambahan seperti memantau penghentian permusuhan (cessation of hostilities), mendampingi dan memberikan dukungan kepada Angkatan Bersenjata Lebanon dalam proses penyebaran mereka di seluruh wilayah selatan, serta berkontribusi dalam menjamin akses bantuan kemanusiaan bagi penduduk sipil yang terdampak konflik.
Selain itu, UNIFIL juga berperan dalam mendukung proses pemulangan pengungsi secara sukarela, aman, dan bermartabat ke tempat tinggal mereka, sekaligus membantu menciptakan kondisi stabil yang memungkinkan kehidupan masyarakat kembali normal. Dalam pelaksanaannya, UNIFIL mengoperasikan kekuatan multinasional yang terdiri dari sekitar 8.500 personel penjaga perdamaian yang berasal dari hampir 50 negara kontributor, dengan jumlah personel yang dikerahkan mencapai sekitar 8.195 pada Januari 2026.
UNIFIL dibiayai melalui mekanisme anggaran terpisah yang disetujui setiap tahun oleh Majelis Umum PBB, yang memungkinkan fleksibilitas dalam menyesuaikan kebutuhan operasional di lapangan. Sebagai contoh, untuk periode Juli 2021 hingga Juni 2022, anggaran yang disetujui mencapai sekitar 510 juta dolar AS.
Peran Prajurit Indonesia di UNIFIL
UNIFIL diperkuat oleh total 8.203 penjaga perdamaian berseragam yang berasal dari 47 negara kontributor. Dari total kekuatan global tersebut, Indonesia secara konsisten membuktikan dedikasinya dengan mengirimkan 756 personel TNI.
Indonesia sebagai negara kontributor terbesar kedua di seluruh misi UNIFIL, hanya berada tepat di bawah Italia yang menyumbangkan 774 personel. Kekuatan pasukan berseragam ini juga didukung oleh kontribusi besar dari negara-negara lain yang menunjukkan solidaritas internasional.
Dilansir data resmi PBB, di bawah Indonesia terdapat negara Spanyol dengan 657 personel, India dengan 642 personel, Prancis dengan 606 personel, serta Ghana dan Malaysia yang masing-masing mengirimkan 624 dan 515 personel.
Di balik ribuan tentara tersebut, terdapat pula dukungan dari 647 staf sipil internasional dan lokal serta 173 perwira staf yang memastikan koordinasi politik, hukum, dan logistik berjalan lancar setiap harinya untuk mendukung mandat perdamaian di kawasan yang sangat volatil tersebut.
Demikian ulasan lengkap mengenai apa itu UNIFIL, tugas serta peran prajurit TNI di dalamnya.