Harga Minyak Sentuh 110/Barrel, Berikut Saham Minyak di Indonesia

unsplash.com
saham minyak di Indonesia
Penulis: Izzul Millati
Editor: Safrezi
18/5/2026, 16.20 WIB

Harga minyak dunia kembali melonjak hingga menyentuh level US$110 per barel pada Mei 2026. Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, gangguan distribusi energi global, serta kebijakan pengetatan produksi oleh negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan sekutunya.

Lonjakan harga minyak langsung mempengaruhi pasar saham global, termasuk perdagangan saham sektor energi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ketika harga minyak mentah naik, investor biasanya mulai memburu saham perusahaan migas dan energi karena dinilai berpotensi memperoleh kenaikan pendapatan dan laba.

Di Indonesia, sektor energi masih menjadi industri strategis yang menopang kebutuhan domestik dan ekspor. Karena itu, pergerakan Saham Minyak di Indonesia sering dilirik investor saat harga energi global mengalami kenaikan signifikan.

Selain dipengaruhi harga minyak dunia, kinerja saham sektor energi juga berkaitan erat dengan kondisi geopolitik, nilai tukar rupiah, permintaan energi global, hingga kebijakan transisi menuju energi rendah karbon.

Mengapa Saham Minyak Kembali Menarik Saat Harga Minyak Naik?

saham minyak di Indonesia (unsplash.com)

 

Kenaikan harga minyak hingga US$110 per barel membuat sektor energi kembali dilirik pasar. Dalam industri migas, harga minyak mentah menjadi faktor utama yang mempengaruhi pendapatan perusahaan.

Ketika harga minyak naik, perusahaan eksplorasi dan produksi migas biasanya memperoleh harga jual yang lebih tinggi sehingga margin keuntungan ikut meningkat. Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan laba perusahaan dan meningkatkan minat investor terhadap saham energi.

Berdasarkan data International Energy Agency (IEA), konsumsi minyak masih berada di atas 100 juta barel per hari pada 2025. Permintaan energi tetap tinggi karena minyak masih digunakan pada sektor transportasi, manufaktur, logistik, hingga petrokimia.

Di Indonesia, sektor migas juga berkontribusi terhadap penerimaan negara, investasi, dan penyerapan tenaga kerja. Karena itu, ketika harga minyak dunia meningkat, Saham Minyak di Indonesia biasanya ikut menjadi perhatian pasar. Berikut beberapa rekomendasi saham minyak di Indonesia:

1. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)

PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGAS menjadi emiten energi dengan kapitalisasi pasar terbesar di sektor minyak dan gas di BEI per akhir 2024. Kapitalisasi pasar perusahaan tercatat sekitar Rp38,54 triliun.

Perusahaan yang merupakan bagian dari subholding gas PT Pertamina ini bergerak di bidang distribusi dan transmisi gas bumi untuk kebutuhan industri, komersial, dan rumah tangga.

Kinerja PGAS banyak dipengaruhi pertumbuhan konsumsi energi domestik. Ketika aktivitas industri meningkat, permintaan gas bumi juga cenderung naik sehingga mendukung pendapatan perusahaan.

Sebagai perusahaan dengan jaringan distribusi gas nasional yang luas, PGAS menjadi salah satu Saham Minyak di Indonesia yang paling sering dipantau investor sektor energi.

2. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)

PT Medco Energi Internasional Tbk merupakan perusahaan eksplorasi dan produksi minyak mentah serta gas bumi yang memiliki wilayah operasi di Indonesia dan luar negeri.

Kapitalisasi pasar MEDC mencapai sekitar Rp27,65 triliun per akhir 2024. Kinerja perusahaan sangat sensitif terhadap perubahan harga minyak dunia karena sebagian besar pendapatan berasal dari penjualan energi.

Ketika harga minyak naik, potensi laba perusahaan ikut meningkat. Karena itu, MEDC sering menjadi salah satu saham energi yang mengalami peningkatan aktivitas transaksi saat harga minyak global melonjak.

Selain bisnis migas, Medco juga mulai memperluas investasi pada sektor energi baru dan terbarukan untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang.

3. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)

PT AKR Corporindo Tbk dikenal sebagai perusahaan distribusi energi dan bahan kimia dasar. Kapitalisasi pasar perusahaan mencapai sekitar Rp22,48 triliun. AKRA menjalankan bisnis distribusi bahan bakar minyak (BBM), logistik energi, serta pengembangan kawasan industri terintegrasi.

Meski bukan perusahaan eksplorasi minyak, bisnis distribusi energi membuat perusahaan tetap mendapat sentimen positif ketika harga energi global meningkat. Perusahaan ini juga aktif mengembangkan kawasan industri di Jawa Timur bersama mitra strategis untuk memperkuat pertumbuhan bisnis.

4. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA)

PT Rukun Raharja Tbk bergerak di sektor infrastruktur energi, khususnya distribusi dan pengelolaan gas bumi. Kapitalisasi pasar perusahaan tercatat sekitar Rp11,50 triliun.

RAJA mengembangkan jaringan pipa gas dan infrastruktur energi di berbagai daerah di Indonesia. Kinerja perusahaan dipengaruhi pertumbuhan kebutuhan energi domestik dan proyek infrastruktur nasional.

Perusahaan ini menjadi salah satu emiten energi yang diperhatikan investor ketika sektor migas memperoleh sentimen positif dari kenaikan harga minyak dunia.

5. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)

PT Energi Mega Persada Tbk merupakan perusahaan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi dengan sejumlah wilayah kerja migas di Indonesia.

Kapitalisasi pasar perusahaan mencapai sekitar Rp5,71 triliun per akhir 2024. Bisnis utama ENRG berada di sektor produksi migas sehingga sangat dipengaruhi harga minyak dunia.

Ketika harga minyak global meningkat, saham perusahaan biasanya ikut mengalami kenaikan perhatian investor. Karena itu, ENRG menjadi salah satu Saham Minyak di Indonesia yang cukup aktif diperdagangkan saat harga minyak naik.

6. PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI)

PT Astrindo Nusantara Infrastructure Tbk (BIPI) merupakan perusahaan yang bergerak di sektor energi dan infrastruktur dengan fokus pada produksi minyak mentah, gas alam, serta pengembangan aset energi strategis. Perusahaan memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp5,54 triliun per 30 Desember 2024.

Dalam beberapa tahun terakhir, BIPI aktif memperluas portofolio bisnis di sektor energi dan pertambangan untuk memperkuat sumber pendapatan jangka panjang. Strategi diversifikasi tersebut dinilai penting di tengah volatilitas harga komoditas global dan perubahan tren energi dunia.

Kinerja perusahaan sangat dipengaruhi harga energi internasional, terutama minyak mentah dan batu bara. Ketika harga energi global naik, prospek pendapatan perusahaan berpotensi ikut membaik karena permintaan energi dan aktivitas distribusi meningkat.

7. PT Super Energy Tbk (SURE)

PT Super Energy Tbk menjalankan bisnis perdagangan minyak dan gas bumi serta investasi energi berbasis gas.

Kapitalisasi pasar perusahaan tercatat sekitar Rp3,58 triliun. SURE fokus mengembangkan energi berbasis gas yang dinilai lebih efisien dan memiliki emisi lebih rendah dibanding bahan bakar fosil konvensional.

Berbeda dengan perusahaan migas konvensional yang fokus pada minyak mentah, SURE lebih banyak mengembangkan bisnis energi berbasis gas alam. Gas dinilai memiliki prospek jangka panjang karena dianggap lebih efisien dan menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibanding batu bara maupun bahan bakar fosil lainnya.

Perusahaan juga aktif mengembangkan infrastruktur distribusi gas untuk memenuhi kebutuhan energi industri dan pembangkit listrik domestik. Permintaan gas nasional yang terus meningkat menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek bisnis perusahaan.

8. PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS)

PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk bergerak di bidang jasa pelayaran dan transportasi energi, termasuk distribusi LNG dan migas lepas pantai. Kapitalisasi pasar perusahaan ini mencapai sekitar Rp2,81 triliun. 

Perusahaan memiliki armada kapal yang digunakan untuk mendukung distribusi energi nasional, termasuk pengangkutan gas alam cair (liquefied natural gas atau LNG) dan minyak mentah. Bisnis HITS sangat berkaitan dengan aktivitas perdagangan energi global dan kebutuhan distribusi migas domestik.

Kinerja perusahaan biasanya meningkat ketika aktivitas produksi dan distribusi energi bertambah. Saat harga minyak dunia naik, aktivitas pengiriman energi juga cenderung meningkat sehingga permintaan jasa transportasi migas ikut terdorong.

9. PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP)

PT Sillo Maritime Perdana Tbk merupakan perusahaan pelayaran yang menyediakan jasa transportasi laut untuk sektor migas lepas pantai. Perusahaan memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp2,75 triliun dan menjadi bagian dari rantai distribusi industri energi nasional.

SHIP mengoperasikan kapal pendukung lepas pantai yang digunakan dalam aktivitas eksplorasi dan produksi minyak serta gas bumi. Armada perusahaan mendukung kebutuhan logistik industri migas, termasuk pengangkutan peralatan dan distribusi operasional di wilayah offshore.

Kinerja perusahaan sangat dipengaruhi aktivitas eksplorasi migas nasional. Ketika harga minyak global meningkat, perusahaan migas biasanya meningkatkan aktivitas produksi dan eksplorasi sehingga kebutuhan jasa pendukung offshore ikut bertambah.

10. PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL)

PT Buana Lintas Lautan Tbk bergerak di bidang jasa pelayaran, pengangkutan energi, dan layanan floating storage. Kapitalisasi pasar perusahaan mencapai sekitar Rp1,69 triliun. BULL menjadi salah satu perusahaan logistik energi yang mendukung distribusi minyak dan gas di Indonesia.

Perusahaan memiliki armada kapal tanker yang digunakan untuk distribusi minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM), dan produk energi lainnya di dalam maupun luar negeri. Selain jasa transportasi, BULL juga menyediakan layanan penyimpanan terapung yang mendukung rantai pasok energi nasional.

Kinerja perusahaan sangat dipengaruhi volume perdagangan energi dan aktivitas distribusi migas. Ketika harga minyak dunia meningkat, kebutuhan pengangkutan dan penyimpanan energi biasanya ikut naik sehingga memberikan peluang peningkatan pendapatan bagi perusahaan.

Risiko Investasi Saham Minyak

Meski memiliki peluang keuntungan, investasi pada saham minyak di Indonesia tetap memiliki risiko yang perlu diperhatikan investor. Harga saham sektor energi sangat dipengaruhi fluktuasi harga minyak dunia yang dapat berubah cepat akibat konflik geopolitik, perlambatan ekonomi global, hingga kebijakan produksi OPEC.

Selain itu, sektor migas juga menghadapi tantangan transisi energi menuju energi rendah karbon. Banyak negara mulai mengurangi penggunaan bahan bakar fosil untuk menekan emisi karbon. Karena itu, investor biasanya memperhatikan fundamental perusahaan, tingkat utang, kapasitas produksi, hingga strategi diversifikasi bisnis sebelum membeli saham energi.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, sektor energi masih dinilai memiliki prospek menarik selama permintaan minyak dunia tetap tinggi. Kenaikan harga minyak hingga US$110 per barel membuat perusahaan migas berpotensi mencatat peningkatan pendapatan dan laba pada 2026. Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa saham minyak di Indonesia kembali mendapat perhatian investor.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.