Hubungan Amerika Serikat dan Kuba kembali memanas setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat mendakwa mantan Presiden Kuba Raul Castro atas tuduhan pembunuhan terkait penembakan dua pesawat sipil pada 1996, melansir laporan CNN pada 23 Mei 2026. Kasus tersebut menjadi perhatian internasional karena melibatkan salah satu tokoh utama Revolusi Kuba sekaligus membuka babak baru ketegangan geopolitik antara Washington dan Havana.
AS Dakwa Raul Castro setelah pemerintah Amerika Serikat pada Rabu, 20 Mei 2026, mengumumkan dakwaan pidana terhadap Raul Castro dan lima orang lainnya. Dakwaan tersebut berkaitan dengan insiden penembakan dua pesawat ringan milik organisasi pengasingan Kuba berbasis di Florida, Brothers to the Rescue atau Hermanos al Rescate, pada 24 Februari 1996.
Dalam peristiwa tersebut, dua pesawat sipil ditembak jatuh oleh jet tempur Kuba hingga menewaskan empat warga negara Amerika Serikat. Departemen Kehakiman AS menyatakan penembakan terjadi di wilayah udara internasional sehingga dianggap melanggar hukum internasional.
Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS Todd Blanche mengatakan keluarga korban telah menunggu keadilan selama hampir tiga dekade. Selain Raul Castro, lima terdakwa lain merupakan pilot tempur Kuba yang diduga terlibat langsung dalam operasi militer tersebut.
Pemerintah Kuba membantah tuduhan tersebut dan menyebut tindakan militer pada saat itu dilakukan untuk melindungi wilayah kedaulatan negara. Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez Parrilla bahkan menyebut dakwaan AS tidak sah dan bermuatan politik.
Siapa Raul Castro dan Mengapa Didakwa Amerika Serikat?
Tindakan AS Dakwa Raul Castro menjadi perhatian besar dunia Internasional karena Raul Castro bukan sekadar mantan kepala negara biasa. Menurut Ensiklopedia Inggris Britannica.com, Ia merupakan adik Fidel Castro dan salah satu tokoh penting Revolusi Kuba 1959 bersama Ernesto “Che” Guevara yang menggulingkan pemerintahan Fulgencio Batista.
Raul Castro lahir pada 3 Juni 1931 di Biran, Kuba bagian timur. Sejak muda, ia aktif dalam gerakan kiri dan dikenal dekat dengan ideologi sosialisme Soviet. Bersama Fidel Castro, Raul terlibat dalam serangan ke barak Moncada pada 1953 yang menjadi titik awal Revolusi Kuba.
Setelah revolusi berhasil pada 1959, Raul Castro dipercaya memimpin Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba selama hampir lima dekade. Dari posisi tersebut, ia membangun sistem militer dan intelijen yang menjadi fondasi kekuasaan Partai Komunis Kuba.
Berbeda dengan Fidel Castro yang dikenal karismatik dan sering tampil di publik, Raul Castro memiliki gaya kepemimpinan lebih pragmatis dan tertutup. Ia lebih banyak bekerja di balik layar dalam mengendalikan birokrasi, militer, dan struktur keamanan negara.
Aksi AS Dakwa Raul Castro kembali mengingatkan dunia pada insiden 1996 yang selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam hubungan Kuba dan Amerika Serikat. Saat peristiwa itu terjadi, Raul Castro menjabat Menteri Angkatan Bersenjata Kuba dan dianggap memiliki pengaruh besar terhadap operasi militer negara.
Beberapa rekaman komunikasi yang pernah dipublikasikan media internasional diduga memuat suara Raul Castro yang memberikan instruksi terhadap pesawat tersebut. Rekaman itu menjadi salah satu materi yang ikut disorot dalam proses hukum di Amerika Serikat.
Meski demikian, peluang Raul Castro diadili secara langsung di Amerika Serikat dinilai kecil. Kuba tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan AS dan pemerintah Havana diperkirakan tidak akan menyerahkan mantan pemimpinnya tersebut.
Dampak Dakwaan Raul Castro terhadap Kuba dan Hubungan AS-Kuba
Dakwaan AS terhadap Raul Castro muncul di tengah kondisi Kuba yang sedang menghadapi tekanan ekonomi berat. Negara tersebut mengalami krisis energi, kekurangan bahan bakar, inflasi tinggi, hingga pemadaman listrik berkepanjangan.
Tekanan ekonomi semakin besar setelah sanksi Amerika Serikat diperketat dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan sektor pariwisata dan lemahnya ekonomi domestik membuat banyak warga Kuba memilih meninggalkan negaranya.
Dalam situasi tersebut, sejumlah pejabat Amerika Serikat mulai mendorong perubahan politik di Kuba. Presiden Donald Trump menyebut Kuba sedang mengalami krisis serius dan membutuhkan perubahan untuk keluar dari tekanan ekonomi yang berkepanjangan.
Beberapa politisi Partai Republik di AS juga menyerukan opsi penindakan lebih keras terhadap Kuba. Namun, sejumlah analis menilai langkah agresif seperti operasi penangkapan akan sangat berisiko dan dapat memicu ketegangan besar di kawasan Amerika Latin.
Meski Raul Castro telah menyerahkan jabatan presiden kepada Miguel Diaz-Canel pada 2018 dan melepas posisi Sekretaris Partai Komunis pada 2021, sejumlah analis meyakini ia masih memiliki pengaruh penting dalam struktur politik dan militer Kuba.
Selama menjabat presiden pada 2008-2018, Raul Castro sempat melakukan reformasi ekonomi terbatas, termasuk membuka ruang usaha kecil swasta dan melonggarkan sejumlah pembatasan ekonomi. Ia juga menjadi tokoh penting dalam normalisasi hubungan diplomatik Kuba dan Amerika Serikat pada era Presiden Barack Obama.
Namun, hubungan kedua negara kembali memburuk setelah Donald Trump memperketat embargo ekonomi terhadap Kuba. Ketegangan tersebut kini meningkat lagi setelah AS Dakwa Raul Castro atas kasus pembunuhan dan penghancuran pesawat sipil.
Kasus ini diperkirakan akan terus menjadi perhatian internasional karena menyangkut sejarah panjang konflik Kuba-Amerika Serikat, stabilitas politik kawasan Amerika Latin, serta masa depan pemerintahan komunis di Havana.