Erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi paparan abu vulkanik.
Paparan abu vulkanik tidak hanya dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga berisiko menimbulkan gangguan pada kesehatan.
Abu vulkanik sendiri merupakan material berupa partikel batuan dan mineral yang sangat halus. Ketika terbawa angin dan masuk ke udara, partikel tersebut dapat terhirup, menempel pada kulit, serta masuk ke mata.
Jika terhirup, partikel tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa gatal, hidung berair, hingga sesak, terutama pada orang yang memiliki gangguan pernapasan.
Selain berdampak terhadap kesehatan, abu vulkanik juga dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu berbagai kegiatan di luar ruangan.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengetahui cara melindungi diri dari abu vulkanik.
Lantas, bagaimana cara lindungi diri dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau? Berikut di bawah ini informasi lengkapnya.
Cara Lindungi Diri dari Paparan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Berikut ini beberapa tindakan dapat dilakukan masyarakat untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik selama aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.
Cara Lindungi Diri dari Paparan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/wsj.)
1. Kurangi Paparan Abu Vulkanik
Cara paling efektif untuk menghindari paparan abu vulkanik adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak sebaiknya berlindung di tempat yang tidak terkena abu, terutama di dalam bangunan.
Hal ini semakin penting bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi, seperti anak-anak dan balita, lanjut usia, serta orang dengan gangguan pernapasan dan penyakit kardiovaskular.
Jika berada di dalam rumah, usahakan suhu ruangan tidak terlalu panas. Apabila kondisi ruangan menjadi terlalu panas, pertimbangkan untuk mencari tempat perlindungan lain yang lebih aman.
2. Tutup Pintu, Jendela, dan Ventilasi
Bila sebaran abu semakin banyak, tutup pintu dan jendela selama hujan abu berlangsung. Jika memungkinkan, tutup pula ventilasi, serta celah yang memungkinkan udara dari luar masuk.
Celah tersebut dapat ditutup menggunakan selotip, terpal plastik, atau gulungan handuk. Masyarakat juga disarankan menggunakan satu pintu sebagai akses keluar-masuk bangunan.
Pakaian dan sepatu yang terkena abu sebaiknya ditinggalkan di luar sebelum masuk ke ruangan yang bersih.
Jika bagian dalam rumah sudah terkena abu, bersihkan menggunakan kain lembap. Hindari penggunaan penyedot debu karena alat tersebut dapat membuat partikel abu halus kembali beterbangan di dalam ruangan.
3. Gunakan Masker Saat Terpapar Abu
Masker diperlukan ketika berada di luar ruangan dan terdapat abu di udara. Pelindung pernapasan juga sebaiknya digunakan ketika membersihkan abu yang mengendap di dalam maupun luar ruangan.
Jenis pelindung pernapasan yang paling efektif untuk orang dewasa adalah masker yang sesuai dengan bentuk wajah dan memiliki sertifikasi industri, seperti N95.
4. Masker Bedah Bisa Menjadi Pilihan
Selain masker respirator seperti N95, masker bedah juga dapat membantu menyaring abu apabila dipasang dengan rapat pada wajah.
Namun, masker bedah tidak memberikan perlindungan yang sama jika terdapat celah antara masker dan wajah.
Karena itu, pemasangan masker menjadi hal penting untuk mengurangi masuknya partikel abu.
Bagi penderita gangguan pernapasan atau penyakit kardiovaskular, penggunaan masker dengan efektivitas tinggi sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan petugas kesehatan. Pasalnya, masker yang ketat dapat membuat pernapasan terasa lebih sulit.
Masker juga tidak dianjurkan digunakan ketika tidur karena dapat bergeser, tidak terpasang dengan baik, dan berpotensi menghambat pernapasan.
5. Lindungi Mata
Abu vulkanik dapat menyebabkan mata terasa perih, merah, berair, atau mengalami iritasi. Karena itu, masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan kacamata pelindung atau goggles.
Hindari menggunakan lensa kontak ketika berada di tengah paparan abu karena partikel abu dapat terperangkap di antara lensa dan permukaan mata. Jika mata terkena abu, jangan menggosoknya. Segera bilas menggunakan air bersih secara perlahan.
Cara Lindungi Diri dari Paparan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/agr)
6. Gunakan Pakaian yang Menutup Tubuh
Pakaian berlengan panjang, celana panjang, serta alas kaki yang menutup kaki dapat digunakan ketika harus keluar rumah. Perlindungan tersebut membantu mengurangi kontak langsung antara abu vulkanik dan kulit.
Setelah kembali ke dalam rumah, pakaian yang terkena abu sebaiknya dilepas dan tubuh dibersihkan. Langkah tersebut dilakukan agar partikel abu tidak ikut terbawa dan menyebar di dalam rumah.
7. Bersihkan Abu dengan Hati-hati
Abu yang sudah mengendap tetap dapat kembali beterbangan akibat angin, kendaraan, maupun aktivitas manusia. Karena itu, masyarakat tetap perlu menggunakan masker saat membersihkan endapan abu.
Sebelum dibersihkan, abu sebaiknya dibasahi terlebih dahulu menggunakan air agar tidak mudah beterbangan. Gunakan perlindungan pernapasan selama proses pembersihan.
Masyarakat juga perlu memperhatikan kebersihan air. Jika terdapat abu di dalam sumber air, biarkan abu mengendap terlebih dahulu dan gunakan air yang bersih serta tidak keruh.
8. Hindari Menyapu Abu dalam Keadaan Kering
Abu vulkanik yang menumpuk di halaman, teras, kendaraan, maupun permukaan lainnya tidak disarankan langsung disapu dalam keadaan kering.
Menyapu abu kering dapat membuat partikel kembali beterbangan sehingga meningkatkan kemungkinan terhirup. Abu sebaiknya dibasahi terlebih dahulu menggunakan air sebelum dibersihkan.
Namun, penggunaan air pada atap perlu dilakukan secara hati-hati. Timbunan abu yang basah dapat menjadi jauh lebih berat dan berpotensi menambah beban pada struktur bangunan.
9. Bersihkan Kendaraan dengan Hati-hati
Abu vulkanik yang menempel pada kendaraan sebaiknya tidak langsung digosok. Partikel abu yang masih berada di permukaan dapat menyebabkan goresan ketika bergesekan dengan bodi kendaraan.
Gunakan air untuk membilas abu terlebih dahulu. Setelah sebagian besar abu terangkat, permukaan kendaraan dapat dibersihkan dengan lebih hati-hati.
10. Ikuti Informasi Resmi
Masyarakat juga perlu memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui informasi dan rekomendasi dari otoritas terkait. Informasi dari Badan Geologi dan pemerintah daerah dapat menjadi rujukan dalam menentukan langkah keselamatan.
Warga juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama mengenai arah pergerakan abu, status aktivitas gunung, maupun potensi bahaya lainnya.
Demikian informasi lengkap mengenai sepuluh cara lindungi diri dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang penting diketahui.