Di balik perdebatan angka dan target emisi makro global, krisis iklim sesungguhnya membawa dampak yang sangat nyata dan destruktif bagi anak-anak serta komunitas marginal di akar rumput. Berbagai bencana seperti banjir bandang, kabut asap, hingga penurunan kualitas lingkungan secara langsung mengancam stabilitas ekonomi keluarga dan ruang hidup mereka.
Berdasarkan bahasan buku Gaung Kemitraan serta riset kolaboratif antara PUSKAPA (Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak) Universitas Indonesia dan ANU (Australian National University), terungkap sebuah ironi sosial yang mendalam: meskipun kelompok muda ini sangat peka dan mampu mengenali perubahan lingkungan di sekitar mereka, suara dan perspektif mereka kerap terabaikan dalam perumusan kebijakan akibat adanya kecenderungan yang memandang krisis iklim ini sebagai fenomena alam yang "terjadi begitu saja."
Guna memutus rantai ketidakberdayaan tersebut, sektor pendidikan kini didorong untuk menjadi pilar utama dalam membangun ketahanan iklim yang inklusif dan transformatif sejak dini. Melalui pendidikan, pemahaman anak-anak mengenai krisis iklim dapat diarahkan dari sekadar kepasrahan menjadi sebuah kesadaran kritis yang mendorong aksi nyata.
Urgensi inilah yang dikupas tuntas dalam episode terbaru Green Talks by Katadata Green, dengan menghadirkan Widi Laras Sari selaku Head of Research PUSKAPA UI, serta dipandu oleh Romora Edward Sitorus selaku Policy Advisor ADB sebagai host. Tayangan lengkap diskusi edukatif ini dapat Anda saksikan secara visual melalui kanal YouTube dan Spotify Katadata Indonesia. Mari bersama-sama menyuarakan isu ini demi masa depan generasi yang lebih tangguh dan berkeadilan iklim.